Benteng Willem I Hidupkan Wisata Ambarawa

SEMARANG [Berlianmedia] – Benteng Willem I Ambarawa resmi dibuka kembali untuk publik pada Senin (17/11) setelah melalui proses revitalisasi panjang lintas kementerian. Ribuan warga memadati kawasan bersejarah itu sejak pagi, menyambut peresmian yang dihadiri Pangdam IV/Diponegoro, Bupati Semarang, hingga jajaran Forkopimda. Kehadiran wajah baru benteng abad ke-19 ini digadang menjadi motor ekonomi dan pusat edukasi Jawa Tengah.

Benteng Willem I Ambarawa kembali menegakkan wibawanya di tengah lanskap sejarah Jawa Tengah. Setelah bertahun tahun terbengkalai, bangunan pertahanan Belanda yang didirikan pada 1834–1845 itu akhirnya bertransformasi menjadi destinasi wisata edukatif, budaya, dan UMKM, berkat revitalisasi terpadu antara Kementerian Pertahanan, Pemkab Semarang, dan Kementerian PUPR.

Peresmian pada Senin (17/11) berlangsung semarak. Sejak matahari terbit, ribuan warga sudah memadati area benteng, menunggu momen bersejarah dibukanya kembali salah satu ikon kolonial terbesar di Indonesia. Hadir dalam kesempatan itu Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat, Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha, Kepala BPK Wilayah X Manggar Sari Ayuati, jajaran Forkopimda, Forkopimcam, serta manajemen The Lawu Group selaku pengelola kawasan.

Baca Juga:  Polda Jateng dan Polres Pemalang Ungkap Tindak Pidana Perdagangan Orang

Dalam sambutannya, para pejabat menegaskan bahwa pembukaan kembali benteng ini bukan sekadar menghadirkan objek wisata baru, melainkan momentum penting merawat memori sejarah sekaligus menciptakan ruang ekonomi bagi masyarakat. Pemkab Semarang menilai revitalisasi tersebut membuktikan bahwa pelestarian cagar budaya mampu berjalan beriringan dengan kepentingan pembangunan.

Pada masa trial opening, Benteng Willem I langsung mencuri perhatian publik. Jumlah pengunjung mencapai 4.000–5.000 orang setiap hari, menjadikan kawasan ini salah satu destinasi paling ramai di Kabupaten Semarang tahun ini.

Dampak ekonominya terasa cepat. Lebih dari 150 UMKM kini menempati area kuliner dan pusat oleh-oleh Makutoromo. Mereka menawarkan aneka produk lokal, makanan tradisional, hingga suvenir khas Ambarawa. Pemerintah daerah menyebut geliat ini sebagai bukti konkret bahwa revitalisasi benteng tidak hanya memulihkan bangunan fisik, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi masyarakat.

Baca Juga:  Kasus Tabrak Lari di Depan BRI Magersari: Polres Rembang Terus Lakukan Penyelidikan

The Lawu Group menghadirkan Benteng Willem I dengan tiga konsep utama yang saling terintegrasi. Pertama, wisata sejarah yang memungkinkan pengunjung menyusuri lorong-lorong tua, ruang tahanan, dan ruang strategis benteng sebagai jejak perjalanan kolonialismenya. Kedua, wisata kuliner dengan panorama “Bukit Bintang”, menghadirkan pemandangan malam Ambarawa yang memesona. Ketiga, Makutoromo sebagai pusat oleh-oleh terbesar di Jawa Tengah yang menampung ratusan pelaku usaha.

Selain itu, Galeri Mobil Antik turut diresmikan sebagai wahana edukasi tambahan. Koleksi kendaraan klasik yang ditampilkan memberi pengalaman unik bagi pengunjung, terutama generasi muda yang ingin mengenal teknologi otomotif era lampau.

Untuk memudahkan akses pengunjung, pengelola menetapkan harga tiket sebagai berikut:

Tiket Masuk Benteng Willem I:
• Rp10.000 (weekday)
• Rp15.000 (weekend)
• Rp25.000 (wisman)

Tiket Terusan Galeri Mobil Antik:
• Rp18.000 (weekday)
• Rp23.000 (weekend)
• Rp35.000 (wisman)

Baca Juga:  Ketika KPK Goyah: Negara dan Kepercayaan

Jam Operasional:
• Benteng: 08.00–21.00 (weekday) | 06.00–21.00 (weekend)
• Makutoromo: 08.00–20.00

Pengelola memastikan bahwa seluruh fasilitas tersedia lengkap, nyaman, dan ramah keluarga. Area yang luas memungkinkan pengunjung menikmati berbagai aktivitas tanpa harus berdesakan, sementara sistem keamanan dan tata kelola lingkungan disiapkan sesuai standar destinasi wisata modern.

Dengan luas kawasan yang memadai, kurasi aktivitas yang beragam, serta keterlibatan aktif masyarakat, Benteng Willem I diproyeksikan menjadi destinasi sejarah terbesar di Jawa Tengah dalam beberapa tahun mendatang. Keberhasilan revitalisasi ini disebut sebagai model kolaborasi ideal antara pelestarian warisan, pengelolaan profesional, dan pemberdayaan ekonomi warga.

Pembukaan kembali Benteng Willem I menjadi bukti bahwa sejarah tidak selayaknya hanya disimpan dalam buku, tetapi juga dihidupkan sebagai ruang belajar, ruang seni, dan ruang ekonomi. Ambarawa kini memiliki ikon baru yang menyatukan masa lalu dan masa depan dalam satu napas.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!