Perayaan Natal dan Tahun Baru Ekspresi Eksplorasi dan Ekspektasi
Oleh : Gunung W Mahessa
Pergantian Tahun yang selalu bertepatan dengan perayaan Natal atau sebaliknya menjadi titik kekuatan ekonomi Masyarakat Kecil.
Membuka ruang yang dirasa bisa mendatangkan pendapatan bagi sebagian Masyarakat Perkotaan, membuka lahan Parkir ditepian jalan untuk sepeda motor, menjual aksesoris Natal atau juga mendisplay dagangan Handmade berupa Terompet sudah menjadi tradisi Masyarakat, untuk mencari keuntungan ditengah hingar bingar pergantian tahun.
Dekade 90 an, menyambut datangnya Hari Raya Natal dan tahun baru, satu bulan sebelumnya sudah bisa dirasakan atmosfernya, terlihat kanan kiri di pinggiran jalan jalan protokol juga Sekitar Simpang Lima, dipenuhi pedagang Terompet beraneka bentuk dan jenisnya sebelum perayaan tiba.
Gereja Gereja dipenuhi para Umat Kristen Katholik melakukan peribadatan, celah inilah masyarakat turut serta ambil bagian untuk ikut mengawasi dan mengatur Parkir di sekitar Gereja, sehingga apa yang dikerjakan menghasilkan tambahan pendapatan, tentunya ada koordinasi antara pihak Gereja juga Aparat setempat dengan Masyarakat sekitar, agar keamanan benar benar terjaga dan kondusif selama peribadatan berlangsung, baik dari kepolisian atau Lembaga Pamswakarsa bisa saling bersinergi.
Fenomena lain di Hari Raya atau akhir tahun plus Akhir Bulan, biasanya Mall, Swalayan, Pasar Pasar Tradisional ramai di kunjungi oleh Masyarakat yang akan merayakan momen satu tahun sekali tersebut, membeli Parcel, belanja Kue dan Roti atau sirup juga pakaian menjadi kebutuhan penunjang.
Perputaran ekonomi bisa dikatakan mengalami peningkatan, daya beli masyarakat begitu besar, sehingga keuntungan benar benar bisa dirasakan oleh pelaku Ekonomi kecil dan menengah memasuki bulan Desember.
Dua puluh tahun kemudian di tahun 2000 an, Ekspansi Budaya sebegitu besar dan Masif, merubah Perilaku Masyarakat menjadi eksklusif dan tidak lagi menjadi trend ketika berbelanja di Mall, Swalayan atau Pasar Tradisional seperti era 90 an, semua berubah dan nampak lengang.
Masyarakat pedagang juga tak lagi antusias menyikapi datangnya momentum tersebut, tak lagi mengeksplorasi kreatifitas, tidak ada lagi yang menarik untuk melakukan inovasi produksi.
Generasi sekarang enggan datang ke Pasar Tradisional menjadi problematik yang hingga kini tak kunjung selesai.
Pembayaran menggunakan Elektrik Monay, menggeser interaksi pasar Konvensional, imbasnya pasar tradisional mengalami kelesuan sehingga berdampak pada pendapatan sektor ekonomi Rakyat.
Nataru di Era sekarang, hanya Seremonial tahunan yang tidak lagi ada nilai jualnya secara Sosial ekonomi kerakyatan, semua konstruksinya dikuasai oleh Pasar Digital yang terstruktur dan tersistem, sehingga kehilangan Ruhnya serta melemahkan sektor Budaya ekonomi mandiri, Masyarakatnya juga tak lagi mampu menangkap momentum tersebut, sebagai Ruang Ekspresif untuk mengeksplorasi beragam unsur perayaan tahunan.
Catatan : Penulis adalah Pegiat Seni dan Budaya Kota Semarang


