Pertumbuhan Penjualan Sido Muncul Berpeluang Meningkat Lagi

JAKARTA[Berlianmedia]  –  PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masuk jajaran indeks bergengsi LQ45 untuk periode Februari-Juli 2023. Emiten produsen Tolak Angin ini dianggap layak masuk sebagai anggota LQ45 seiring prospek bisnis yang diperkirakan bakal terus tumbuh.

Kepala Riset Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya mengatakan saham SIDO layak dicermati karena terus menghijau sejak bergabung ke dalam indeks LQ45.

Saham-saham yang masuk LQ45, belakangan ini kompak terus menguat, dengan respon positif oleh pasar. Selain itu likuiditasnya akan semakin baik, karena SIDO bakal menjadi pilihan bagi investor besar dan manajer investasi (MI).

“SIDO memang memenuhi seluruh kriteria sebagai anggota baru LQ45 dan secara prospek bisnis berpotensi terus melanjutkan pertumbuhan setidaknya sampai semester I-2023,” ujar Cheril.

Menurutnya, SIDO dinilai menarik karena didukung oleh penurunan harga gula yang berpengaruh pada segmen bisnis herbalnya, sehingga bisa mengurangi biaya produksi. Selain itu, seiring pelonggaran aktivitas ekonomi di China, maka ada potensi peningkatan di segmen makanan & minuman.

Pemulihan Sido Muncul terlihat pada kuartal terakhir tahun lalu, yang berpotensi banyak ruang untuk pertumbuhan ke depan.

SIDO melaporkan pendapatan sebesar Rp384 miliar atau melonjak 40% quarter on quarter (QoQ) pada kuartal IV-2022. Capaian ini membawa pendapatan selama setahun penuh di tahun lalu sebesar Rp1,1 triliun atau merosot 12% YoY.

Performa luar biasa SIDO di kuartal terakhir tersebut didukung oleh melonjaknya kontribusi dari penjualan segmen herbal sebesar 78% terhadap penjualan atau naik 46% dari kuartal sebelumnya yang didorong oleh musim hujan dan normalisasi tingkat stok pengeceran produk baru, setelah stok saat pandemi.

Baca Juga:  Warga Diminta Tidak Berikan Data Palsu Saat Sensus

Penjualan kuartalan tertinggi yang pernah dicatat oleh SIDO, bahkan mengalahkan rekor saat pandemi di kuartal keempat 2021

Sedangkan, pendapatan dan laba bersih SIDO masing-masing turun 3,9% dan 12,4% YoY menjadi Rp 3,87 triliun dan Rp1,10 triliun di sepanjang 2022.

Segmen obat herbal & suplemen turun 1,6% YoY menjadi Rp 1,79 triliun, segmen makanan & minuman juga terpantau turun 24,2% YoY menjadi Rp 322 miliar. Segmen farmasi adalah satu-satunya segmen positif yang naik 5,98% YoY menjadi Rp 52,6 miliar pada tahun lalu.

Green House

Sementara itu, Manajemen Sisdo Muncul menargetkan pertumbuhan penjualan meningkat sekitar 10%, di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi pada 2023.

Direktur Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO) Irwan Hidayat mengatakan perusahaan tahun ini menargetkan peningkatan penjualan sekitar 10%.

“Kami berusaha untuk dapat meningkat 10%. Tapi yang penting saya tidak khawatir karena secara umum produk kami baik dan dikenal pasar,” ujar Irwan kepada pers di Pacific Place, Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurutnya, tidaklah mudah menjual produk Sido Muncul di pasar luar negeri. Bahkan jauh berbeda menjual jamu di nergeri orang tidak hal yang mudah, berbeda dengan komoditi minyak itu lebih gampang.

Namun demikian, tutur Irwan, penjualan yang baik itu butuh waktu dan juga kepercayaan masyarakat konsumen.

“Memang kami membidik ke Afrika Timur dengan penetrasi ke Kenya lalu dilanjutkan ke Tanzania dan Uganda untuk produk Tolak Angin dan energy drink,” tutur Irwan.

Baca Juga:  Sambut Suro 2023, Semen Gresik Bersilaturahmi Dengan Sedulur Sikep Samin

Selain itu, lanjutnya, Sido Muncul juga mengupayakan peningkatan penjualan di pasar existing dengan menambah produk baru yang sesuai dengan tren dan tingkat kesadaran konsumen pada kesehatan.

“Penyesuaian desain kemasan juga dilakukan supaya produk kami lebih mudah diterima dan resonate dengan konsumen di negara-negara tersebut,” ujar Irwan.

Sebelumnya Sido Muncul juga semakin memperkokoh usahanya, dengan mengoperasikan Pusat Laboratorium Penelitian Rempah Indonesia yang berlokasi di kawasan Pabrik Sido Muncul, Bergas Kabupaten Semarang.

Tidak hanya itu, Sido Muncul juga mengembangkan beberapa jenis tanaman rempah melalui Green House yang kini sudah mampu membuahkan hasil. Bahkan beberapa jenis tanaman rempah yang dilakukan uji coba penanamannya berhasil tumbuh menggembirakan dan diperkirakan Maret 2023 ini sudah siap dipanen.

Green House dan Pusat Penelitian Rempah Sido Muncul ini dioperasikan untuk menciptakan rempah-rempah berkualitas yang ada di Indonesia seperti Lempuyang, Jahe dan Kapulaga juga untuk pengembangan tanaman Jahe, Kunyit, Kencur, Stevia, Mentha dan tanaman rempah lainnya.

Bahan baku produk Tolak Angin Sido Muncul seperti Stevia dan Mint tumbuh subur seperti yang diharapkan. Setelah panen, akan dilakukan penelitian lebih lanjut di Pusat Penelitian Tanaman Rempah Sido Muncul (PPRS).

“Setelah dipanen, nanti akan kita lakukan penelitian di Pusat Penelitian Tanaman Rempah untuk mengetahui kadar minyak atsirinya, zat aktifnya dan lainnya hingga benar-benarnya hasilnya berkualitas,” tutur Irwan.

Menjurut Irwan, hasil dari Green House ini tidak melihat berapa kuantitasnya tapi kualitas dari tanamannya itu.

“Harapan kami, dengan Green House ini kita bisa menciptakan tanaman rempah dengan kualitas yang bagus dibandingkan dengan tanaman rempah yang ada, Bahkan tidak kalah dengan rempah hasil dari negara lain,” ujar Irwan.

Baca Juga:  Penemuan Mayat Pria Dicor Di Tempat Usaha Isi Ulang Air Di Tembalang

Irwan menambahkan, jika hasil dari penelitian ini sangat bagus sesuai dengan harapannya, maka akan disalurkan kepada 150 kelompok tani mitra Sido

Sido Muncul merupakan perusahaan yang menjadi pelopor pertama untuk pengembangan bibit berbagai jenis rembah berkualitas, selain melakukan pembinaan kepada para petani mitra usaha.

Irwan optimis dengan upaya itu bakal mampu menciptakan tanaman rempah yang berkualitas lebih bagus dibandingkan dengan tanaman rempah dari Negara lain seperti India, Vietnam maupun Thailand.

Green House dan Pusat Penelitian Rempah Sido Muncul ini akan menciptakan rempah-rempah yang ada di Indonesia seperti Lempuyang, Jahe dan Kapulaga juga untuk pengembangan tanaman Jahe, Kunyit, Kencur, Stevia, Mentha dan tanaman rempah lainnya.

Setelah masa tanam, untuk melihat hasil dan pertumbuhannya dibutuhkan waktu sekitar dua atau tiga bulan. Sementara untuk Nursey targetnya akhir Maret ini sudah panen.

Secara keseluruhan dari area Green House lahan yang disiapkan mencapai 1 hektare dengan perincian Nursery 1.152 m2, Green House produksi yang sudah siap operasi 2.496 m2 dan Green House produksi yang masih berupa pondasi 6.335 m2.

Sementara Pusat Penelitian Tanaman Rempah Sido Muncul (PPRS) yang dilengkapi dengan fasilitas Laboratorium Kultur Jaringan, Nursery dan Green House Produksi yang menggunakan teknologi drip irrigation system dari Netafim oleh BPOM beberapa waktu lalu, kini siap melakukan penelitian beberapa tanaman rempah hasil penamaman itu.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!