DPRD Akan Berdayakan Kesenian Tradisional Kembali Bangkit
PURBALINGGA[Berlianmedia] – Perkembangan kesenian tradisional Banyumasan mulai terdengar lagi dan pementasan juga sudah dimunculkan kembali, setelah sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Kali ini DPRD Jateng menggelar pentas kesenian Banyumasan Tari Kolosal dan Tari Ebeg yang berlangsung di Lapangan Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Sabtu (29/10).
Sebelum pertunjukkan tari kolosal dan Ebeg itu digelar, acara diawali dengan dialog Laras Budaya bersama DPRD Prov Jateng, yang menghadirkan narasumber Anggota Komisi D DPRD Jateng H Moch Ichwan SH MM dan Budayawan Agus Sukoco.
Dialog yang mengusung tema ‘Nguru-Uri Seni Budaya Banyumasan Ebeg’ itu dipandu moderator oleh Dendi Ganda dari Trijaya FM Semarang.
Anggota Komisi D DPRD Jateng H Moch Ichwan mengatakan DPRD Jateng akan terus mendorong kesenian tradisional di daerah agar semakin berkembang, hingga dapat dipertahankan dan dilestarikan oleh para seniman generasi muda.
Ichwan menambahkan DPRD Jateng akan mendorong pemberdayaan para seniman untuk terus berkreasi dengan menggelar pertunjukan kesenian tradisional, sebagai upaya untuk menjaga dan melestarikan serta mengembangkan warisan leluhur itu.
DPRD akan mengajak dinas terkait, pemda setempat, para seniman dan masyarakat untuk bersama-sama memperdayakan kesenian tradisional, sekaligus menjaga budaya lokal bangsa Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Berbagai budaya lokal berperan besar dalam membentuk dan mengembangkan jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.
“Pemerintah setempat setidaknya bisa mendorong kesenian tradisional dengan menggelar pertunjukkan di obyek-obyek wisata, satu minggu sekali. Ini dampak positifnya ke depan sangat bagus dan bakal semakin lebih dikenal serta disukai masyarakat luas, termasuk wisatawan mancanegara,” tutur Ichwan.
Menurutnya, DPRD Jateng sangat peduli terhadap kesenian tradisional daerah hingga akan terus didorong agar lebih berkembang ke depan agar tidak tergerus oleh seni budaya lain, atau semakin punah.
Sementara itu, Budayawan Agus Sukoco menuturkan
untuk melestarikan dan mengembangkan kesenian tradisional dibutuhkan peran para budayawan untuk menjelaskan dan menyamakan persepsi.
Menurutnya, kesenian tradisional selama ini dinilai bangsa lain dianggap kuno, sementara masyarakat sebagian masih ada yang menganggap sirik.
“Persepsi berbeda ini yang harus dijelaskan oleh budayawan kepada masyarakat hingga perkembangan kesenian tidak mengalami kendala dan mampu tampil mendunia,” ujarnya.
Agus menambahkan tari Ebeg ini merupakan kesenian daerah asli Banyumasan. Tari Ebeg ini diperkirakan sudah ada sejak abad 19.
Menurutnya, tari Ebeg menggambarkan tekad para prajurit yang berperang dengan menggunakan kuda. Salah satu bukti yang menguatkan tari Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah bentuk-bentuk in trance (kesurupan) atau wuru. Bentuk kesenian seperti ini merupakan ciri kesenian yang terlahir jaman animisme dan dinamisme.
Usai berdialog, mulai digelar pertunjukkan tari kolosal dan tari Ebeg yang dimainkan seniman-seniman muda dari Sanggar Ngesti Budaya asuhan Kasiman.
Tari Ebeg nampaknya masih digemari masyarakat. Penampilan anak muda yang lincah dengan membawakan tari Ebeg membuat puluhan penonton bertepuk tangan dan penuh antusias mereka ramai-ramai memadati Lapangan Desa Gembong.
Penampilan pentas tari Ebeg yang dimainkan para seniman muda dari sanggar Ngesti Budaya itu sangat lincah dan penuh semangat hingga terlihat semakin seru. Bahkan para penonton pun bertambah banyak dan mereka pun bersorak dan riuhnya tepuk tangan.
Tari Ebeg ini menggambarkan prajurit perang dengan menunggang kuda. Ebeg sama sekali tidak menceritakan tokoh tertentu dan terpengaruhi agama tertentu. Bahkan dalam lagu-lagunya justru banyak menceritakan tentang kehidupan masyarakat tradisional, terkadang berisi pantun, wejangan hidup dan menceritakan tentang kesenian Ebeg itu sendiri.
Lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan Ebeg hampir keseluruhan menggunakan bahasa Banyumasan atau biasa disebut dengan bahasa penginyongan dengan intonasi khasnya.
Jarang sekali lagu Ebeg menggunakan lagu dengan bahasa Jawa wetanan atau Bahasa Jawa Mataraman. Beberapa contoh lagu yang sering dinyanyikan dalam pertunjukan Ebeg di antaranya adalah Iancaran sekar gadhung, lancaran eling-eling, lancaran ricik-ricik, lancara kulu-kulu dan masih banyak lagi gendhing banyumasan yang digunakan sebagai gendhing sajian dalam pentas Ebeg.


