Mayoritas Bukan Tolak Ukur Kebenaran
SEMARANG [Berlianmedia] – Hidup di tengah arus besar masyarakat seringkali membuat manusia terbawa derasnya gelombang opini. Banyak orang mengira bahwa suara terbanyak adalah kebenaran, padahal dalam pandangan Islam, kebenaran tidak pernah diukur dari kuantitas pengikut. Kebenaran hanya ditentukan oleh dalil yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Keberanian berjalan di jalan yang sepi, jika sesuai ridha Allah, itulah hakikat kemenangan.
Sejak dulu, Allah sudah mengingatkan bahwa mayoritas manusia tidak selalu berada di atas kebenaran. Al-Qur’an menggambarkan betapa seringnya manusia cenderung mengikuti nafsu, bisikan syaitan, atau sekadar ikut-ikutan tanpa ilmu. Dalam surah Al-An‘am ayat 116, Allah berfirman:
﴿وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka hanyalah berdusta.” (QS. Al-An‘am: 116)
Ayat ini menegaskan bahwa mengikuti mayoritas tanpa ilmu bisa membawa pada kesesatan. Kebanyakan manusia hanya menuruti prasangka, bukan kebenaran yang hakiki. Maka seorang muslim diajarkan untuk tidak silau dengan jumlah, melainkan teguh berpegang pada hujjah.
Rasulullah ﷺ juga telah mengingatkan bahwa di akhir zaman, umat Islam akan terjebak pada kondisi seperti buih di lautan. Banyak secara jumlah, namun lemah dalam pengaruh, rapuh dalam keyakinan, dan mudah dikendalikan. Beliau bersabda:
«يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ»
“Hampir saja umat-umat lain saling memanggil untuk menyerang kalian sebagaimana orang-orang yang memanggil teman-temannya untuk berebut makanan di nampan. Ada yang bertanya, ‘Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?’ Beliau menjawab, ‘Tidak, bahkan kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan.’” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menyentuh hati kita. Jumlah besar ternyata tidak menjamin kekuatan jika tidak disertai kualitas iman dan keberanian memegang kebenaran. Mayoritas bisa menjadi jebakan jika kita hanya mengandalkan angka tanpa menimbang dengan dalil.
Sejarah pun memberi pelajaran. Ketika Nabi Nuh ‘alaihis salam berdakwah ratusan tahun, yang beriman kepadanya hanyalah segelintir orang. Allah berfirman dalam surah Hud ayat 40:
﴿وَمَا آمَنَ مَعَهُ إِلَّا قَلِيلٌ﴾
“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit orang.” (QS. Hud: 40)
Bayangkan, seorang nabi yang mulia, dengan dakwah yang panjang dan penuh kesabaran, hanya diikuti oleh sedikit pengikut. Apakah itu berarti Nabi Nuh salah? Tentu tidak. Justru kebenaran tetap di pihak beliau, meskipun jumlah pengikutnya sedikit.
Hal yang sama terjadi pada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Beliau berdiri sendirian melawan kaumnya yang penuh dengan penyembah berhala. Dalam riwayat disebutkan bahwa Ibrahim disebut sebagai “umat yang tunduk kepada Allah” meskipun ia hanya seorang diri. Allah berfirman:
﴿إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat yang tunduk kepada Allah lagi hanif, dan sekali-kali dia tidak termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (QS. An-Nahl: 120)
Dari ayat ini kita belajar bahwa seorang diri bisa bernilai seperti sebuah umat, jika ia teguh dalam kebenaran. Maka tidak ada alasan untuk minder atau takut ketika harus berjalan di jalan yang sepi.
Kita juga perlu menyadari bahwa mayoritas sering kali hanyalah gambaran kecenderungan duniawi. Apa yang populer di masyarakat belum tentu benar. Rasulullah ﷺ mengingatkan:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan darinya, maka perkara itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kebenaran diukur dari kesesuaian dengan syariat, bukan dari banyaknya pengikut. Inovasi tanpa dasar dalil, meski didukung mayoritas, tetap tertolak.
Di era media sosial sekarang, tren mayoritas begitu menggoda. Sering kali kita merasa aman jika berada dalam kelompok yang banyak, seakan-akan jumlahlah yang menentukan benar dan salah. Padahal Al-Qur’an telah memperingatkan bahwa mayoritas manusia justru lalai dari kebenaran. Allah berfirman:
﴿وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ﴾
“Dan sebagian besar manusia, walaupun kamu sangat menginginkannya, tidak akan beriman.” (QS. Yusuf: 103)
Inilah realitas yang harus kita hadapi dengan hati yang tegar. Jalan menuju kebenaran memang tidak selalu ramai. Kadang sepi, kadang penuh ejekan, kadang membuat kita merasa terasing. Namun Rasulullah ﷺ sudah memberikan kabar gembira bagi mereka yang tetap teguh meski terasing. Beliau bersabda:
«بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim)
Hadis ini memberi motivasi besar. Terasing dalam kebenaran jauh lebih mulia daripada ramai dalam kesesatan. Kesepian di jalan yang lurus lebih berharga daripada kebersamaan di jalan yang bengkok.
Maka tugas kita adalah berani menimbang setiap langkah dengan ilmu. Bukan sekadar mengikuti suara mayoritas, melainkan mengukur apakah jalan itu diridhai Allah. Menjadi minoritas bukanlah aib jika bersama kebenaran. Sebaliknya, menjadi mayoritas bukanlah kemuliaan jika justru jauh dari petunjuk.
Kebenaran itu tunggal, tidak berlipat ganda. Ia berdiri kokoh meski manusia berpaling darinya. Tugas kita adalah mencari dan mengikutinya, meski harus menempuh jalan yang sepi. Sebab, pada akhirnya, di hadapan Allah, kita tidak ditanya: “Bersama siapa kamu?” melainkan: “Apakah kamu di atas kebenaran?”


