Benahi Transisi Dan Proses Build Up PSIS Semarang

Kick Off Kompetisi Sepakbola Liga 1 Musim 2023/2024 sudah dimulai sejak tanggal 1 Juli 2023. Sedangkan PSIS Semarang akan menjalani pertandingan pertama melawan Bhayangkara Presisi pada 3/7, di Stadion Jatidiri, Semarang.

Sebelum menjalani pertandingan pertama Liga 1 Musim 2023/2024 PSIS melakukan 3 laga ujicoba, yang pertama ujicoba melawan Persik Kendal mampu menang dengan skor telak 6-0, lalu melawan Persijap Jepara harus kalah dengan skor 3-2 kemudian yang terakhir bertanding melawan klub Phnom Penh (Kamboja) bermain imbang 2-2.

Dari patokan pertandingan ujicoba tersebut PSIS permainan masih “sama” seperti musim lalu, kurangnya agretivitas, permasalahan saat transisi, terlalu memaksa bermain “false nine” dan masih ada beberapa yang harus dibenahi menjelang kick off melawan Bhayangkara.

Saat ujicoba yang terakhir melawan Phnom Penh meski bermain full team Laskar Mahesa Jenar kehilangan momentum ciri khas bermain. Hanya di 15 menit awal mampu menjalankan high defensive line dengan baik tetapi setelah itu justru permainan tidak bisa terorganisir dengan baik.

Setelah unggul 1-0 Laskar Mahesa Jenar bermain dengan sistem mid-block dimana pola tersebut mampu dimaksimalkan oleh pemain Phnom Penh dengan determinasi dan kolektivitas yang rapi antar pemain.

Gap antar pemain (jarak antar pemain) PSIS kembali menjadi satu kelemahan, bermain false nine yang notabene mendorong pemain bertipe nomer sembilan untuk drop ke lini tengah agar menang jumlah pemain sebenarnya sudah terpatron.

Tetapi justru pola itu bukan membuat jarak pemain semakin dekat malah menambah ruang kosong yang cukup baik dimanfaatkan oleh Phnom Penh. Pergerakan tanpa bola (off ball movement) pemain justru kebingungan. Dalam analisa saya pergerakan pemain malah tidak bisa terorganisir untuk mememecah pergerakan bek lawan.

Baca Juga:  Aplikasi SI UMI Guna Tingkatkan Potensi dan Omzet UMKM Kota Semarang

Para pemain justru memilih asal bergerak menuju ruang tetapi tidak melihat pergerakan bek lawan. Lini tengah yang menambah keunggulan jumlah pemain juga tidak mampu memanfaatkan 2nd ball, para pemain justru kebingungan dengan pola “false nine”.

Untuk lini belakang kembali pemain kebingungan saat tim lawan melakukan transisi (fast break) serangan balik cepat, pergerakan tanpa bola lini depan pemain lawan juga tidak mampu dibaca oleh barisan lini belakang PSIS hingga mampu mencetak 2 gol saat itu.

Justru yang bekerja keras adalah lini tengah untuk menutup pergerakan pressing dari tim lawan, satu catatan mungkin adalah PSIS harus berani membangun proses serangan melalui build up bukan long pass ataupun quick ball dari kiper. Selama ini proses build up tidak diterapkan cukup baik bahkan lebih sering bermain direct dengan mengandalkan kecepatan itupun hanya satu pemain yang dituju yaitu Taisei Marukawa.

Tidak ada opsi serangan lain entah melalui transisi menjadi bumerang bagi PSIS. Contoh sederhananya seperti ini jika skema serangan melalui Taisei gagal otomatis PSIS hanya berdiam “kembali” dan menunggu transisi kemudian bola direct akan kembali diarahkan ke Taisei.

Menghadapi Bhayangkara Presisi sebenarnya PSIS mendapatkan keuntungan tersendiri. Hengkangnya Ripal Wahyudi, Kasim Botan dan I Putu Gede di musim ini harus benar-benar bisa dimanfaatkan oleh PSIS Semarang. Selain itu catatan tidak pernah menang melawan Bhayangkara Presisi ini adalah momentum untuk memulai kemenangan pertama atas Bhayangkara Presisi.

