MGMP Seni Budaya SMA Kota Semarang Gelar Sosialisasi IKM dan Modul Ajar

SEMARANG[Berlianmedia] – Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMA Kota Semarang menggelar sosialisasi Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) dan Modul Ajar yang berlangsung di ruang Multimedia SMA Negeri 3 Semarang, Rabu (25/1).

Kegiatan MGMP diikuti sejumlah 35 Guru Seni Budaya (Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Drama).

Pembina MGMP Seni Budaya SMA Kota Semarang yang juga Kepala SMA Negeri 13 Semarang Rusmiyanto SPd MPd mengatakan MGMP dilaksanakan secara berkala untuk komunikasi belajar secara rutin karena ini sebagai wadah strategis di era pandemi menuju era endemi.

“Banyak arus besar baru di dunia pendidikan karena era saat ini bukan kompetisi tetapi era berbagi dan saling menginspirasi,” ujarnya.

Menurutnya, MGMP saat ini bisa mulai digiatkan secara musyawarah. Di MGMP Seni budaya banyak indikator, tidak hanya saling berbagi tapi banyak menginspirasi.

Baca Juga:  Jelang Pemilu, LPHI: Jangan Biarkan Masyarakat Semakin Terpolarisasi

“Kita punya peluang baru misalnya, kolaborasi event besar di Taman Indonesia Kaya, bisa pamer karya, bedah karya, study karya yang saling menunjang,” tutur Rusmiyanto

MGMP, lanjutnya, juga punya kekuatan dari masing-masing sekolah hingga mampu menggelar event, baik seni theater, seni tari, seni rupa maupun seni musik.

“Kami berharap seni budaya mempunyai program ke depan yang bisa menginspirasi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua MGMP Seni Budaya SMA Kota Semarang Anik Purwati MPd saat menyampaikan sosialisasi Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) dan Modul Ajar menuturkan, sosialisasi IKM sudah diawali pada September 2022 lalu melalui daring yang difasilitasi oleh Disdikbud Jateng.

Menurutnya, IKM merupakan produk yang bagus, bahkan sudah sekitar 80% disampaikan secara masif.

“Ke depannya 2024 IKM wajib diterapkan di sekolah seluruh Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga:  SMA Negeri 4 Semarang Gelar Kemah Mandiri

Di Kurikulum Merdeka memang berbeda dengan Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka benar-benar merdeka baik siswanya maupun gurunya.

“Yang menjadi permasalahan khususnya untuk mapel seni budaya, kalau benar-benar diterapkan bisa repot karena masing- masing sekolah fasilitasnya tidak sama karena kita melihatnya juga dari nilai lingkungan karena alam menjadi pusatnya peserta didik,” tutur Anik.

Pemerintah mengharapkan pembelajaran kini harus terseleksi. Seni Budaya masing-masing sekolah harus mempunyai unggulan atau kelebihan.

Anik menilai pada Kurikulum Merdeka pada Capaian Pembelajaran (CP), guru merdeka sekali bisa mengambil yang diinginkan dan CP harus finish semua di kelas 12 nanti.

“Dari Capaian Pembelajar guru bisa memilih fase apa. Yang penting CP bisa tercapai selama tiga tahun. Guru bisa memilih ketersediaan SDM dan lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga:  Penggunaan Gas Air Mata Kedaluwarsa itu Sebuah Pelanggaran

Dia menambahkan, CP guru bisa membreakdown menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) hingga bisa di breakdown lagi menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP).

Setelah semua sudah bisa terpenuhi selanjutnya bisa menuju ke Modul Ajar. Dalam K 13 Modul Ajar itu sama dengan Rencana Program Pengajaran (RPP) ada sejumlah 8 komponen kalau Modul Ajar ada 23 komponen.

Anik menuturkan, komponen minimum Modul Ajar meliputi
1. Tujuan pembelajaran (salah satu dari tujuan dalam alur tujuan pembelajaran)
2. Langkah langkah atau kegiatan pembelajaran biasanya untuk satu tujuan pembelajaran yang dicapai dalam satu atau lebih pertemuan.
3. Rencana asesmen untuk diawal pembelajaran beserta instrument dan cara penilaiannya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!