Guyub di Angkringan
SEMARANG[Berlianmedia] – Di sebuah sudut kota kecil, di bawah lampu temaram dan diiringi alunan suara jangkrik malam, sebuah angkringan kopi menjadi tempat berkumpulnya banyak orang. Malam itu, suasana di angkringan begitu hangat. Empat orang lelaki duduk melingkar di bangku kayu yang menghadap ke gerobak angkringan, menikmati kopi hitam, teh hangat, dan sepiring gorengan.
Totok, seorang lelaki berusia enampuluh dua tahun dengan kemeja lusuh tapi rapi, memulai pembicaraan setelah menyeruput kopi hitamnya. “Menurut saya, kita sebagai warga negara punya kewajiban untuk menyampaikan aspirasi. Entah itu kritik, usul, atau sekadar saran. Ini bagian dari demokrasi, kan?”
Ia memandang tiga temannya: Ahmad, Kusnandar, dan Bandi, yang masing-masing sibuk dengan segelas minuman hangat mereka. Totok melanjutkan dengan semangat, “Kalau kita diam saja, kebijakan yang salah bisa terus terjadi. Ketidakadilan bisa tumbuh tanpa koreksi. Jadi, menjaga akhlak itu penting, tapi kita juga harus peduli terhadap negara.”
Ahmad, lelaki bertubuh subur dengan logat khasnya, tertawa kecil. “Yo, monggo, Kang Totok. Kalau sampeyan punya waktu dan ruang untuk menyampaikan aspirasi, ya silakan. Kami ini rakyat kecil. Kalau ada orang seperti sampeyan yang mau menyampaikan suara rakyat demi kepentingan bersama, ya alhamdulillah.”
Kusnandar, yang duduk bersila di bangku, menggeleng pelan sambil tersenyum. “Tapi, yo ojo maksa, Kang. Nek ora mampu, malah penjara sing didapat.” Ia tertawa kecil, diikuti teman-temannya. “Aku mah los dol, Kang. Gusti Allah SWT lan Rasulullah SAW sing tak taati. Wong tua suwargi ya tetap tak hormati. Negara? Cukup tak jalani sesuai yang aku mampu.”
Ahmad, yang sedari tadi sibuk memutar-mutar cangkir tehnya, ikut menyambung. “Kang Totok, kecerdasan mikir itu penting, terutama untuk keluarga. Aku iki cuma rakyat jelata. Jihadku yo kanggo keluargaku. Negara iki sudah ada yang mikir. Kita mah penting kerja keras, sehat terus, dan rejeki mengalir buat keluarga. Kalau ada makan gratisan, ya syukur.” Ia terkekeh, membuat yang lain ikut tertawa.
Namun, di balik candaannya, Bandi yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. “Tapi, Kang Ahmad, jangan lupa, keluarga itu pondasi negara. Kalau keluargamu baik, keluargaku baik, dan keluarga-keluarga lainnya baik, negara ini juga akan baik. Sekalipun pemimpinnya, maaf, seperti monyet, negara tetap bisa berjalan. Tapi harapan kita ya pemimpin itu harus cerdas, berpendidikan, dan mendekati sifat Rasulullah SAW. Sidiq, amanah, tablig, lan fatonah.”
Semua terdiam sejenak, menikmati kalimat yang baru saja keluar dari mulut Bandi. Angkringan yang awalnya riuh menjadi hening. Namun, Kusnandar, dengan gaya santainya, mengangkat gelas tehnya. “Yo, Kang, aku setuju. Tapi jangan lupa, kita ini rakyat biasa. Bangun negara sekadarnya saja. Yang penting itu ngumpul seperti ini, guyub rukun. Nanti kalau ada waktu, reuni bareng lagi, jajan bareng.”
“Reuni terus, makan-makan terus. Tapi Kang Totok tadi ngomong ada benarnya, lho,” sahut Ahmad sambil menggigit tempe mendoan. “Cuma kita ini ya realistis saja. Nggak semua orang bisa jadi seperti sampeyan, Kang Totok, yang semangat banget soal negara. Wong mikir keluarga aja kadang udah bikin pusing.”
Totok tersenyum mendengar itu. “Memang nggak semua orang harus terjun langsung, Kang. Tapi, minimal kita jangan apatis. Apalagi sekarang, banyak kebijakan yang nggak pro rakyat kecil. Kalau nggak kita yang bersuara, siapa lagi?”
Ahmad mengangguk-angguk. “Yo, bener, Kang. Tapi kalau mikir kayak sampeyan terus, bisa-bisa nggak tidur. Aku ini, mending mikir gimana caranya esok pagi bisa kerja lancar, anak-anak bisa sekolah, dan istri nggak bingung mikir belanja. Itu sudah cukup bikin kepala penuh.”
“Kalau semua rakyat cuma mikir begitu, kapan kita maju?” tanya Totok, tersenyum penuh arti.
Bandi menepuk bahu Totok. “Tapi, Kang, yang dibilang Ahmad itu nggak salah. Rakyat kecil ini kan fondasi. Kalau fondasi nggak kuat, rumah nggak bakal berdiri kokoh. Jadi, apa yang dilakukan Ahmad juga bagian dari membangun negara. Kita harus saling melengkapi.”
Kusnandar menyela sambil tertawa. “Lha ini dia. Ngomong-ngomong soal fondasi, aku tadi lihat warung sebelah jual gorengan lebih enak. Piye, kita pindah lokasi sekalian nyobain?”
Tawa mereka pecah lagi. Perdebatan serius soal negara mendadak berubah menjadi rencana mencicipi gorengan warung sebelah. Namun, di antara canda dan tawa itu, satu hal yang jelas: mereka semua peduli. Peduli dengan caranya masing-masing.
Angkringan itu tetap menjadi saksi obrolan hangat mereka, tempat berbagi pandangan dengan suasana guyub rukun. Bagi mereka, kopi dan teh yang diseruput malam ini bukan hanya sekadar minuman, tapi jembatan untuk menyatukan perbedaan. (Dwi Taufan Hidayat)


