Temu Santri dan Kiyai: Menyongsong Kebangkitan Peradaban Umat
SEMARANG [Berlianmedia] – Jiwa raga adalah gulungan konsep semesta. Sejajar dengan dunia-lahirnya, akherat-batinnya. Meliputi esekutor dan konseptor (jasmani–rohani). Menegaskan anak dan orang tua, Satrio Pendetonya, kiyai dan santrinya.
Keberadaannya saling melengkapi. Antara juru ramu dan juru suguh. Saling bekerja sama untuk melayani. Menggelar kehikmatan, disajikan kepada khalayak ramai, baik manusia dan umat lainnya.
Harapannya hidangan yang ditebarkan selaras. Berbanding lurus antara suara dalam dada dengan prilaku raganya. Menjadi aneka bentuk ketauladanan sebagai pangkal dari kebangkitan dan perubahan.
Ulama adalah pewaris keilmuan. Hidupnya banyak ditempa persoalan. Bukan hanya bacaan, ucapan, angka dan perbuatan. Namun gerak, nada dan warna. Multi bahasa, termasuk bahasa dalam keheningan.
Diejawantahkan menjadi tatanan kehidupan yang beradab dan bermartabat. Karena budi pekertinya sehingga lebih banyak mendapatkan petunjuk-Nya. Mendapat wangsit, ilham dan seterusnya.
Semoga keberadaannya ditemui para wali, bahkan menjadi wali-wali baru. Menjadi penunjuk jalan kesejatian. Bukan rekayasaya, dengan tumpangan aneka macam kimia kepentingan.
Mengalir ke celah-celah dan yang paling rendah, sebab di sana ada samudra yang membawa rahmad dan yang membikin aliran apa saja.
Agar umat apa saja yang dialiri pemahamannya menjadi hidup dan bangkit sebagaimana fitrohnya. Sehingga segala potensinya bisa dijadikan alat perangkat untuk menghamba, melayani, dan membangun peradaban. Sehingga tidak terjajah dan tersandra lagi oleh segala macam tipu daya yang warna-warni.
Kebangkitan ulama harus mampu mengairahkan. Merangsang umat di segala macam tipikalnya. Agar umat menjadi berdaya, adil dan sejahterah. Berbudi pekerti luhur dan bisa membedakan mana yang terang, remang dan gelap.
Biar umat tidak banyak yang mabuk, kebelinger dan tersandar perabotan dan keinginan titipan lainnya. Tidak lagi sontoloyo, tidak lagi puber, muter dan baper. Namun umat yang pandai berenang sekaligus menyelam ke dasar samudra jiwanya, selaku sumber suara yang membangun lahir dan dunia.
Semoga ulama dan umat segera mendapatkan restu, anak-anak dan harta. Sebagai tahapan lamaran dan pernikahan. Agar terjadi perkawinan, mengandung dan melahirkan. Tentunya kelahiran normal, bukan operasi dan pendaharan.
Ulama dan umat harus bangkit. Bukan lagi di depan atau di belakang, namun bergandeng tangan. Menerjemahkan makna pandeto ngesatrio dan tanda penebusan kesalahan. Turun gunung, biar guyup rukun semakin tercipta dan kesuburan peradaban tumbuh di sektor apa saja.
Salam Bangkit, Blok Umat dan Kehikmatan.
Salam Waras & Cegah Ingkar, Anak Bangsa. (Edys)


