Pesta Lomban, Warga Serbu Ribuan Kupat dan Lepet

JEPARA[Berlianmedia] – Dua gunungan besar yang berisi kupat dan lepet sebanyak 1.444 buah disiapkan untuk diperebutkan warga, pada puncak Pesta Lomban di Pantai Kartini, Sabtu (29/4). Jumlah kupat dan lepet tersebut sesuai dengan tahun 1444 Hijriah.

Setelah didoakan, ribuan warga memperebutkan gunungan tersebut. Mereka percaya, gunung kupat dan lepet akan memberikan keberkahan bagi mereka.

“Untuk dibawa pulang kupat dan lepet ini. Biar dapat berkah Syawalan,” ujar warga Keling, Ali Rondi.

Selain gunungan kupat dan lepet, sebagai wujud syukur atas berkah hasil laut, pada Pesta Lomban juga digelar larungan kepala kerbau ke laut, Sabtu (29/4). Kepala kerbau itu, hasil penyembelihan di Rumah Pemotongan Hewan Jobokuto, sehari sebelum Lomban. Sedangkan bagian tubuh lain dimasak, lalu dibagikan untuk makan bersama saat pergelaran wayang kulit di TPI, yang digelar Jumat (28/4).

Baca Juga:  Momen Seru Ganjar Bersama Siswa SLB Muntilan, Bagi-bagi Mainan dan Buku Pelajaran

Kepala kerbau tertata rapi dengan perlengkapan adat lain dalam wadah berbentuk miniatur kapal. Kemudian, miniatur kapal tersebut diarak dengan iringan penari Sernemi menuju kapal utama pengangkut larungan. Lalu, bertolak bersama-sama dari dermaga TPI Ujungbatu menuju laut sebelah selatan Pulau Panjang Jepara.

Penjabat (Pj) Bupati Edy Supriyanta menjgatakan sejarah tradisi larungan tersebut bermula dari kisah penyelamatan dua pejabat Kadipaten Jepara yang berlayar ke Karimunjawa pada 1855. Perahu mereka terombang-ambing karena badai.

Beruntung, tuturt Edy, Ki Ronggo Mulyo dan Cik Lanang mengetahui peristiwa tersebut dan keduanya segera memberikan pertolongan. Dari peristiwa itu, kemudian diselenggarakan syukuran dengan melarung sesajen ke laut, sebagai prosesi ruwatan atau penolak bala.

Sebuah tradisi yang bermakna permohonan agar dapat mendatangkan hasil laut yang melimpah, serta keselamatan ketika melaut. Dan larungan tersebut, kemudian menjadi sebuah acara tahunan, yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dengan nama Lomban.

Baca Juga:  Tahun 2022, Zakat ASN Jateng Meningkat Menjadi Rp 82,6 Miliar

“Mohon dipertahankan. Lomban ini semoga menjadi tradisi yang lestari,” tuturnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!