Menantikan Jagoan Megawati
Oleh: Gunawan Witjaksana
Pemilu raya, khususnya pemilihan pasangan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres-Pilwapres) masih cukup lama. Namun nuansa ke arah perhelatan politik akbar itu, utamanya di media sosial (medsos), sudah semakin memanas.
Dideklarasikannya Anis Baswedan oleh partai Nasdem yang selanjutnya masih didiskusikan oleh calon parpol koalisinya terkesan masih cukup alot.
Demikian pula, masuknya Ridwan Kamil ke Partai Golkar, serta mulai intensnya kembali koalisi Gerindra – PKB, tentu makin membuat dinamika di dunia maya makin riuh.
Berbagai pemikiran konstruktivis ala Pieter L Berger, makin mencuat di dunia maya. Masing- masing tentu saling mengunggulkan jagoannya, tentu dengan justifikasi argumen menurut konstruksi berfikirnya masing- masing. Seperti iklan kecap no.1 itulah yang mereka gambarkan pada para jagoannya.
Kasak kusuk saling melemahkan, saling menjatuhkan yang bahkan ada yang terkesan mengabaikan etika komunikasi politik pun mereka masing- masing dilakukan.
Namun, seramai apa pun dunia maya, tampaknya masing kurang gegap gempita, karena yang ditunggu- tunggu, jagoan PDIP tidak segera diumumkan.
Beberapa kali tertiup kabar bakal ada kejutan termasuk saat HUT PDIP, ternyata belum kesampaian.
PDIP satu- satunya parpol yang bisa mengusung calonnya tanpa harus berkoalisi, ternyata masih rapat menyimpan amunisinya.
Ada yang menyayangkan, namun tidak sedikit pula yang justru memuji sikap Megawati sebagai pemegang amanah konggres. Bagi yang menyayangkan jelas takut kalau elektabilitas jagoannya tersalib.
Namun, bagi yang memuji, justru sikap Megawati ini bagus, selain mengurangi kehebohan di mededia sososial (medsos) yang membingungkan masyarakat, Mega justru punya waktu yang cukup untuk seperti pengalaman sebelumnya akhirnya memilih jagoan sesuai harapan masyarakat, sehingga mampu memenangkan kompetisi.
Pertanyaannya, pertimbangan apa kira- kira yang digunakan Megawati, serta bagaimana sebaiknya masyarakat calon pemilih menyikapinya?
Propaganda dan Perang Urat Syaraf
Dalam ilmu komunikasi dikenal metode propaganda dan Perang Urat Syaraf (propaganda dan pus), sebagai salah satu teknik memenangkan jagoannya.
Terkait dengan ini, bukanlah hal yang tidak mungkin bahwa membuat Puan Maharani di atas angin dan Ganjar Pranowo seolah dicuekin, justru terkait dengan teknik atau metode tersebut.
Melalui cara itu, PDIP, khususnya Megawati ingin memastikan siapa sebenarnya lawan kompetisinya nanti, termasuk melihat lebih seksama, sebenarnya siapa yang lebih dikehendaki calon pemilih terkait dengan jagoan Megawati.
Di dalam sistem Pemilu langsung one man one vote, seperti yang berlaku saat ini, tentu sangat diperlukan kecermatan serta kehati- hatian, tanpa harus mengabaikan keinginan aktual para calon pemilih.
Partai politik sebesar PDIP yang saat ini berkuasa tentu berharap jagoannya akan menang, sehingga keinginan untuk makin memajukan NKRI sesuai amanat para pendiri bangsa sedapat mungkin bisa dicapai.
Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Joko Widodo (Jokowi) yang tercermin dalam berbagai survei, bahkan berbagai penghargaan internasional, tentu juga menjadi perhatian serius.
Terkait dengan itu, maka kehati-hatian harus dilakukan, hingga saatnya nanti pilihan itu akhirnya dijatuhkan.
Masa Depan NKRI
Yang perlu menjadi pertimbangan, utamanya oleh masyarakat calon pemilih, adalah jangan sampai pengalaman pahit penggunaan politik identitas yang memecah belah dilakukan.
Pemilu harus benar- benar menjadi pesta demokrasi yang menggembirakan.
Model tradisional paternalistik sudah sangat tidak cocok saat ini.
Masyarakat yang makin cerdas pun akan dengan mudahnya mencari jejak digital dari para calon yang akhirnya berlaga.
Kita tentu ingat prinsip bahwa kinerja bergaung lebih nyaring dibanding wacana.
Karena itu, kemajuan teknologi informasi saat ini, hampir tidak mungkin lagi menyampaikan pembenaran( justifikasi), karena jejak digitalnya menunjukkan kapasitas dan kapabilitas jagoan yang berlaga.
Karena itu, bagi masyarakat calon pemilih, kita nikmati saja kehebohan komunikasi politik di dunia maya saat ini, hingga saatnya nanti kita menentukan pilihan.
Bahasa iklan teliti sebelum membeli sebaiknya kita gunakan, sehingga bertabayun dengan mereka yang cerdas sekaligus mencermati isi media yang pro publik sangatlah penting.
Melalui cara itulah diharapkan akan jatuh pada pilihan yang tepat, dan NKRI akan benar- benar menjadi lima besar negara hebat di dunia seperti yang mulai banyak diprediksikan.
(Drs. Gunawan Witjaksana MSi Dosen Tetap Ilmu Komunikasi USM dan Dosen Ilmu Komunikasi Udinus)


