Digitalisasi Perbankan Suatu Keniscayaan

SEMARANG[Berlianmedia] – Transformasi digital di sektor perbankan merupakan suatu keniscayaan, mengingat selama beberapa tahun belakangan ini, tuntutan akselerasi digital semakin mengemuka didorong perubahan ekspektasi publik akan layanan keuangan yang cepat, efisien, dan aman serta dapat dilakukan dari mana saja.

Anggota Komisi C DPRD Jateng Agung  Budi Margono mengatakan transformasi digital di sektor perbankan merupakan suatu keniscayaan, karena era digital merupakan peluang bisnis jika dapat dimanfaatkan kalangan industri, termasuk sektor perbankan.

Kondisi itu, tutur Agung, mengharuskan perbankan untuk menempatkan transformasi digital sebagai prioritas dan salah satu strategi dalam upaya peningkatan daya saing bank. Seiring dengan berbagai perkembangan dalam bisnis perbankan yang bergerak dalam strategi bisnis digital.

“Masyarakat Indonesia sesuai demografi, cukup besar tercatat hampir 60% lebih masyarakat di negeri ini merupakan generasi milenial yang sangat ramah dengan digital. Ini peluang yang harus dibaca kalangan perbankan,” ujar Agung dalam dialog Prime Topic, bertema ‘Digitalisasi Perbankan’ yang digelar di Ruang Bahana Noormans Hotel Semarang, Kamis (10/11).

Dialog yang dipandu oleh moderator Advianto Prasetyobudi dari MNC Triajaya FM Semarang itu, selain menghadirkan nara sumber Anggota Komisi C DPRD Jateng Agung Budi Margono juga Executive Senior Teknologi Sistem Informasi Bank Jateng Yudiana Mustari dan Dosen FEB Udinus dan Kerjasama Internasional FEB Ana Kadarningsih SE MM AKT CA.

Baca Juga:  Rafael William Struick Dan Ivar Jenner Resmi Menjadi WNI

Agung menuturkan generasi milenial merupakan pasar yang menjanjikan bagi industri perbankan, karena era digital saat ini hampir semua generasi muda sudah menggunakan uang digital dan mereka sudah tidak menyukai transaksi tunai.

“Sekarang ini anak muda dompetnya isinya sudah tidak lagi uang tunai, tetapi sudah uang digital, baik itu ATM, Kartu Kredit, Gopay, e-banking, E-money, Qris, e-Walet, Mobile Banking dan lainnya,” tutur Agung.

Menurutnya, transaksi digital ini sudah merebak di kalangan anak muda, sehingga menjadi perilaku konsumen dan peluang pasar (market) yang potensial bagi perbankan. Bahkan pertumbuhan transaksi digital kini meningkat pesat.

Agung menambahkan transaksi digital tidak hanya di kalangan anak muda, tetapi sudah menyentuh para pelaku usaha kaki lima (PKL), bahkan tidak terjadi di kota-kota besar namun sudah meluas ke pedesaan.

Baca Juga:  Polda Jateng Amankan Enam Orang Oknum Ormas Terkait Kasus Penipuan dan Pengerusakan

“DPRD Jateng juga telah merekomendasi kepada BUMD milik Pemprov, termasuk Bank Jateng dan BPR/BKK agar terus melakukan inovasi digital money dan lainnya, sebagai strategi untuk meningkatkan pertumbuhan pendapatan,” ujar Agung.

BUMD, lanjutnya, termasuk Bank Jateng yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap pendapatan Pemprov Jateng, bahkan dividen yang diberikan BUMD 2023 ditargetkan mencapai Rp500 miliar dari tahun ini hanya Rp400 miliar.

Senada  Executive Senior Teknologi Sistem Informasi Bank Jateng Yudiana Mustari menuturkan tidak dipunkiri memang, transformasi digital di sektor perbankan adalah suatu keniscayaan, sehingga peberbankkan harus menerapakan tekologi digital dalam memberikan pelayanan digitalisasi kepada nasabah, selain digitalisasi proses internal yang mampu lebih efiensi.

“Fokus kita adalah data, karena bagi perbankan data base saat ini merupakan sebuah harta karun, sebuah peluang besar yang sangat potensial bisa digarap perbankkan, termasuk jumlah ASN di Jateng yang begitu besar yang selama ini menjadi pasar nasabah Bank Jateng, ” tuturnya.

Sementara itu, Dosen FEB Udinus dan Kerja sama Internasional FEB Ana Kadarningsih berpendapat digitalisasi perbankan itu merupakan strategi yang harus diterapkan di era saat ini.

Baca Juga:  Polda Jateng Sebut Korsleting Exhaust Fan di Mushola Jadi Penyebab Kebakaran Orange Karaoke

Transformasi digital perbankan, lanjutnya, akan memberikan acuan yang lebih konkret akan digitalisasi perbankan ke depan dalam rangka akselerasi transformasi digital, sekaligus merupakan respon kebijakan untuk memitigasi berbagai tantangan dan risiko dari transformasi digital perbankan.

Menurutnya, peningkatan penggunaan teknologi informasi dalam peningkatan layanan kepada nasabah secara personal mengarahkan bank dalam suatu era baru yaitu Digital Banking dengan memanfaatkan teknologi digital melalui perangkat (device) dan aplikasi (software) sebagai delivery channel .

“Saya melihat Bank Jateng dan Bank Jatim masih jauh berbeda dengan Bank DKI dan Bank Jabar yang sudah menggunakan invoasi e-Money, sedangkan Bank Jateng dan Bank Jatim hingga saat ini belum menerapkan inovasi itu.

Ana menambahkan inovasi digital banking yang dimiliki setiap bank menunjukkan hasil bahwa digital banking berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja perbankan yang dihitung menggunakan ROA, ROE dan BOPO.

Dalam hal ini, lanjutnya, inovasi digital banking memberikan kontribusi dalam meningkatkan kinerja perbankan dengan menekan biaya dan meningkatkan pendapatannya.

 

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!