Targetkan 1.000 Kios Pupuk Komersial, Pupuk Indonesia Perluas Jaringan Pasar

SEMARANG[Berlianmedia] – PT Pupuk Indonesia menargetkan sebanyak 1.000 kios pupuk komersial yang akan mulai dikembangkan pada 2023.

“Penambahan kios pupuk komersil di daerah akan memperluas jangkauan pasar, mendekatkan diri kepada petani, sekaligus sebagai sarana edukasi dan informasi tentang manfaat pupuk,” ujar Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman dalam siaran persnya, Selasa (8/11).

Salah satu kios pupuk komersil siap beroperasi, lanjutnya, berada di Desa Canggu, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Kios pupuk non subsidi atau komersil ini bisa dimanfaatkan para petani untuk memenuhi kebutuhan pupuk.

“Prinsipnya Pupuk Indonesia ini dulu selalu menumpang di kios-kios orang lain untuk jualan pupuk komersial, kami sekarang nggak ingin begitu, karena kita ingin kuasai jalur distribusi dari pabrik sampai kios. Jadi petani bisa akses kios yang barang atau produknya dari Pupuk Indonesia,” tuturnya.

Baca Juga:  Memasuki Hari ke-4 Aktifasi Akun, Ratusan Calon PDB Padati SMAN 4 Semarang

Bakir menambahkan, pengembangan 1.000 kios pupuk komersil juga sebagai jawaban atas masih banyaknya petani yang merasa kesulitan menjangkau atau membeli pupuk komersil milik Pupuk Indonesia.

Oleh sebab itu, tutur Bakir, Pupuk Indonesia merasa perlu untuk memperluas jaringan kios atau outlet yang khusus menjual pupuk komersil atau non subsidi. Apalagi saat ini anggaran pupuk bersubsidi terbatas, berdasarkan Kepmentan Nomor 5 Tahun 2022 pemerintah menetapkan kuota pupuk bersubsidi sekitar 8,04 juta ton.

“Pengoperasian kios pupuk non subsidi ini mendapat dukungan dari Menteri BUMN Erick Thohir selaku pemegang saham dan para stakeholder,” ujarnya.

Dia menuturkan, program komersil memudahkan petani karena banyak keluhan petani dan disadari anggaran subsidi terbatas sehingga kita harus penuhi kekurangan pupuk subsidi di masyarakat dengan komersil atau non subsidi.

Baca Juga:  Puan: Publik Tunggu Penuntasan Kasus Penembakan Brigadir J Secara Transparan

Semantara itu, Pengamat pertanian dari Universitas Negeri Semarang  Prof Dr Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti MSi mengatakan ketersediaan pupuk sangat berperan penting dalam pertanian.

Apalagi provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang menjadi lumbung pangan nasional.

“Tapi terkendala oleh ketersediaan pupuk terutama pupuk bersubsisi seperti yang kita ketahui bahwa akibat adanya konflik di Rusia membuat pemerintah mengurangi pupuk bersubsidi karena bahan baku pupuk berupa kalium diimpor dari Rusia,” tuturnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!