Dibawah asuhan Emral Abus Bhayangkara masih mengusung skema 4-3-3 defending transformasi ke 5-3-2. Bhayangkara lebih bermain bertahan dengan melakukan serangan balik cepat melalui barisan sayap lini depannya.

Baca Juga:  Dorong Pembiayaan Pembangunan, Sekda Dorong Generasi Milenial Melek Investasi SBN

Hal ini patut diwaspadai oleh barisan lini belakang PSIS yang tidak memberikan ruang kosong untuk flank / sayap pemain Bhayangkara. Bermain dengan sistem direct ball Bhayangkara akan coba mengexploitasi sisi sayap dan besar kemungkinan di sisi kanan pertahanan PSIS jika Fredyan Wahyu melakukan overlap membantu serangan.

Salah satu opsi jika Fredyan melakukan overlap seharusnya pemain di lini tengah mampu mengcover daerah sisi kanan pertahanan. Pemain sayap Bhayangkara rata-rata mempunyai kecepatan untuk determinasi.

Ditambah dengan visi permainan Matias Mier di posisi nomer “10” yang pintar memanfaatkan 2nd ball ataupun membuat key passes dan chances created. Duel seru tentunya nanti Mier akan berhadapan dengan pemain baru PSIS asal Perancis Boubakary Diarra.

Double pivot di lini tengah Bhayangkara yang kemungkinan diisi duet pemain asing Adam Najem dan Dylan De Byucker juga patut diwaspadai terutama Adam Najem yang bisa switch ke posisi flank untuk mengcover flank kanan ataupun kiri Bhayangkara FC.

Tentunya jika Ridho dan Septian David Maulana akan dipasang sejak menit pertama akan menjadi suguhan menarik dengan fungsi Septian yang piawai dalam daya jelajah ataupun kemampuabn switch dengan lini depan PSIS dan Ridho yang sekarang semakin berkembang dengan kemampuan key passesnya. Yang menjadi catatan untuk PSIS harus ada seorang gelandang yang mampu mengkontrol jalannya tempo pertandingan. Yang mampu menjalankan fungsi ini mungkin tertuju pada Gian Zola.

Baca Juga:  Siswa SD Negeri 2 Jampiroso Berlatih Membatik Eco Print

Duel lini tengah akan menjadi kunci dalam pertandingan ini untuk memetik kemenangan, selain itu PSIS harus pintar memanfaatkan transisi entah itu negatif ataupun transisi positif.

Catatan untuk lini depan jika masih memaksa bermain “false nine” setidaknya lini depan bisa memanfaatkan keunggulan jumlah pemain di lini tengah dan juga flank tidak harus menunggu bola ataupun hanya mengincar half space final 3rd tim lawan. Jika masih bermain seperti ini kemungkinan Bhayangkara bisa mencuri poin di Stadion Jatidiri.

Jarak antar pemain seharusnya tidak cukup lebar. PSIS harus berani bermain bola pendek dan pintar memanfaatkan 2nd ball. Lini depan juga lebih terorganisir membangun skema serangan hingga masuk ke final 3rd. Anak asuhan Gilbert Aguis juga harus pintar memanfaatkan momentum.

Kunci permainan juga terdapat di lini depan bagaimana harus sabar untuk membongkar pertahanan Bhayangkara yang akan memainkan pola bertahan sangat rapat. Tidak harus bermain long pass ataupun bola lambung, dengan kemampuan pemain baru di PSIS seharusnya PSIS berani bermain open play dan memainkan pressing tinggi selama 90 menit.

Kelemahan yang cukup banyak di musim lalu harus segera dibenahi di musim ini. Dari soal komunikasi antar pemain di lapangan mungkin hal mendasar keegoisan pemain dalam lapangan segera bisa menjadi pembelajaran. Keegoisan dalam hal menjadi pemain oportunis memang dibutuhkan dalam sepakbola tetapi alangkah baiknya hal tersebut harus berani dikesampingkan untuk kebutuhan tim agar bisa memetik hasil positif dalam pertandingan.

(Herry Santoso, pengamat sepak bola tinggal di Semarang)

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!