Wakil Wali Kota Iswar Aminudin Berencana Angkat Semarang sebagai Kota Nasionalis Religius

SEMARANG (Berlianmedia) – Wakil Wali Kota Semarang, H. Ir. Iswar Aminudin, MT, menyampaikan rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang untuk membangun tempat percontohan dan wisata berintegrasi di Kecamatan Genuk. Tiga lokasi yang menjadi fokus pembangunan adalah Kampung Pancasila Genuksari, Makam Kyai As’ad Kudu, dan Kampung Santri Ponpes Karangroto. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat identitas Semarang sebagai kota yang nasionalis, religius, dan toleran.

Rencana tersebut diungkapkan Iswar saat memberikan sambutan dalam acara karnaval menjelang Ramadan dan Festival Budaya Kampung Santri serta Literasi di Kecamatan Genuk. Acara yang digelar oleh Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kecamatan Genuk ini berlangsung di Lapangan Bangetayu, pada Sabtu (22/2).

Dalam pidatonya, Iswar menekankan bahwa pembangunan ini bertujuan untuk menghadirkan harmoni antara nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan di tengah masyarakat. “Kami ingin menjadikan Semarang sebagai kota yang nasionalis, religius, dan toleran. Salah satu caranya adalah dengan membangun tempat-tempat yang mencerminkan nilai-nilai tersebut,” ujar Iswar.

Baca Juga:  Pemkot Semarang Kerja Sama dengan Baznas Jateng Bangun RPHH di Eks-Relokasi Pasar Johar

Menurutnya, Makam Kyai As’ad Kudu memiliki nilai sejarah yang penting bagi masyarakat Genuk. Kyai As’ad merupakan pejuang dan pendakwah yang berkontribusi dalam penyebaran Islam di daerah tersebut. Sebelum tahun 1970, wilayah Genuk masih menjadi bagian dari Kabupaten Demak sebelum akhirnya masuk ke dalam Kota Semarang.

Sementara itu, Kampung Pancasila Genuksari yang berdiri sejak tahun 2019 juga menjadi simbol nasionalisme dan toleransi di Semarang. Pendiri Kampung Pancasila, Kyai Ahmad Robani Albar, SH, MH, menyambut baik rencana Pemkot Semarang yang sejalan dengan visi Kampung Pancasila dalam membangun masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan keberagaman.

“Kampung Pancasila sejak awal memang didirikan untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, toleransi, dan kebersamaan. Langkah Pemkot Semarang ini tentu sejalan dengan semangat pemerintahan baru Agustin-Iswar untuk mewujudkan kota yang harmonis dalam keberagaman,” ungkap Kyai Robani.

Baca Juga:  Duduk Tasyahhud Hingga Dzikir

Ia juga menyinggung keberhasilan Provinsi Jawa Tengah pada era Gubernur Bibit Waluyo dalam membangun tiga destinasi wisata berbasis pluralisme, yaitu Sam Poo Kong, Masjid Agung Jawa Tengah, dan Vihara Watugong. Menurutnya, Semarang juga bisa mengembangkan konsep serupa dengan menonjolkan keberagaman yang ada di wilayahnya.

Rencana pembangunan tempat percontohan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Semarang, baik dari segi sosial maupun ekonomi. Selain menjadi pusat edukasi dan wisata religi, kawasan ini juga dapat menjadi contoh bagaimana kebersamaan dalam keberagaman dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan adanya sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat, diharapkan pembangunan ini dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh warga Semarang. Pemerintah Kota Semarang optimistis bahwa proyek ini akan memperkuat citra kota sebagai pusat toleransi dan kebhinekaan di Indonesia.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!