DPRD Jateng Dorong Kesenian Sintren Kembali Bangkit
PEKALONGAN[Berlianmedia] ā DPRD Jateng akan terus mendorong perkembangan kesenian tradisional kembali diramaikan untuk pementasan hingga diharapkan dapat lebih semarak lagi, setelah sempat terhenti dua tahun lebih akibat pandemi.
Kali ini DPRD Jateng ikut menggelar pentas kesenian tradisional dengan menampilkan Kesenian Tari Sintren dan Karawitan khas Kabupaten Pekalongan di gedung Serbaguna Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Minggu (11/12).
Sebelum pertunjukkan Tari-Tarian tradisional itu digelar, acara diawali dengan dialog Laras Budaya bersama DPRD Prov Jateng, yang menghadirkan nara sumber Ketua Komisi E DPRD Jateng Abdul Hamid S.Pd.i, Budayawan Mahmud Mansur, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan & Kebudayaan Kabupaten Pekalongan Saiful Bahri, Ketua Dewan Kesenian Darah (DKD) Kabupaten Pekalongan Joko Heru dan Sekretaris DKD Kabupaten Pekalongan Agus Sulistiyo.
Dialog yang mengusung tema āNguru-Uri Kesenian Budaya Tradisional Kabupaten Pekalonganā Ā itu dipandu moderator oleh Dendi Ganda dari Trijaya FM Semarang.
Ketua Komisi E DPRD Jateng Abdul Hamid mengatakan DPRD Jateng akan terus mendorong kesenian tradisional di daerah agar semakin berkembang, hingga dapat dipertahankan dan dilestarikan oleh para seniman generasi muda.
Menurutnya, pagelaran kesenian ini merupakan salah satu momentum untuk membangkitkan kembali kesenian tradisional dan menjaga budaya bangsa Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.
Berbagai budaya lokal, lanjutnya, berperan besar dalam membentuk dan mengembangkan jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.
DPRD Jateng, lanjutnya, berupaya ikutserta melestarikan kesenian tradisional dengan mendorong para seniman terutama para generasi muda kembali berkreasi pascapandemi. Bahkan pihaknya juga akan terus memperjuangkan kesenian tradisional daerah mendapat bantuan anggaran daerah pemerintah.
Dia menambahkan DPRD Jateng sangat peduli terhadap kesenian tradisional daerah hingga akan terus didorong agar lebih berkembang ke depan dan menarik hingga semakin dikenal masyarakat luas.
āPara generasi muda harus dapat mempertahankan dan memahami sejarah kesenian tradisional warisan leluhur, seperti Tari Sintren, mengingat tari Sintren ini telah memperoleh penghargaan Nasional,ā ujar Abdul Hamid dalam dialog itu.
Abdul Hamid mengajak semua generasi kembali bersama-sama membangkitkan kesenian budaya Indonesia, yang diharapkan bisa lebih berkembang dengan kreasi-kreasi yang menarik.
Sementara itu, Budayawan Mahmud Mansur menuturkan sengaja memilih lokasi di Desa Kutorojo, karena daerah ini sudah kental dengan nasionalisme dengan warga yang berbeda agama tetapi bisa menyatu hidup rukun sejak dulu.
āWarga di daerah ini sangat Pancasilais, meski berbeda agama di antaranya ada yang memeluk agama Islam, Hindu dan Nasrani mereka hidup rukun dan gotong royong, termasuk budaya daerah yang dikembangkan secara bersama-sama,ā tutur Mansur.
Senada, Ketua Dewan Kesenian Darah (DKD) Kabupaten Pekalongan Joko Heru mengapresiasi langkah DPRD Jateng yang terus mendorong para seniman tetap berkreasi dan ikut melestarikan kekayaan budaya bangsa, bahkan wujud itu bisa dirasakan karena ikut menggelar pertunjukkan kesenian tradisional di berbagai daerah seperti sekarang ini.
Menurutnya, di Kabupaten Pekalongan memiliki banyak kesenian tradisional, mengingat di wilayah ini juga terdapat sejumlah Tokoh Kesenian.
Usai berdialog, mulai digelar pertunjukkan tari tari-tarian tradisonal dan Tari Sintrten yang dimainkan seniman-seniman muda dari Sanggar Kudo Bekso Utomo dari Desa Pringsurat Asuhan Solikhin.
Penampilan anak muda yang lincah dengan membawakan Tari Sintren dan Karawitan ini sangat memukau para penonton dan masih digemari masyarakat di wiayah Kabupaten Pekalongan.
Kesenian Sintren merupakan tarian peninggalan sejarah jaman dulu dan sampai saat tarian khas Pekalongan itu masih diminati masyarakat.
Menurutnya, sejarah Sintren berawal dari kisah Raden Sulamjana sebagai putra Ki Temenggung Baureksono, hasil perkawinan nya dengan Dewi Rantamsara. Raden Sulamjana memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, ayah Sulamjana.
Akhirnya R Sulamjana pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus terjalin walaupun melalui alam gaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamasara yang memasuki roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula Sulamjana yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan Sulamjana.
Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan Sintren sang penari pasti dimasuki roh bidari oleh pawangnya, dengan catatan hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci.


