“Asa Luar Biasa”, Suara Sunyi Autisme Dewasa yang Menggema Lewat Layar Dokumenter

SEMARANG [Berlianmedia]— Setelah sukses diputar perdana di Gedung Theater Thomas Aquinas, Universitas Soegijapranata pada Mei 2024 lalu, film dokumenter Asa Luar Biasa terus mencuri perhatian publik.

Film dokumenter “Asa Luar Biasa” bercerita tentang kehidupan penyandang autisme dewasa yang ada di Indonesia. Namun, film ini bukan sekadar dokumentasi, tapi sebuah narasi menyentuh yang membuka mata tentang sisi kehidupan penyandang autisme di Indonesia, terutama mereka yang telah tumbuh menjadi remaja dan dewasa.

Disutradarai oleh Tries Supardi dan diproduseri oleh Lani Setyadi dari Yayasan Yogasmara, film berdurasi 45 menit ini membawa penonton menyelami kehidupan empat individu autistik dan keluarganya.

Film ini menjadi jawaban dari pertanyaan mendalam, yang pernah muncul di benak sang sutradara : Apa yang terjadi dengan anak-anak autis ketika mereka dewasa?

“Saya mulai tertarik dengan isu ini, sejak ikut terlibat dalam film tentang deteksi dini autisme tujuh tahun lalu,” ujar Tries Supardi dalam bincangnya, Rabu (7/5).

Baca Juga:  Persebaya Surabaya Libas Persib Bandung Dengan Skor 4-1

“Namun saat itu, cerita autisme hanya berhenti pada masa anak-anak. Tidak ada cerita bagaimana nasib mereka ketika dewasa. Padahal, mereka tetap autis, hanya tumbuh menjadi dewasa, dan hidup mereka tetap berjalan,” imbuhnya.

Pertanyaan ini membawanya kembali terkoneksi dengan Lani Setyadi, Ketua Yayasan Yogasmara.

“Bu Lani menghubungi saya dan bilang: ‘Ini loh autisme itu ada di level orang dewasa. Tapi gak ada yang cerita tentang itu,’” kisah Tries.

Film dokumenter “Asa Luar Biasa” mengangkat kehidupan penyandang autisme dewasa di Indonesia. Foto: Dok Absa

Dari sana, lahirlah tekad untuk membuat film dokumenter yang menjawab kegelisahan bersama dan menunjukkan kepada publik, bahwa autisme bukan sekadar persoalan anak-anak, tapi juga menyangkut masa depan, kemandirian, dan hak hidup penyandang autisme dewasa.

Film ini menantang persepsi umum dan mengkritik stigma masyarakat yang menganggap penyandang autisme dewasa sebagai “tidak mampu” dan menyembunyikan mereka dari ruang sosial.

Tries menyebut, proses riset film ini dimulai sejak awal 2023, melalui keterlibatan aktif dalam berbagai forum komunitas autistik di Semarang dan Kudus.

Baca Juga:  Layani Pemudik, Call Center 112 Selama Lebaran Tetap Buka

“Kami harus membongkar-pasang cerita dan subjek agar benar-benar mewakili realitas yang utuh,” kata Tries.

Proses produksi sempat tertunda karena perubahan tokoh, hingga akhirnya selesai pasca proses pascaproduksi di awal 2024 dan film ini, mengusung misi kuat untuk edukasi publik, terutama selama peringatan Bulan Peduli Autisme setiap April.

Tahun 2024, film ini mengangkat tema global “Move from Surviving to Thriving”, yang sejalan dengan pesan utama Asa Luar Biasa, mendorong penerimaan, bukan sekadar toleransi.

Pada pemutaran perdananya, film ini tidak hanya diputar, tapi juga dilanjutkan dengan diskusi bersama Tries Supardi, akademisi Donny Danardono, serta Naufal Asy Saddad, ketua komunitas Pemuda Pemudi Autistik.

Penampilan pembuka oleh grup musik Inklusi The Harfest, yang semakin menegaskan bahwa penyandang autisme dewasa bukan hanya layak didengar, tapi juga punya tempat untuk bersinar.

Baca Juga:  Resmikan Pabrik Baru Korrun Group, Ahmad Luthfi: Contoh Investasi Padat Karya Jateng

Tak hanya mendapat sambutan publik, Asa Luar Biasa juga berhasil menembus nominasi 30 besar Festival Film Indonesia 2024 dari total 120 film yang masuk. Tries berharap, film ini menjadi pemantik kesadaran kolektif.

“Apa yang saya temukan selama proses ini membuat saya terkesan dan tersadar. Mereka teman-teman autistik dewasa, bukan hanya inspiratif, tapi juga mengingatkan kita bahwa hak untuk bermimpi dan berkontribusi adalah milik semua orang,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Film ini akan terus diputar di berbagai komunitas dan jaringan festival nasional dan internasional, sebagai bagian dari advokasi berkelanjutan untuk kesetaraan hak individu autistik.

“Kami terus mengadakan roadshow di berbagai tempat dan terus mengembangkannya, saat ini sudah belasan sekolah dan kampus, yang menjadi tuan rumah memutar dan mendiskusikan film ini,” tandasnya.

Caption : Film dokumenter “Asa Luar Biasa” mengangkat kehidupan penyandang autisme dewasa di Indonesia. Foto: Dok Absa

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!