Lestarikan Budaya dan UMKM, Greget Tradisional Pasar Bulu Semarang Digelar Meriah
SEMARANG[Berlianmedia] – Pegiat seni dan budaya bersama Komunitas Pedagang Pasar Bulu Semarang menggelar kegiatan Greget Tradisional Pasar Bulu Semarang yang berlangsung di halaman Pasar Bulu, Jumat hingga Minggu, 12–14 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi ajang pelestarian budaya tradisional sekaligus penguatan ekonomi kerakyatan.
Beragam kegiatan digelar untuk memeriahkan acara, di antaranya Bazar UMKM, Ruang Komunitas, Bakti Sosial Pengobatan Tradisional oleh Battra SN Kota Semarang, Panggung Rakyat, serta Talkshow Kebudayaan dan Komunitas.
Talkshow menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Muhammad Taufiq (Sekretaris Jenderal Battra Supranatural Nusantara), Marcelino (Ketua Komunitas Semarangker), perwakilan Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, Isan, serta Ketua Pegiat Seni dan Budaya, Yoyok Suryo Hananto atau yang akrab disapa Bang Yos.
Rangkaian kegiatan diawali dengan khitan massal pada Jumat (12/12/2025) yang mendapat dukungan dari Mualim Farma. Kegiatan sosial tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat sekitar Pasar Bulu.
Dalam sesi talkshow, Sekjen Battra Supranatural Nusantara, Muhammad Taufiq, memaparkan sejarah berdirinya Battra SN hingga berkembang menjadi lembaga sosial dan pelatihan pengobatan tradisional.

“Dalam pengobatan tradisional pada Battra SN terdapat empat metode utama. Pertama, metode keterampilan seperti pijat, bekam, fasdhu, hipnoterapi, Totok Wajah akupuntur dan pijat refleksi. Kedua, metode ramuan dengan bahan herbal seperti jamu godogan. Ketiga, metode berbasis agama melalui doa dan dzikir. Keempat, metode supranatural seperti tenaga dalam, reiki, prana, dan transfer energi,” jelas Taufiq, di halaman Pasar Bulu sabtu (13/12)
Sementara itu, Ketua Komunitas Semarangker, Marcelino, menyampaikan bahwa komunitasnya telah berdiri sejak tahun 2003 dan menjadi wadah bagi para pegiat komunitas kreatif di Kota Semarang.
“Semarangker hadir sebagai ruang kolaborasi komunitas untuk saling berbagi ide, memperkuat solidaritas, serta ikut berperan aktif dalam kegiatan sosial dan kebudayaan di Kota Semarang,” ungkap Marcelino.
Ketua Pegiat Seni dan Budaya, Yoyok Suryo Hartanto, menegaskan bahwa Greget Tradisional Pasar Bulu menjadi ruang penting untuk mempertemukan pedagang, komunitas, dan masyarakat dalam satu ekosistem budaya.
“Pasar tradisional bukan hanya pusat ekonomi, tetapi juga pusat kebudayaan. Melalui kegiatan ini, kami ingin menghidupkan kembali semangat gotong royong, seni, dan budaya lokal agar tetap lestari,” pungkasnya.
Greget Tradisional Pasar Bulu Semarang diharapkan mampu menjadi agenda rutin yang mendorong kebangkitan pasar tradisional sebagai ruang budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat Kota Semarang.


