Berhenti Mengeluh Menata Syukur
SEMARANG [Berlianmedia] – Mengeluh sering terasa wajar ketika hidup menekan dada dan masalah datang bertubi. Namun Islam mengajarkan bahwa keluhan berlebih justru melemahkan jiwa dan menutup pintu syukur. Di balik setiap ujian, Allah menyelipkan kekuatan, hikmah, dan jalan keluar. Tulisan ini mengajak kita berhenti mengeluh, menata syukur, serta menguatkan langkah dengan tuntunan Al-Qur’an dan hadis.
Kelalaian manusia kerap tampak ketika ujian datang. Lidah lebih cepat mengeluh daripada hati bersujud, dan dada lebih sibuk menghitung kesulitan daripada mensyukuri nikmat. Padahal, sebagaimana tergambar dalam pesan sederhana namun dalam maknanya, manusia sering lupa bahwa di balik setiap kesempitan telah Allah karuniakan sepasang lengan untuk berusaha, akal untuk berpikir, dan hati untuk bersabar. Pantaskah kita mengeluh, sementara Allah tidak pernah berhenti memberi? Layakkah kita berkeluh kesah, sementara udara, kesehatan, dan kesempatan terus mengalir tanpa diminta? Allah Ta’ala mengingatkan dalam firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4).
Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dengan potensi luar biasa. Mengeluh berlebihan sejatinya merendahkan anugerah penciptaan itu sendiri. Kekuatan fisik, kecerdasan, dan kemampuan berikhtiar adalah modal untuk menghadapi hidup, bukan alasan untuk menyerah. Ketika kita mengeluh, sering kali yang kita lakukan adalah memindahkan beban ke kata-kata, bukan menyelesaikannya dengan usaha dan doa. Padahal Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).
Ayat ini adalah penguat jiwa. Tidak ada ujian yang melampaui kemampuan hamba-Nya. Jika beban terasa berat, itu bukan karena kita lemah, tetapi karena kita lupa bersandar kepada Yang Maha Kuat. Mengeluh tanpa ikhtiar hanya akan menambah letih, sementara sabar yang disertai usaha akan membuka jalan. Rasulullah ﷺ mengingatkan agar seorang mukmin tidak larut dalam kelemahan:
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim).
Hadis ini bukan sekadar motivasi, melainkan tuntunan hidup. Berhenti mengeluh berarti mengalihkan energi dari ratapan menuju langkah nyata. Tegakkan bahu, kuatkan hati, dan akui bahwa belum mengetahui jawaban bukan berarti tidak ada jawaban. Setiap masalah memiliki waktu terurai. Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5–6).
Pengulangan ayat ini adalah penegasan ilahi agar manusia tidak tenggelam dalam keluh. Kelelahan boleh datang, tetapi jangan biarkan ia merampas harapan. Tarik napas, tenangkan hati, dan susun kembali niat. Syukur adalah kunci yang sering terlupa. Allah berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Syukur bukan menunggu hidup sempurna, melainkan mengakui nikmat di tengah kekurangan. Lihatlah sekitar, ada mereka yang lebih berhak mengeluh, namun justru memilih diam dalam sabar. Ada yang menahan sakit tanpa suara, ada yang memikul beban hidup tanpa sempat meratap. Rasulullah ﷺ bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Muslim).
Jika demikian, masihkah kita memilih mengeluh daripada melangkah? Islam tidak melarang air mata, tetapi melarang keputusasaan. Berhentilah mengeluh, bukan karena hidup selalu mudah, melainkan karena Allah selalu dekat. Dengan syukur, sabar, dan ikhtiar, keluh kesah akan berubah menjadi doa, dan beban akan menjelma tangga menuju kedewasaan iman.


