Irwan Hidayat: Indonesia Masih Butuh Pahlawan Pengisi Kemerdekaan

SEMARANG[Berlianmedia] – Generasi muda menjadi bagian dari pahlawan kebhinekaan di era 5.0 saat ini. Kepahlawanan seseorang dinilai tidak hanya terbatas pada saat peperangan merebut kemerdekaan, tapi juga mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat mengatakan generasi muda menjadi bagian dari pahlawan kebhinekaan di era 5.0 saat ini. Dia menilai kepahlawanan seseorang tidak hanya terbatas pada saat peperangan merebut kemerdekaan, tapi juga mempertahankan dan mengisi kemerdekaan itu.

“Mengisi alam kemerdekaan dengan Bhinneka Tunggal Ika serta menjunjung tinggi toleransi di antara anak bangsa adalah bagian dari sikap kepahlawanan,” ujar Irwan seusai mengikuti Kirab Merah Putih dalam rangka memperingati Hari Pahlawan bersama jajaran Forkopimda Kota Semarang, Kamis (10/11)

Menurut Irwan, untuk menjadi pahlawan tidak harus berlaga di medan perang seperti para pahlawan yang berjuang dalam kemerdekaan Indonesia. Dengan memberikan kontribusi dan berpartisipasi dalam pembangunan untuk menjadikan Indonesia menjadi negeri maju dan sejahtera itu juga bisa dikatakan pahlawan mengisi kemerdekaan.

“Tentu sangat berat merebut kemerdekaan dari penjajah, kita semua berutang jasa pada pahlawan bangsa. Tapi, mempertahankan dan merawat kemerdekaan juga bukan perkara mudah, khususnya di tengah banyaknya kepentingan anak bangsa saat ini yang banyak mengedepankan ego masing masing untuk mencapai kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri,’’ tutur Irwan.

Baca Juga:  Gelar Pameran di Java Mall, Modern Elektronik Sediakan Diskon Besar-Besaran

Irwan menambahkan kalau dulu pahlawan berjuang melawan penjajah merebut kemerdekaan, tapi saat ini Indonesia butuh pahlawan pengisi Kemerdekaan menunu Indonesia maju.

Pengisi Kemerdekaan, tutur Irwan, sebagai bentuk apresiasi para tokoh dan masyarakat yang memberikan kontribusi untuk kesejahteraan dan kemajuan Bangsa Indonesia.

“Gus Dur misalnya, saat Beliau menjadi Presiden ke-4i mencetuskan pentingnya toleransi, menghilangkan diskriminasi. Perayaan Imlek diperbolehkan dan lainnya. Tapi saat itu tidak populer dan dianggap melawan arus, tapi dampaknya untuk Bangsa Indonesia sangat positif hingga sekarang,” ujar Irwan.

Irwan menuturkan tokoh lain yang layak disebut Pahlawan saat ini Megawati Soekarno Putri, saat menjabat Presiden dia mencetuskan UU Kewarganegaraan.

“Meski saat itu banyak penolakan, banyak aksi-aksi, tapi dengan adanya UU itu berdampak sangat bagus untuk Indonesia,” tuturnya.

Contoh lain, Budiman Sudjatmiko, dia adalah pencetus UU Desa dimana setiap desa diberi kewenangan untuk mengelola Dana Desa yang saat ini sangat membantu warga pedesaan dan mampu meningkatkan kesejahteraan desa.

Baca Juga:  Banyak New Hero, Karena Hati Yang Diberikan Untuk Kemanusiaan

“Tapi siapa Budiman Sudjatmiko?. Masyarakat tidak banyak yang tahu, karena tidak ada apresiasi. Padahal dia bisa dikatakan pahlawan karena mencetuskan ide untuk kesejahteraan Bangsa Indonesia,” ujar Irwan.

Terbaru Presiden Joko Widodo, ia juga bisa disebut Pahlawan Bangsa, karena beliau mengelola kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyatnya.

“Misalnya kekayaan air, Pak Jokowi mengelola dengan baik dalam bentuk bendungan, tidak dibuang ke laut, sehingga ketika musim kemarau bendungan bisa dimanfaatkan masyarakat. Jadi Pak Jokowi ini mengelola kekayaan negara untuk kekayaan negara,” tutur Irwan.

Kesimpulan dari itu semua, Irwan menambahkan, untuk menjadi pahlawan saat ini tidak harus berjuang dalam perang, tidak harus menunggu meninggal, tapi orang atau tokoh yang memberikan kontribusi dan berpartisipasi dalam pembangunan untuk menjadikan Indonesia menjadi negeri maju dan sejahtera itu juga bisa disebut pahlawan..

Menurutnya, esensi terpenting dalam peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November adalah menggali untuk kemudian mentransformasikan spirit nasionalisme dan patriotisme yang diwariskan para pahlawan bangsa kepada generasi selanjutnya.

“Dengan demikian kita benar-benar dapat menangkap api kepahlawanan para pendahulu bangsa,’’ tutur Irwan.

Baca Juga:  Closing Ceremony Porprov Jateng XVI 2023 di Jepara, Panitia Gelar Doa Bersama

Menutur Irwan, dari banyak nilai dan spirit kepahlawanan yang harus ditiru generasi saat ini adalah bagaimana para pahlawan bangsa menjunjung tinggi toleransi setiap kali mengambil keputusan bersama saat mengisi kemerdekaan Indonesia.

Toleransi yang besar telah mereka perlihatkan dalam Kongres Pemuda Kedua pada 27 – 28 Oktober 1928, yang di dalamnya tirani mayoritas ditiadakan dan eksistensi minoritas dihargai lewat kesepakatan ikrar Sumpah Pemuda bahwa mereka bersatu dalam konsep tanah air, bangsa, dan bahasa.

Saat ini, tutur Irwan,pahlawan-pahlawan kebhinekaan sangat dibutuhkan jika merujuk pada beberapa posisi Indonesia dalam hal toleransi.

Irqwan mengatakan gelar pahlawan nasional Indonesia selama diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia atas tindakan yang dianggap heroik yang didefinisikan sebagai perbuatan nyata yang dapat dikenang dan diteladani sepanjang masa bagi warga masyarakat lainnya atau berjasa sangat luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara. Gelar ini merupakan penghargaan tingkat tertinggi di Indonesia.

Namun, lanjutnya, gelar pahlawan pengisi kemerdakaan bisa juga diberikan dari non pemerintah, baik organissai profesi, organai masyarakat dan lainya atas penilai obyektif dan prosfesional, hasil investigasi.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!