Menziarahi Jejak Tauhid KH Ahmad Dahlan: Refleksi Spirit Dakwah dan Kebermaknaan Hidup
SEMARANG[Berlianmedia] –
Di sela kegiatan Capacity Building Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Semarang, rombongan dosen dan pimpinan menyempatkan diri menapaki jejak spiritual ke makam pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, di Yogyakarta.
Rombongan yang dipimpin oleh Dr. KH. Abah Hardiwinoto, KH. Sriyono, S.Ag., M.Ag., Dr. KH. KRAT. AM Jumai, SE., MM., M. Ridwan, SE., Akt., M.Si., dan Eddy Suyanto (KOKAM) ini terdiri dari para dosen dari berbagai program studi — Manajemen, Akuntansi, dan lainnya.
Meski agenda kegiatan FEB sangat padat, mereka tetap meluangkan waktu untuk berziarah, merenungi jejak perjuangan sang pelopor pembaruan Islam di Indonesia.
Ziarah ke makam KH Ahmad Dahlan bukan sekadar ritual, tetapi perjalanan batin untuk menyelami nilai-nilai perjuangan dan tauhid yang beliau wariskan.
Di antara nisan para tokoh Muhammadiyah — KH Ibrahim, KH Badawi, dan pejuang lainnya para peziarah dari FEB Unimus menyadari bahwa di balik gerak dakwah Muhammadiyah terdapat ruh spiritual yang kokoh: keikhlasan, keberanian berpikir maju, dan komitmen terhadap amar ma’ruf nahi munkar.
Dalam pandangan Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah, ziarah ke makam diperbolehkan selama tidak disertai perilaku yang bertentangan dengan akidah tauhid, seperti meminta-minta atau mengagungkan kubur.
Ziarah justru menjadi ajang tazakkur (mengingat kematian) dan tadabbur (merenungi makna hidup), sebagaimana sabda Rasulullah : “Kuntu nahaitukum ‘an ziyarati al-qubur, fazuruha fa innaha tuzakkirul maut.”
“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur, kini berziarahlah, karena ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada kematian.”
(HR. Muslim )
KH Ahmad Dahlan bukan sekadar pendiri organisasi, melainkan penggerak kesadaran tauhid yang hidup dan membumi.
Bagi beliau, tauhidItulah sebabnya Muhammadiyah tidak hanya disebut organisasi kemasyarakatan, melainkan juga gerakan dakwah dan tauhid.
Gerakan ini mengandung tiga unsur yang saling menguatkan:
- Spiritual – menghidupkan kesadaran bahwa setiap amal adalah ibadah.
- Kultural – memelihara nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan keindonesiaan.
- Struktural – membangun sistem organisasi yang tertib, modern, dan berkemajuan.
Ziarah ini memberikan pesan yang dalam bagi generasi muda dan kader Muhammadiyah:
jangan pernah lelah melanjutkan perjuangan KH Ahmad Dahlan.
Perjuangan itu kini tidak lagi melawan penjajahan fisik atau kebodohan struktural, tetapi melawan kemalasan berpikir, hedonisme, dan apatisme terhadap dakwah sosial.
Kader Muhammadiyah harus menjadi insan yang berilmu, terbuka, dan ikhlas beramal.
Sebagaimana pesan KH Ahmad Dahlan yang abadi:“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Ziarah ke makam KH Ahmad Dahlan bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari kesadaran baru:
bahwa dakwah dan perjuangan tauhid harus terus hidup dalam diri setiap kader Muhammadiyah, di mana pun mereka berada.
Dari pusara sederhana di Kauman, Yogyakarta, terpancar pesan yang abadi:
bahwa amal yang dilandasi tauhid tidak pernah mati ia akan terus berdenyut dalam setiap gerak kebajikan yang menghidupkan umat dan bangsa.


