Catur Bikin Pusing, Ini Kisah Shanti, Gadis Introvert Yang Punya Gelar WIM di Usia Belia
REMBANG[Berlianmedia] – Anda sering merasa pusing karena terlalu lama berpikir? Hal tersebut juga sering dialami oleh Shanti Nur A’bidah, seorang Women International Master (WIM) catur asal Kota Semarang.
Rasa pusing yang dialami gadis kelahiran 2001 itu terjadi saat bermain catur. Yang padahal, catur adalah cabang olahraga yang mengibarkan namanya hingga level dunia.
“Di catur itu nggak enaknya ya kelamaan mikir dan saya jadinya bosen terus pusing karena kebanyakan mikir,” ujar Shanti dalam percakapan santai di Hall Favehotel Rembang seusai menerima medali emas Porprov Jateng XVI Selasa lalu.
Gadis pemalu dan pendiam ini agak susah saat pertama kali diajak ngobrol, namun saat sudah merasa nyaman, dia termasuk orang yang sulit berhenti berbicara. Sehingga mudah untuk menggali dinamika karir caturnya yang dimulai sejak kelas 2 SD.
Walaupun kerap kali pusing dan merasa bosan. Shanti tak pernah berpikir dari dunia catur yang sudah ditekuninya sejak anak-anak. Alasannya, karena catur adalah olahraga yang tenang namun tetap kompetitif.
“Tapi saya enggak pernah kepikiran pengin berhenti catur karena sesuai tipe saya yang suka ketenangan dan gak suka ada sorak-sorak rame, tapi tetep kompetitif,” ujar Shanti.
“Mungkin saya punya kecenderungan introvert kali ya,” tegas Shanti sambil terkekeh.
Dalam kiprahnya mengikuti Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah, Shanti pertama kali dipanggil mengikuti seleksi pada tahun 2016.
“Pertama ikut seleksi Pra Porprov tahun 2016,” jelasnya.
Dan sejak saat itu, dia merajai arena Porprov Jateng dengan catatan sejumlah medalu emas.
Kepiawaiannya bermain catur saat ini, tak lepas dari latihan keras yang dijalani sejak usia sangat belia, yaitu kelas 2 SD.
“Awalnya mengenal catur tahun 2007 atau kelas 2 SD diajarin sama guru pramuka,” ujarnya.
Baru beberapa bulan berlatih catur, Shinta langsung mengikuti kejuaraan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat kelurahan Rejosari tahun 2008.
“Kemudian kejuaraan pertama yang saya ikuti adalah O2SN tingkat keluarahan Rejosari tahun 2008,” kisahnya.
Kemudian Shinta mengikuti kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Percasi Jawa Tengah di Cilacap tahun 2009.
“Di Kejurprov saya dapat juara tiga jadi gagal lanjut ke Kejurnas Percasi,” tambahnya.
Kemudian tahun 2010 shinta kembali berlaga di Kejurprov lagi di Kota Semarang dan berhasil menjuarainya.
Setelah itu dia berhasil berkompetisi di Kejuaraan Nasional Peecasi di Palembang dan bisa juara satu lagi. Dari sinilah karir internasionalnya dimulai.
“Setelah juara nasional 2010 saya mengikuti kejuaraan internasional di Singapura tahun 2011, tapi sayangnya saat itu saya sama sekali nggak dapet juara,” ujar Shinta mengisahkan rasa sedihnya.
Walaupun tak mendapatkan hasil sama sekali di Singapura, tahun 2012 Shinta kembali ikut kejuaraan internasional di Vietnam. Di negeri ‘Nguyen’ tersebut Shinta mampu memperoleh juara ketiga. Catatan yang cukup bagus bagi anak perempuan usia 11 tahun saat itu.
Mahasiswa Universitas Gunadharma ini kembali ikut kejuaraan internasional lagi tahun 2016 dan bisa juara satu internasional East Eastern Asian Youth Cup di kelompok umur di bawah 20 tahun dan langsung dapet gelar Women International Master (WIM).
“Dari tahun itu saya dapat beasiswa dari Yayasan Universitas Gunadharma padahal masih kelas 2 SMP. Sejak saat itu saya tinggal di asrama Gunadharma sampai saat ini kuliah smester 8,” ungkap Shanti memberikan alasan kenapa dirinya saat ini tinggal di Jakarta dan jarang sekali mudik ke kota kelahirannya.
Berkaitqn dengan gelar WIM yang didapatnya, Shanti menjelaskan bahwa tingkatan gelar di catur itu ada Master Percasi yang paling awal, kemudian Master Nasional.
Lalu untuk gelar internasional diawali dari Candidate Master, kemudian Federation Internationale des Eches atau Federasi Catur Internasional (FIDE) Master, lalu International Master (IM) dan Woman International Master (WIM) kemudian gelar tertinggi adalah Grandmaster (GM) dan Woman Grandmaster (WGM).
“Saya sendiri pertama kali dapet gelar pertama kali tahun 2011 pas juara Kejurnas di Palembang, gelarnya Master Percasi. Kemudian langsung loncat dapet gelar FIDE Master pas Kejuaraan Internasional tahun 2015,” tutur Shanti.
Shanti sendiri mengikuti gelaran Porprov Jateng sudah ke tiga kali ini. Selain itu, dia juga sudah dua kali berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON).
“Waktu PON 2016 di Jawa Barat saya dapet dua perak satu perunggu. Terus di PON Papua 2020 dapet perunggu di nomor beregu putri,” kisahnya lagi.
Untuk kejuaraan internasional Shanti menargetkan untuk lolos Sea Games atau Asian Games. Sejauh ini pengalaman internasional Shanti baru di kejuaraan terbuka yang digelar FIDE.
“Dulu saya sempat ikut Pelatnas Sea Gamea tapi belum berhasil lolos karena Sea Gamesnya diundur gara-gara pandemi dan ada pengurangan jumlah atlet. Jadi saya nggak lolos,” ungkapnya.
“Tapi nanti kalau dibuka seleksi Sea Games Cabor Catur saya mau ikut seleksi lagi,” tandasnya penuh harap.
“Suka dan duka di catur ya kalau sukanya jadi punya banyak temen, dapet hadiah, dan keliling dunia gratis,” tutupnya menjawab pertanyaan suka dan dukanya berkarir di catur sambil bercanda.



One Comment