Cerpen: Jejak Sunyi di Balik Senyuman
SEMARANG [Berlianmedia] – Hubungan Arman dan Dira yang sudah dua puluh tiga tahun berjalan selalu tampak hangat di mata siapa pun. Banyak yang mengira mereka tak pernah memiliki masalah berarti, seolah cinta mereka kebal terhadap usia. Namun pada suatu sore yang tampak biasa, Arman menemukan sesuatu yang membuatnya tak lagi yakin apakah ia benar-benar mengenal perempuan yang tidur di sampingnya setiap malam.
Arman berdiri terpaku di dekat meja kerjanya. Di atas permukaannya yang berdebu, tergeletak sebuah buku kecil bersampul biru laut. Jurnal Dira. Benda yang seharusnya disimpan rapat di dalam laci. Benda yang tidak pernah disentuhnya selama dua dekade lebih pernikahan. Benda yang tiba-tiba berada di luar tempatnya, seperti sengaja ditinggalkan atau seperti memanggil untuk ditemukan.
Ia tidak langsung menyentuhnya. Hatinya menolak. Tapi jemarinya bergerak sendiri. Saat halaman pertama terbuka, suara halus kertas seperti menjawab pertanyaan yang bahkan belum ia ucapkan.
Beberapa jam sebelumnya, hari mereka dimulai dengan kehangatan sederhana. Aroma kopi mengisi dapur. Sinar matahari pagi membentuk garis lembut di wajah Dira. Namun ada sesuatu yang berbeda. Senyumnya tampak lebih tipis, seperti senyum yang sedang menutupi sesuatu.
“Kamu kelihatan capek, Dir,” ujar Arman sambil menatap mata istrinya.
“Cuma kurang tidur,” jawab Dira, cepat sekali, hampir terlalu cepat.
Ia membelai bahu Arman, seperti biasa. Tapi gerakan itu terasa sedikit ragu, sedikit lebih lama, sedikit seperti perpisahan yang terlalu dini. Arman menepis firasat itu. Ia menganggapnya hanya kelelahan.
Siang hari, saat membereskan ruang kerja, ia menemukan hal yang akhirnya membuka semua pintu kekhawatirannya.
Jurnal biru laut.
Ia membaca tulisan-tulisan itu perlahan. Baris demi baris mengalir seperti bisikan yang tidak pernah ia dengar langsung dari mulut Dira.
Aku sering merasakan nyeri di bagian kiri kepala. Tidak seperti biasanya. Ada rasa takut yang tidak bisa kujelaskan pada Arman.
Hari ini dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan. Aku ingin bercerita, tapi aku tidak mau membuat Arman khawatir. Mungkin aku hanya melebihkan segalanya. Tapi bayangan buruk itu kadang muncul pada malam hari ketika Arman sudah tidur.
Arman berhenti membaca. Ruang kerja terasa semakin sempit. Sejak kapan istrinya menahan semua ini? Selama ini ia bangga pada kebiasaan kecil yang mereka rawat. Ngobrol sepuluh menit sebelum tidur. Tertawa bersama. Sentuhan dan sapaan kecil. Rupanya ada jarak yang bertahun-tahun tidak ia lihat.
Ia membuka halaman berikutnya. Tulisan Dira berubah lebih pendek, lebih tegang.
Aku takut hasilnya buruk. Tapi aku lebih takut membayangkan wajah Arman kalau tahu.
Dan halaman itu adalah halaman terakhir. Tidak ada lanjutan. Tidak ada penutup. Tidak ada tanggal pemeriksaan yang disebutkan akan dilakukan minggu depan. Tidak ada kepastian apa pun.
Malam itu, ketika Dira pulang, Arman tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia memeluk Dira lebih erat dari biasanya. Dan untuk pertama kalinya, Dira memeluknya balik dengan sedikit gemetar.
“Ada apa, Man?” tanya Dira. Senyumnya terasa dibuat.
“Kamu sakit apa?” suara Arman pecah tanpa ia kendalikan.
Dira terdiam. Mata mereka bertemu. Dalam tatapan itu, Arman melihat sesuatu yang ia tidak tahu harus ia sebut sebagai ketakutan atau kebohongan.
“Kamu baca jurnalku?” tanya Dira pelan.
Arman menelan ludah. “Iya. Maaf. Tapi aku khawatir sekali.”
Dira duduk pelan, menyandarkan punggung pada sofa. Lalu ia tersenyum tipis, senyum yang bahkan lebih aneh daripada senyum pagi tadi.
“Aku sudah periksa ulang, Man. Dokter bilang aku cuma kecapekan. Tidak ada apa apa.”
Arman ingin lega. Tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam setiap kata Dira. Lebih dari sekadar rasa salah karena ia membaca jurnal itu. Ada rasa lain. Rasa seperti berada di ruangan yang sama dengan seseorang yang sedang menutupi kenyataan.
“Kapan kamu periksa ulang?” tanya Arman.
“Beberapa hari lalu,” jawab Dira cepat.
Terlalu cepat.
Arman diam. Di kepalanya, halaman jurnal terakhir itu terbuka lagi.
Aku harus berani menghadapi hasil tes lanjutan minggu depan.
Tidak ada catatan setelah itu. Tidak ada bukti bahwa Dira benar benar pernah pergi ke dokter lagi.
Dan ketika Arman kembali ke ruang kerja beberapa menit kemudian untuk memastikan apa yang ia baca tidak salah, jurnal biru laut itu sudah tidak ada di atas meja. Juga tidak ada di dalam laci. Hilang tanpa jejak.
Seolah tidak pernah ada sejak awal.
Arman berdiri lama di depan laci yang terbuka. Jantungnya memukul dadanya. Mungkin ia terlalu banyak berpikir. Mungkin ia paranoid. Atau mungkin Dira hanya memindahkannya.
Atau mungkin tidak.
Dari ruang tamu, terdengar suara Dira yang ceria, terlalu ceria.
“Man. Kamu mau teh atau kopi?”
Arman tidak segera menjawab. Ia hanya mendengarkan suara istrinya yang selama ini ia kenal di luar kepala. Suara yang kini terdengar asing seperti gema dari tempat yang jauh.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun pernikahan, Arman merasakan ketakutan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bukan ketakutan kehilangan.
Tapi ketakutan bahwa sesuatu sedang terjadi pada Dira.
Sesuatu yang hanya Dira yang tahu.
Dan mungkin ia tidak akan pernah menceritakannya.


