Jateng Kejar Target Penurunan Stunting di Daerah Miskin Ekstrem
SEMARANG[Berlianmedia] – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meminta masyarakat turut gencarkan kampanye pencegahan stunting, sekaligus untuk menurunkan angka kemiskinan dan stunting.
āProgram-program penurunan stunting kita sosialisasikan secara intensif di kabupaten-kabupaten. Terutama kabupaten dan kota yang masuk zona merah miskin, karena biasanya stuntingnya juga tinggi,ā ujar Taj Yasin saat acara Internalisasi Pengasuhan Balita dalam rangka Percepatan Penurunan Stunting Tingkat Provinsi Jateng, di Hotel PO, Selasa (20/9).
Taj Yasin mengatakan stunting tidak hanya terkait kesehatan dan asupan gizi 1.000 hari pertama kehidupan, tetapi juga menyangkut lingkungan. Terkait lingkungan, berbagai program didorong untuk masyarakat, seperti jambanisasi dan rehab rumah tidak layak huni juga harus terus digenjot.
Selain itu, lanjutnya, pihaknya terus menggencarkan gerakan Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng, Jo Kawin Bocah untuk mencegah perkawinan usia dini, Satu OPD Satu Desa Binaan, dan sebagainya.
Menurutnya, berbagai program tersebut tidak hanya fokus pada pengentasan kemiskinan. Program yang dicanangkan juga diarahkan untuk sosialisasi tentang stunting dan pentingnya menjaga kesehatan diri dan generasi penerus bangsa.
āIni adalah momentum yang paling bagus, karena masyarakat tanpa disadari mereka menjadi lebih perhatian terhadap kesehatan. Kita sampaikan ini penting untuk kesehatanĀ panjenengan,Ā keturunan, dan warga ke depan. Maka kita datangi kampus, sekolah, dan pondok pesantren, karena remaja-remaja ini harus kita edukasi, dan meminum tablet penambah darah,ā tuturnya.
Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jateng Widwiono menuturkan, untuk mencapai target penurunan stunting sebesar 14% pada 2024, bukan hal yang mudah. Namun, semua tidak ada yang tidak mungkin apabila seluruh pihak bersatu, dan berkontribusi secara aktif dalam upaya percepatan penurunan stunting.
āAlhamdulillahĀ untuk Jawa Tengah dari hasil SSGI (Survei Status Gizi Indonesia) terakhir itu sudah dibawah angka nasional. Angka (stunting) nasional di angka 24,4%, sedangkan (angka stunting) Jawa Tengah di angka 20,9%. Artinya, Jawa Tengah sudahĀ on the track,ā ujarnya.
Terkait upaya penurunan stunting, tutur Widwiono, BKKBN Jateng membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) tingkat provinsi di 35 kabupaten/kota, 576 TPPS kecamatan, serta sebanyak 8.650 desa/kelurahan.


