DPRD Jateng Dorong Kesenian Tradisional Kembali Bangkit
PEMALANG[Berlianmedia] – Kesenian tradisional di Kabupaten Pemalang kembali didorong untuk dapat bangkit kembali, setelah dua tahun terakhir terhenti akibat pandemi.
Berbagai seni tari khas Desa Gunungsari, Kabupaten Pemalang mulai digelar lagi oleh para seniman di daerah itu.
DPRD Jateng juga menggelar pagelaran kesenian tradisional di antaranya tari kuda lumping/ebeg, tari kuntulan, seni bela diri dan terbang kencer yang berlangsung di pelataran Balai Desa Gunungsari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sabtu (24/9).
Tari-tarian tradisional itu merupakan tarian khas Gunungsari Kabupaten Pemalang yang penuh kreasi baru dan dimainkan para seniman muda dari beberapa sanggar seni di daerah itu. Bahkan aktivitas masyarakat juga digambarkan dalam tari-tarian tersebut.
Sebelum pertunjukkan kesenian tari tradisional itu digelar, acara diawali dengan dialog Laras Budaya bersama DPRD Prov Jateng, yang menghadirkan nara Anggota Komisi D DPRD Jateng H Iskandar Zulkarnain dan Budayawan Desa Gunungsari Kyai Rasman.
Dialog yang mengusung tema Kuda Ebeg & Seni Tradisi Gunungsari, Kabupaten Pemalang itu dipandu moderator oleh Dendi Ganda dari Trijaya FM Semarang.
Anggota Komisi D DPRD Jateng H Iskandar Zulkarnain mengatakan DPRD Jateng sangat peduli terhadap kesenian tradisional daerah hingga akan terus didorong agar lebih berkembang ke depan dan tidak tergerus oleh seni budaya lain, atau semakin punah.
Selain itu, lanjutnya, DPRD juga akan terus mendorong para seniman di daerah agar bisa lebih inovatif dengan menciptakan kreasi-kreasi baru, hingga kesenian tradisional dapat dipertahankan dan dilestarikan, terutama oleh para seniman generasi muda.
Menurutnya, pertunjukan seni tari ini merupakan salah satu momentum untuk membangkitkan kembali kesenian tradisional dan menjaga budaya dan kearifan lokal.
Berbagai budaya lokal, lanjutnya, berperan besar dalam membentuk dan mengembangkan jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.
DPRD Jateng, tutur Iskandar, berupaya ikutserta melestarikan kesenian tradisional dengan mendorong para seniman terutama para generasi muda kembali berkreasi pasca pandemi. Bahkan selain membangkitkan kesenian tradisonal, juga membangkitkan perekonomian setempat.
“DPRD akan terus ikut melestarikan kesenian tradisional dengan mengadakan pertunjukan, kesenian dengan berbagai warna tari, mengingat pementasan seni tari berperan besar dalam mengembangkan kearifan lokal dan menjaga kesenian warisan leluhur,” ujar Iskandar.
Iskandar mengajak semua generasi muda hingga anak-anak kembali bersama-sama membangkitkan kesenian tradisinal daerah sebagai budaya Indonesia, yang diharapkan bisa mendunia.
“Generasi muda harus mencintai kesenian tradisional, bukan menyukai kesenian modern negara lain. Warga Gunungsari ya warga asli, bukanya menyukai kesenian Korea. Ini tidak menunjukan jatidiri,” tutur Iskandar.
Iskandar berharap, tarian tradisional Pemalang ini bisa semakin dikenal oleh masyarakat, sehingga mereka tidak hanya mengenal kesenian modern, tetapi juga dapat mencintai kesenian tradisional daerah dalam bentuk nyata.
Sementara itu, Budayawan Gunungsari Kyai Rasman sangat mengapresiasi langkah DPRD Jateng yang terus mendorong para seniman tetap berkreasi dan ikut melestarikan kekayaan budaya bangsa dengan menggelar pementasan berbagai seni tradisional.
Dia menuturkan tari tradisi ini merupakan kreasi baru yang mengusung berbagai keraif lokal dan khas daerah Pemalang.
Seni tari tradisional yang melibatkan sanggar Argo Laras, Brajamukti, Kembang Sari, Arga Sari dan Prabasari menampilkan tari-tarian yang menarik degan kreasi baru yang didukung seniman-seniman muda.
“Saya berkomitmen tetap akan terus mengembangkan kesenian tradiisional Gunungsari bersama seniman- seniman muda duwilayah ini, ujar Rasman.
Menurutnya, kesenian saat ini sudah modern, sehingga banyak diantara mereka yang tidak mengetahui kesenian tradisional tersebut. Selain itu, ada juga tarian yang dikhususkan untuk menunjukan potensi unggulan di Gunungsari Pemalang. Misalnya, tari ebeg dan tari beladiri.
“Potensi kesenian tradisional Pemalang tidak lepas dari giatnya para seniman dan sejumlah sanggar seni untuk mempertahankan dan melestarikan berbagai seni tari tradidisonal, meski di tengah gempuran masuknya seni budaya modern dari negara lain,” tuturnya.


