Mahasiswa USM Gandeng Pelajar SD PL Tarcisius Gelar Simfoni Angklung
SEMARANG [Berliamedia] – Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki beragam kebudayaan. salah satunya kesenian tradisional Angklung yang berasal dari Sunda, Jawa Barat.
Dalam upaya melestarikan budaya dan alat musik tradisional angklung, 6 mahasiswa Universitas Semarang (USM) jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi bekerja sama dengan SD Pangudi Luhur Tarcisius Semarang, mengadakan kampanye bertajuk “Simfoni Angklung.” Acara ini digelar pada Car Free Day di Lapangan Simpang lima Semarang, Minggu (9/6).
Pertunjukan Simponi Angklung menarik perhatian warga masyarakat yang sedang melakukan aktifitas di area lapangan simpang lima Semarang. Kampanye “Simfoni Angklung” bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan angklung, sebuah alat musik tradisional Indonesia yang diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Para pelajar SD PL Tarsisius bersama beberapa guru berperan sebagai instruktur, sambil mengajarkan masyarakat bagaimana cara bermain angklung dengan baik dan benar.
Melalui pendekatan yang interaktif dan edukatif, peserta diajak untuk memahami teknik dasar bermain angklung serta menikmati keindahan melodi yang dihasilkan.
Kepala SD PL Tarcisius, Martinus Dalyanta menuturkan, “Kami sangat mengapresiasi serta mendukung kegiatan positif seperti ini. Dimana tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat rasa cinta terhadap warisan budaya Indonesia khususnya di bidang musik tradisional.
“Kolaborasi adik adik mahasiswa USM dengan SD PL Tarsisius menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari pendidikan dasar,” ucapnya
Dengan melestarikan seni dan budaya tradisional akan sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Memberi tahu generasi muda bahwa angklung adalah bagian dari warisan budaya yang harus dilindungi dan dilestarikan,” ujar Martinus.
Selain itu dapat membantu masyarakat lebih memahami dan menghargai alat musik tradisional Indonesia.
“Melalui pelestarian angklung, yang merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang signifikan, identitas dan kekayaan budaya bangsa yang terjaga,” tuturnya
Menurut Martinus ,dengan kegiatanini setidaknya kita menjaga identitas budaya dan sejarah bangsa Indonesia yang kaya.
Dapat dipastikan bahwa nilai-nilai dan cerita yang terkandung dalam seni angklung tetap hidup dan terus diceritakan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Dengan suksesnya acara ini,lanjut Martinus diharapkan akan lebih banyak lagi kegiatan serupa yang diadakan di berbagai daerah, sehingga mengajak masyarakat untuk melestarikan budaya tradisional Indonesia.
Simfoni Angklung di Car Free Day (CFD) Simpang Lima kota Semarang ini tidak hanya sekedar hiburan, namun juga merupakan langkah nyata dalam melestarikan warisan budaya,”pungkasnya.


