TGIPF Bongkar Isi CCTV Stadion Kanjuruhan

MALANG[Berlianmedia] – Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) melalui anggotanya  Nugroho Setiawan, membongkar isi CCTV di Stadion Kanjuruhan yang memperlihatkan detik-detik sebelum terjadinya Tragedi Kanjuruhan Sabtu (1/10) lalu.

Nugroho Setiawan satu-satunya orang di Indonesia yang punya lisensi FIFA Security Officer juga menambahkan, ia sudah melihat langsung isi CCTV semua terutama gate 13 yang sangat mengerikan karena para Aremania yang tertumpuk hingga meregang nyawa terekam di dalamnya.

“Tadi saya sempat melihat rekaman CCTV kejadian, khususnya di pintu 13, mengerikan sekali,” ujarnya di kanal YouTube KOMPASTV yang videonya diunggah pada Minggu (9/10).

Setelah itu, tambahnya, kondisi pintu sebenarnya terbuka, tetapi terlalu kecil. Tak hanya itu, ia menjelaskan pintu tersebut juga sebenarnya pintu masuk, bukan pintu keluar.

Baca Juga:  Semarak PRE-EVENT FORDA Jawa Tengah 2025 di Wonderia Semarang Penuh Semangat dan Sukses

“Jadi situasinya adalah pintu terbuka, tapi sangat kecil, yang itu seharusnya pintu untuk masuk, tapi terpaksa menjadi pintu keluar.” tuturnya.

Dalam rekaman CCTV itu, para penonton berebut untuk keluar karena penembakan gas air mata, sedangkan beberapa orang sudah terjatuh dan terinjak-injak.

“Situasinya adalah orang itu berebut keluar, sementara sebagian sudah jatuh, pingsan, terhimpit, terinjak karena efek dari gas air mata,” ujarnya.

Oleh karena itu, kesimpulan sementara TGIPF saat ini adalah Stadion Kanjuruhan tidak layak untuk menggelar pertandingan berisiko tinggi. “Kesimpulan sementara, stadion ini tidak layak untuk menggelar pertandingan high risk match (pertandingan berisiko tinggi). Mungkin kalau itu medium atau low risk (berisiko sedang atau rendah) masih bisa.” tuturnya.

Selain itu, Stadion Kanjuruhan juga tidak memiliki pintu darurat sehingga ke depannya struktur pintu yang berada di sana akan diperbaiki.

Baca Juga:  PT Centralpertiwi Bahari Lewat Brand Shifudo Luncurkan Produk Kemasan Baru

“Jadi sementara yang saya lihat adalah pintu masuk berfungsi sebagai pintu keluar, tapi itu tidak memadai. Kemudian tidak ada pintu darurat,” tuturnya.

Ia melanjutkan, mungkin ke depan perbaikannya adalah mengubah struktur pintu itu, kemudian juga mempertimbangkan aspek seperti anak tangga. Soal anak tangga Stadion Kanjuruhan, Nugroho menilai itu tidak ideal apalagi dalam situasi kerumunan atau kericuhan seperti saat insiden terjadi.

“Anak tangga ini kalau secara normatif dalam safety discipline ketinggian 18 senti, lebar tapak 30 senti. Ini tadi (di Stadion Kanjuruhan) antara lebar tapak dengan ketinggian sama. Rata-rata mendekati 30 senti,” jelasnya.

Kalau dengan ketinggian normal tadi 18 dan 30 senti, lanjutnya, ini kita berlari turun, berlari naik, itu tidak ada kemungkinan jatuh. Kemudian lebar dari anak tangga ini juga tidak terlalu ideal untuk kondisi crowd karena harus ada railing (pagar) untuk pegangan.

Baca Juga:  Percepat Transformasi Digital, SIG Manfaatkan Teknologi Cloud Amazon Web Services

“Nah railing ini juga sangat tidak terawat dengan desakan luar biasa akhirnya railing-nya patah dan itu juga yang termasuk melukai korban,” tandasnya. (sap)

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!