Peringati Hari Wayang, DPRD Jateng Gelar Wayang Kulit di Kebumen
KEBUMEN[Berlianmedia] – Pementasan wayang kulit merupakan kesenian tradisional yang masih sangat populer di berbagai daerah dan tergolong paling laris, bahkan masih diminati masyarakat, termasuk di Kabupaten Kebumen.
DPRD Jateng akan terus berupaya menjaga kelestarian kesenian daerah, budaya dan kearifan lokal warisan leluhur bangsa Indonesia ini, bahkan akan mendorong lebih berkembang, setelah pemerintah kembali memberikan kelonggaran untuk pementasan para seniman pada pacsapandemi.
Kali ini, Wakil Ketua DPRD Jateng Ferry Wawan Cahyono menghelat pagelaran wayang kulit untuk mendorong aktivitas para seniman kembali semangat untuk bangkit, setelah sebelumnya dua tahun lebih mereka terhenti total akibat pandemi Covid-19.
Selain itu, juga sekaligus untuk ikut memperingati Hari Wayang Sedunia yang diperingati setiap 7 November, bahkan masyarakat Indonesia selalu memperingati Hari Wayang Nasional. Selain wayang merupakan salah satu kesenian unik dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia, ternyata juga menarik perhatian dunia.
Puncaknya adalah wayang ditetapkan sebagai World Masterpiece of Oral Intangible Heritage of Humanity oleh UNESCO. Penetapan kesenian wayang sebagai Karya Agung Dunia Warisan Budaya Lisan Nonbendawi Manusia oleh UNESCO itulah yang kemudian sekarang diperingati sebagai Hari Wayang Nasional.
Wayang Kulit dengan dalang kondang Ki Dalang Sunarko Hadi Warsono mulai digelar di di Desa Tlogowulung, Kecamatan Alian, Kabupaten Kebumen, Sabtu (5/11) lalu.
Pementasan wayang kulit itu mampu mengobati kerinduan masyarakat yang lama tidak menyaksikan pertunjukan wayang secara langsung, stelah dua tahun terhendi akibat pandemi. Selain itu, pagelaran wayang kulit semalam suntuk itu, juga menggerakkan roda perekonomian rakyat, karena banyak pedagang tiban yang mendapatkan penghasilan dari banyaknya penonton.
Pentas wayang kulit dengan lakon “Semar Mbangun Kahyangan” sangat menginspirasi, terutama ketokohan Semar sebagai simbol wong cilik, rakyat jelata, mencoba membangun Kahyangan. Kahyangan yang dimaksud Semar bukanlah istana megah (baca: tempat para dewa) melainkan untuk mengembalikan sikap pemimpin untuk berorientasi pada rakyatnya, dan membangun untuk kepentingan rakyat.
Menurut Ferry, makna peringatan Hari Wayang Nasional adalah untuk meningkatkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap wayang Indonesia.
“Wayang telah tumbuh dan berkembang menjadi aset budaya nasional. Wayang juga memiliki nilai tinggi dan sangat berharga dalam pembentukkan karakter dan jati diri bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila kita bangga memperingati Hari Wayang Nasional,” ujar Ferry.
Sebelum pertunjukkan wayang kulit itu digelar, acara diawali dengan dialog budaya Media Tradisional “Nguri-uri Kebudayaan Jawa Tengah”, dengan menghadirkan nara sumber Bupati Kebumen Arif Sugiyanto, Wakil Ketua DPR Provinsi Jawa Tengah Ferry Wawan Cahyono, Anggota DPRD Kebumen Pawit Mandung, Kepala Desa Tlogowulung Paerisan Akabar dan Ketua Pusat Kajian Media dan Kebuayaan Teguh Hadi Prayitno. Dialog dipandu moderator oleh Septi Wulandari.
Ferry menuturkan, DPRD Jateng akan terus mendorong kesenian tradisional di daerah agar semakin berkembang, hingga dapat dipertahankan dan dilestarikan oleh para seniman generasi muda.
Menurutnya, pagelaran ini merupakan salah satu momentum untuk menegaskan kembali pentingnya menjaga budaya lokal bangsa Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Berbagai budaya lokal berperan besar dalam membentuk dan mengembangkan jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.
DPRD Jateng, tutur Ferry, berupaya ikutserta melestarikan budaya-budaya bangsa dengan melekatkan pada momen-momen bersejarah yang tentunya dapat dijadikan tontonan dan tuntunan bagi masyarakat, terutama para generasi muda. Bahkan selain membangkitkan kesenian tradisonal, juga mendorong pertumbuhan perekonomian setempat.
Ferry menambahkan upaya DPRD ikut melestarikan budaya-budaya Indonesia, seperti wayang kulit kesenian tradisional Jawa dengan mengadakan pertunjukan wayang, mengingat pementasan wayang kulit berperan besar dalam penyampaikan pesan-pesan moral beragama, sehingga rasa kegotong-royongan bisa terwujud, selain perekonomian setempat ikut bangkit.
“Setiap ada pagelaran kesenian, dipastikan akan bermunculan para pedagang kecil (UMKM) di sekitarnya untuk menjajakan dagangannya,” ujar Ferry.
Sementara itu, Bupati Kebumen Arif Sugiyanto mengatakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kebumen sepenuhnya mendukung dan membantu pelestarian berbagai kesenian tradisional termasuk di antaranya wayang kulit.
“Dukungan terhadap kesenian tradisional itu ada yang berupa bantuan langsung kepada kelompok seni, ada pula yang berupa sinergi pemkab bersama dengan berbagai pihak demi kemajuan kesenian di Kebumen. Kami berterimakasih atas upaya dari DPRD Jateng yang menginiasi pementasan wayang kulit ini,” tutur Arif Sugiyanto. (adv/Anf)


