Cerpen: Jejak Kesalahan yang Menggenangi Kota
SEMARANG [Berlianmedia] – Kota Lembar Jaya pernah hidup berdampingan dengan sungai dan pepohonan yang melindunginya. Namun ketika hutan ditebang, sampah menumpuk, dan pemimpin keliru dipilih, kota itu kehilangan pelindungnya. Banjir bukan lagi sekadar air yang meluap tetapi cermin dari kesalahan manusia yang terakumulasi. Di sinilah perjalanan seorang jurnalis dimulai dan berakhir secara tak terduga.
Hujan turun sejak dini hari, merintik di atas atap rumah seperti ketukan jari yang gelisah. Di Kota Lembar Jaya, suara hujan sudah lama menjadi isyarat bahaya. Setiap tetesnya seperti mengingatkan bahwa sungai di pinggiran kota tidak lagi mampu menahan air ketika alam merasa lelah.
Rano, seorang jurnalis muda, duduk di depan komputernya sambil menatap poster digital yang baru saja ia unggah. Pesannya sederhana namun menggelitik nurani. Penyebab banjir satu nebang pohon sembarangan dua buang sampah sembarangan tiga memilih pemimpin sembarangan. Ia menatap tulisan itu lama, seolah memeriksa apakah kalimat pendek mampu menahan beban kenyataan yang jauh lebih besar.
Pagi itu, ia berangkat lebih awal menuju wilayah bantaran sungai. Kabut tipis menggantung, dan tanah basah memunculkan aroma tanah yang hampa. Di sepanjang perjalanan, ia melewati bekas hutan yang telah berubah menjadi hamparan tanah gersang. Pohon pohon hilang, digantikan papan proyek yang menjanjikan masa depan yang belum pernah terlihat wujudnya.
Saat tiba di sungai, ia menemukan Sari, relawan lingkungan yang sudah ia kenal lama. Perempuan itu sedang memunguti sampah plastik yang terapung seperti bunga bunga busuk. Wajahnya tampak letih, tetapi gerak tangannya tetap tekun.
Sungai ini tidak pernah sekotor ini kata Sari pelan.
Rano menatap air keruh yang terus bergerak tanpa arah. Seperti manusia ketika kehilangan pegangan pikirnya.
Mereka berjalan menyusuri tepian. Bau limbah menusuk hidung, dan di beberapa titik, air terlihat tidak mengalir lagi karena tertahan tumpukan sampah yang mengeras seperti tembok.
Sampai kapan begini tanya Rano.
Sari tersenyum masam. Sampai orang mengerti bahwa kulit jeruk yang mereka lempar hari ini bisa berubah menjadi banjir besok.
Rano mencatat perkataannya sambil merenung. Ingatannya melayang pada masa kecilnya ketika ayahnya pernah berkata bahwa sungai adalah nadi sebuah kota. Jika nadi itu tertutup kotoran, kota akan sakit. Ayahnya adalah petugas kebersihan sungai yang sering pulang dengan tubuh basah dan tangan penuh goresan. Nasihatnya sederhana tetapi selalu terngiang di telinga Rano hingga kini.
Sore menjelang ketika hujan kembali turun. Rintiknya lebih rapat, udara terasa lebih berat. Di beberapa rumah dekat sungai, warga mulai mengangkat benda benda, menumpuk karung pasir, dan memindahkan anak anak. Wajah wajah cemas menghiasi teras yang mulai terendam.
Rano dan Sari membantu mengevakuasi beberapa warga ke posko darurat. Lampu jalan berkedip seperti napas yang lelah. Di posko, seorang lelaki paruh baya menggerutu keras. Ia menyalahkan pemerintah, menyalahkan cuaca, menyalahkan apa saja yang tampak di depan mata.
Alam hanya menjalankan tugasnya kata Sari. Tapi kita yang abai menjalankan tugas kita.
Rano menyimpan kalimat itu baik baik, berniat memasukkannya dalam tulisannya besok. Namun malam itu ia merasa ada sesuatu yang berbeda di udara. Seperti ada yang mengawasi dari balik kegelapan. Angin yang bertiup terdengar seperti bisikan. Dan dari arah bekas hutan gundul, ia melihat bentuk gelap yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh mata. Mungkin hanya pohon tumbang atau mungkin sesuatu yang lain.
Ketika banjir mulai naik lebih cepat dari prediksi, Rano memutuskan kembali ke rumahnya untuk mengambil kamera cadangan. Air telah mencapai betis saat ia tiba. Pintu rumahnya terbuka sedikit, seperti ada yang masuk sebelumnya. Ia melangkah perlahan. Air dingin mengalir melewati lantai, membawa dedaunan kecil.
Di meja kerjanya, komputer masih menyala. Layar menunjukkan laporan yang tadi ia tulis. Namun ada satu kalimat baru muncul di bagian bawah tanpa ia mengetik apa pun.
Penyebab banjir selanjutnya empat mengabaikan tanda tanda yang diberikan alam.
Rano terpaku. Dadanya terasa mengencang. Yang lebih membuatnya merinding bukanlah kalimat itu sendiri melainkan kenyataan bahwa tidak ada siapa pun di rumah selain dirinya.
Ia mendengar suara langkah air dari arah jendela. Ketika ia menoleh, ia melihat siluet hitam berdiri di luar. Tingginya seperti batang pohon. Bentuknya samar, seperti bayangan yang tumbuh dari tanah basah. Cahaya lampu jalan hanya membuatnya terlihat semakin tebal.
Suara angin seperti menyelinap masuk ke ruangan. Suara itu tidak memiliki wujud tetapi jelas menyampaikan kata kata yang membuat rambut Rano berdiri.
Kau menulis tentang kesalahan manusia Rano. Tapi siapa yang menulis tentang aku.
Air di dalam rumah semakin naik. Rano memundurkan langkah. Bayangan itu tidak bergerak tetapi terasa mendekat.
Kalian menebangku. Kalian membakarku. Kalian membiarkan sampah membendung aliranku. Kalian memilih seseorang yang mengizinkan semua itu terjadi. Sekarang aku hanya menagih apa yang telah kalian mulakan.
Listrik padam seketika. Rumah menjadi gelap total. Namun suara itu masih terdengar tepat di belakang Rano. Napasnya terhenti.
Kali ini bukan banjir yang datang. Aku yang datang.
Keesokan paginya, warga menemukan rumah Rano kosong. Tidak ada tanda tanda perlawanan. Tidak ada jejak pergi. Hanya satu hal yang tertinggal.
Komputer di meja kerjanya masih menyala. Di layarnya, tambahan kalimat terakhir muncul semalaman entah oleh siapa.
Dan berikutnya bukan hanya kota ini.
Tak ada yang tahu ke mana Rano pergi. Namun sejak hari itu, setiap kali hujan turun dan angin membawa suara yang tidak biasa, warga Lembar Jaya merasa seperti ada sesuatu yang berjalan perlahan dari arah hutan yang telah hilang. Seolah alam sedang mencari seseorang berikutnya yang perlu diingatkan.


