Pelatih PS HW Ponorogo Soroti Emosi Pemainnya di Laga Ujicoba
PONOROGO[Berlianmedia] – PS HW Ponorogo bermain imbang melawan Persekama Kabupaten Temanggung dalam rangka persiapan untuk kompetisi Liga 3 Jatim. Pertandingan ini dilaksanakan di lapangan Bedi Kulon Ponorogo, Kamis (29/9).
Jalannya pertandingan babak pertama berlangsung seru dan menarik, jual beli serangan sering disajikan dalam pertandingan ini bahkan menjurus ke permainan keras, terlalu asyik menyerang PS HW Ponorogo harus ketinggalan terlebih dahulu melalui serangan balik cepat.
Gol pun terjadi pada menit ke-23 melalui serangan balik. Keunggulan 1-0 untuk tim tamu Persekama Kabupaten Temanggung bertahan hingga turun minum.
Memasuki babak kedua PS HW Ponorogo berupaya meningkatkan serangan untuk menyamakan kedudukan, hingga khirnya PS HW Ponorogo berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-75 melalui Alba setelah memanfaatkan kesalahan pemain belakang Persekama dengan memanfaatkan bola muntah. Kedudukan pun berubah menjadi 1-1.
Setelah gol PS HW Ponorogo yang membuat skor menjadi 1-1, tensi pertandingan pun berubah dan lebih menjurus ke permainan yang kasar dan sarat emosi.
Dengan hasil imbang ini, Pelatih PS HW Ponorogo, Rofi Sinaryo mengevaluasi emosi para pemainnya dan penyelesaian akhir dari pemanfaatan peluang.
”Sepanjang waktu kita menguasai pertandingan banyak peluang seharusnya terjadi gol tapi penyelesaian akhir kurang bagus. Lawan hanya mengandalkan serangan balik. Bahkan babak pertama kita ketinggalan 1-0 lewat bola service,” ujar Rofi Sinaryo.
Rofi Sinaryo menyoroti banyaknya pelanggaran yang tidak perlu terjadi karena kendali emosi akhirnya banyak peluang yang tercipta terbuang sia-sia, seharusnya timnya bisa memenangkan pertandingan dan menciptakan lebih dari 1 gol.
“Penyelesaian akhir dan peralihan/transisi pemain tengah kita untuk ikut mundur/drop back saat serangan balik/ counter attack saat bola diikuasai tim lawan terlalu terlambat untuk menutup bahkan memutus serangan lawan,”. tuturnya.
Sedangkan permainan melalui langsung/direct play ketika pemain belakang berduel dengan pemain lawan terlalu sering bermain dengan emosi tinggi.
“Seharusnya pemain bisa mengendalikan dan mengontrol emosi agar tidak terprovokasi oleh tim lawan dan begitu juga tentang keputusan wasit seharusnya bisa disikapi oleh para pemain,” ujar Rofi Sinaryo. (hs)


