DPRD Jateng Dorong Kebangkitkan Kesenian Tradisional
BREBES[Berlianmedia] ā DPRD Jateng akan mendorong pemberdayaan para seniman untuk terus berkembang dengan menggelar pertunjukan kesenian tradisional, sebagai upaya untuk menjaga dan melestarikan serta mengembangkan warisan leluhur itu.
Anggota Komisi D DPRD Jateng HM Iskhak SH MA MM mengatakan pentingnya menjaga kesenian tradisional yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Berbagai kesenian tradisional berperan besar dalam membentuk dan mengembangkan jati diri bangsa yang harus dijaga dan dilestarikan.
DPRD Jateng, tutur Iskhak, berupaya ikutserta melestarikan kesenian tradisional di berbagai daerah, termasuk memperdayakan para seniman untuk dapat menggelarkan pertunjukan berbagai kesenian tradisional.
āDi Kabupaten Brebes terdapat berbagai kesenian tradisional, seperti tari Manuk Dadali, Tari Kuda Luping, Jengger, Angklung, Tari Sri Panganti dan lainnya. Kesenian tradisional ini akan kita perdayakan agar dapat berkembang,ā ujarnya dalam Dialog Laras Budaya yang mengusung tema āPagelaran Wayang Kulit & Tari Tradisional Kabupaten Brebesā yang digelar di Pendapa Desa Pagojengan, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Sabtu malam (22/10).
Dialog yang dipandu moderator oleh Dendi Ganda dari Trijaya FM Semarang itu, selain menghadirkan Anggota Komisi D DPRD Jateng H HM Iskhak juga nara sumber Koordinator Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Brebes Selatan Ki Sukarso D Purwacarita Spd.
Menurut Iskhak, DPRD Jateng sangat peduli terhadap kesenian tradisional daerah, hingga para seniman akan terus didorong agar lebih berkembang ke depan dan tidak tergerus oleh seni budaya lain, atau semakin punah.
Selain itu, tutur Iskhak, DPRD Jateng juga berupaya untuk ikut melestarikan dengan mengajak semua pihak, terutama para seniman muda untuk terus ānguri-uriā kesenian tradisional dan menjaga kelestarian budaya daerah yang merupakan warisan leluhur.
Iskhak menuturkan pihaknya akan ikut mendorong para seniman terus berkreasi, termasuk sanggar seni agar berkembang dan pagelaran Wayang Kulit.
Kesenian pertunjukkan Wayang Kulit di daerah, tutur Iskhak, sangat berperan untuk manyampaikan pesan moral dan bisa menjadi panutan.
āKami akan ikut memberdayakan para seniman, terutama generasi muda agak mencintai kesenian tradisional, sekaligus melestarikan warisa leluhur,ā tutur Iskhak.
Iskhak menambahkan, pagelaran wayang kulit dipilih untuk pementasan itu, agar dapat memberikan pesan-pesan moral kepada masyarakat, terutama para generasi muda agar mereka mencintai kesenian tradisional sebagai warisan leluhur itu.
Sementara Koordinator Pepadi Brebes Selatan Ki Sukarso D Purwacarita menuturkan sangat mengapresiasi langkah DPRD Jateng yang terus mendorong dan membina para seniman, termasuk para dalang tetap berkreasi serta ikut melestarikan kesenian tradisional dengan menggelar pementasan wayang kulit.
Di wilayah Kabupaten Brebes, tutur Ki Sukarso, terdapat banyak seniman yang memiliki kreasi sangat positif, bahkan pertunjukkan kesenian wayang kulit terdapat enam dalang dan hingga saat ini masih sangat diminati, meski dua tahun lebih aktivitas mereka sempat tersendat akibat pandemi.
Ki Sukarso menuturkan pihaknya berkomitmen tetap akan menjaga dan melestarikan kesenian tradisional, termasuk Wayang Kulit.
Tidak dipungkiri memang seni budaya asing mulai menggempur kesenian tradisional, meski masuknya tidak bisa dicegah, namun melalui berbagai pertunjukan kesenian tradisional tetap akan mampu bertahan.
Setelah dialog itu, pagelaran wayang kulit dengan menampilkan dalang Ki Aji Windu Suwarto mulai digelar dengan mengambil lakon Jamus Kalimusada yang konon ceritanya di Negara Giling Wesi, terjadi pakebluk (pandemi, penyakit menular) banyak warga yang menjadi korban.
Raja Giling Wesi mendapat wangsit (lewat mimpi) pakebluk bisa hilang jika ditumbal dengan jimat Kalimusada.
Prabu Pracona Dewa memerintahkan adiknya Dewi Praconawati untuk memberi jimat itu. Berangkatlah Dewi Praconawati beserta prajurit Giling Wesi menuju Negara Amarta Pandawa Lima karena yang memiliki Jamus Kalimusada adalah Prabu Putra Dewa Raja Amerta.
Akhirnya penderitaan rakyat bisa teratasi. Namun setelah itu Jimat Jamus Kalimusada diminta kembali, namun ditolak hingga menimbulkan terjadinya peperangan antara prajurit negara Giling Wesi dengan Amerta.
Selain pagelaran wayang kulit juga digelar tari tradisional yang menampilkan Tari Manuk Dadali, Tari Sri Panganti dan Tari Tamandhang.
Tari tradisional itu dimainkan 23 anak-anak seniman dari Sanggar Barata Pagojengan Pimpinan Heru Barata.


