Waspadai Hasil Survei dan Curi Start Kampanye

Oleh: Gunawan Witjaksana

Nuansa menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2024, serasa mulai menghangat, bahkan cenderung makin memanas. Berbagai hasil survei atau polling baik yang dilakukan lembaga survei dengan metodologi terukur, atau pun sekedar penghimpunan suara baik oleh netizen atau pun yang sejenis dengan metodologi yang jauh dari akurat pun terus bermunculan.

Demikian pula para elit utamanya yang hasil surveinya menunjukkan angka yang tinggi, bahkan yang belum tinggi pun, mulai pasang kuda- kuda, baik melalui dukungan relawan, netizen, bahkan partai politik (parpol) mulai tengok kanan tengok kiri saling menjajagi, mungkin pula mulai melakukan negosiasi.

Dalam kondisi semacam ini, tentu para elit yang kebetulan memegang jabatan baik Gubernur atau pun yang lainnya, sangatlah diuntungkan, utamanya bila kinerjanya dinilai baik oleh masyarakat.

Dari sisi komunikasi, ada prinsip bahwa hasil kerja bergaung lebih nyaring dibanding wacana. Karenanya tidaklah mengherankan bila nama Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto, Anis Baswedan, selalu masuk di tiga besar teratas baik popularitas serta elektabilitasnya.

Sayangnya banyaknya kepentingan yang berseliweran saat ini banyak memanfaatkan media, atau bahkan membuat media dengan kecenderungan mengunggulkan jagonya masing-masing.

Baca Juga:  Kondisi Sarfas Pertamina Aman Dan Beroperasi Normal, Pasca Gempa Mentawai

Meski hingga saat ini masih saling menutupi siapa yang membeayai survei misalnya, namun secara teori serta metodologis tetap saja tampak siapa yang ada di balik survei itu.

Dengan banyaknya kepentingan dengan memanfaatkan berbagai media tersebut, masyarakat menjadi bingung. Mana sebenarnya yang surveinya benar- benar unggul. Itu wajar, sebab kadang calon A misalnya yang unggul di beberapa survei. Tiba- tiba calon lain yang unggul. Yang lebih membingungkan, kadang keunggulannya tersebut terkesan kurang logis.

Karena itu, demi memberikan informasi yang cukup akurat pada masyarakat, kita pantas bertanya, informasi serta opini apa yang bisa dikontribusikan para intelektual kepada masyarakat, utamanya terkait survei tersebut?

Persepsi

Sebuah survei terkait popularitas dan elektabilitas calon, sangatlah erat kaitannya dengan persepsi masyarakat saat survei dilakukan.

Terkait dengan hal tersebut, perlu difahami bahwa survei itu terkait persepsi, yang sangat dipengaruhi dengan dinamika yang terjadi di masyarakat.

Dengan demikian, hasil survei itu setiap saat masih bisa berubah dan tergantung dinamika serta mood masyarakat saat itu.

Baca Juga:  Trans Semarang Hadirkan Bus Ramah Disabilitas

Ini jauh berbeda dengan hasil quickqount yang dilakukan setelah masyarakat memilih.

Pada quickqount, asalkan dasar metodologinya akurat, utamanya pemetaan samplingnya, hasilnya biasanya akurat.

Yang perlu juga masyarakat waspadai, hasil survei yang masih labil tersebut digunakan untuk kampanye. Mereka beranggapan kalau hasil survei tinggi, akan memengaruhi pilihan calon pemilih, dengan asumsi mereka yang ingin menang cenderung memilih yang hasil surveinya tinggi.

Karena itu, masyarakat perlu diingatkan agar hati-hati dalam menentukan pilihan, utamanya terkait kapasitas, kapabilitas, serta integritas calonnya.

Ini penting karena pengalaman yang terjadi di beberapa wilayah, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Barat ketika itu, yang surveinya tinggi tinggi justru kalah.

Dari sisi komunikasi, memanfaatkan hasil survei untuk kampanye itu masuk komunikasi manipulatif yang mengabaikan kejujuran, hanya demi menarik perhatian.

 

Hakiki

Yang lebih hakiki sifatnya sebenarnya adalah membandingkan hasil survei tersebut dengan janji kampanyenya. Seberapa logis janjinya?. Mungkinkah janji tersebut akan mampu dipenuhi setelah terpilih.

Selain itu, dalam mempersepsikan calon, akan lebih baik bila masyarakat melihat rekam jejaknya. Bukankah saat ini jejak digital itu akan sangat membantu masyarakat memperoleh informasi akurat, selain dengan tenang dan tidak membabi buta, masyarakat bisa berkonsultasi dengan mereka yang faham.

Baca Juga:  Pemprov Jateng Komitmen Sukseskan FIFA World Cup U-17

Kita tentu faham, tidak mungkin melarang menggunakan hasil survei untuk kampanye. Yang perlu kita cermati adalah kredibilitas lembaga surveinya, rekam jejaknya, terutama terkait dengan pemetaan samplingnya, karena dalam penelitian kuantitatif, sampel itu harus mencerminkan populasinya.

Karena itu bila surveinya sekedar spontanitas netizen, para penelpon dalam sebuah acara, dan sejenisnya lebih baik diabaikan saja.

Akhirnya alangkah indahnya bila para elit, khususnya para intelektual yang belum terkooptasi kepentingan selalu mengingatkan masyarakat, utamanya dalam menyikapi hasil survei yang digunakan kampanye.

Dengan menggunakan Teori Entrophy, upayakan masyarakat memperoleh informasi yang akurat, serta bebas dari unsur manipulasi, utamanya dalam memanfaatkan hasil survei yang baru merupakan persepsi dan bukan pilihan final yang sudah pasti.

(Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si Dosen Tetap Ilmu Komunikasi USM dan Dosen Ilmu Komunikasi Udinus)

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!