Hingar Bingar Kembalinya Liga 1 Indonesia Di Tengah Duka Keluarga Korban Tragedi Kanjuruhan
Hari senin (05/12) pecinta sepakbola di tanah air kembali disuguhkan dengan kembalinya kompetisi sepakbola Liga 1. Memainkan format kompetisi sistem bubble untuk menyelesaikan pertandingan putaran pertama Liga 1 2022/2023.
Seperti yang kita ketahui, Liga 1 sempat terhenti hampir selama 2 bulan dikarenakan Tragedi Kanjuruhan. Tragedi kemanusiaan yang masuk dalam 5 besar dalam sejarah sepakbola dunia.
Tragedi yang menewaskan 135 orang dan ratusan orang mengalami luka-luka. Peristiwa kelam ini terjadi setelah pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya. Dimana ratusan suporter Arema terkena dampak dari penembakan gas air mata hingga menyebabkan ratusan orang berhamburan untuk keluar dari stadion menyelamatkan diri.
Banyaknya korban meninggal dan luka-luka saat peristiwa tersebut, memaksa Pemerintah untuk turun tangan. Membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk menyelidiki kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi hingga mengakibatkan 135 suporter Arema meninggal dunia dari berbagai umur.
Dalam tatanan kelola sistem sepakbola di Indonesia, tentunya dalam hal ini PSSI dan stakeholdernya wajib bertanggung jawab atas Tragedi Kanjuruhan. Sedangkan dari pihak kepolisian pun akhirnya hanya menetapkan 5 tersangka dalam tragedi kemanusiaan tersebut.
Biasnya kasus tersebut sampai sekarang masih menjadi bahan pertanyaan, 135 korban meninggal dunia ternyata hanya dipandang sebagai angka. Beberapa stakeholder pengelola tatanan sepakbola malah lebih memikirkan bagaimana Liga 1 bisa berjalan kembali.
Penggiringan opini dan narasi dibuat seakan-akan jika Liga 1 harus segera berjalan, karena beberapa sponsor juga sudah menanyakan perihal tersebut, sehingga ada beberapa sponsor yang sudah memutus kontrak dengan pihak penyelenggara Liga 1 (PT. LIB).
Narasi berikutnya tentang permasalahan gaji para pemain yang kemungkinan akan tersendat karena klub tidak ada pemasukan untuk menggaji para pemainnya, beberapa sponsor klub juga akan memutus kontrak jika LIga 1 tidak dijalankan kembali.
Organisasi tertinggi beserta stakeholdernya mungkin hanya menjadikan suporter sebagai komoditas terbesar. Mereka seakan lupa bahwa suporter menikmati pertandingan sepakbola mungkin dengan cara menabung agar bisa membeli tiket untuk menonton pertandingan tersebut.
Anehnya, di satu sisi sebagian cukup senang dan bahagia karena akhirnya Liga 1 bisa berjalan kembali meski tanpa penonton (baca : suporter). Mereka seakan melupakan peristiwa kelam yang terjadi di awal bulan Oktober kemarin. Mereka lebih mengharapkan agar seapkbola bisa dijalankan kembali secepatnya.
Selain melupakan Tragedi Kanjuruhan, dimana penetapan 5 tersangka pun seolah tidak ada kejelasan sama sekali bahkan sudah perlahan memudar. Sejatinya induk organisasi tertinggi sepakbola beserta stakeholdernya di Indonesia tidak melupakan peristiwa kelam tersebut begitu saja.
Mereka juga harus berani bertanggung jawab untuk benar-benar berbenah mengelola sistem sepakbola yang lebih baik dari berbagai faktor, agar di kemudian hari tidak akan lagi terjadi tragedi di dunia sepakbola Indonesia.
Bagaimana kita bisa menikmati sepakbola yang sejatinya adalah hiburan dan sekarang kita dipaksa untuk menikmati hiburan dengan berbagai narasi? Sedangkan keluarga korban dalam Tragedi Kanjuruhan bahkan sampai sekarang meminta sebuah keadlian karena hilangnya nyawa hanya dijadikan sebagai angin lalu.
Sepakbola adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Kita semua rela menghidupi sepakbola di Indonesia agar terus berkembang, tetapi kita harusnya juga tidak rela ataupun berpesta suka cita saat diputuskannya Liga 1 berjalan kembali.
Peristiwa Tragedi Kanjuruhan tidak bisa dilupakan begitu saja, kita tidak hanya berbicara peristiwa tersebut adalah tragedi dalam sepakbola di Indonesia. Kita wajib berbicara lantang bahwa Tragedi Kanjuruhan adalah Tragedi Kemanusiaan.
Dan wajarnya sebagai seorang manusia apakah menari diatas penderitaan orang lain sebuah kelayakan untuk kita? Bersuka cita dengan kembalinya kompetisi sepakbola di tanah air sedangkan dalam satu sisi yang lain kita masih melihat ketidak adilan dalam Tragedi Kanjuruhan akan hilang ditelan oleh waktu. (sap)


