9 Kali Tanpa Kemenangan! Inikah “Jatidiri” Klub PSIS?

PSIS Semarang harus kembali menelan kekalahan dalam laga tunda BRI Liga 1 2022/2023 setelah dipecundangi Persebaya dengan skor 2-1 di Stadion Jatidiri, Rabu (29/3).

Kekalahan ini menjadikan kekalahan beruntun sebanyak 6 kali yang dilakoni tim kebanggaan kota Semarang dan 9 kali pertandingan PSIS tidak dapat meraih 3 poin alias tidak mampu memenangkan pertandingan di kompetisi BRI Liga 1 2022/2023.

Laskar Mahesa Jenar terakhir memenangkan pertandingan saat melawan Dewa United (13/02) dengan skor 3-2 dan terakhir mendapatkan poin 1 atau hasil seri pada akhir Februari melawan Persita Tangerang. Kedua laga tersebut dijalani PSIS sebagai tuan rumah.

PSIS sendiri sekarang berada di peringkat 13 klasemen BRI Liga 1 2022/2023 dari 18 klub peserta dengan catatan 31 laga : 10 kali menang, 5 kali hasil imbang dan 16 kali mengalami kekalahan. Untuk agregat produktivitas gol memasukkan sebanyak 33 gol dan kemasukan 48 gol. Berada di peringkat 13 PSIS hanya mampu mendulang 35 poin terpaut 2 angka dari zona degradasi BRI Liga 1 2022/2023 meski musim ini tidak ada sistem degradasi di Liga 1.

15 kali menjalani laga kandang dan 16 kali menjalani laga tandang catatan PSIS sementara selama menjalani kompetisi BRI Liga 1 2022/2023. Rekor terbaik yang ditorehkan PSIS terjadi pada bulan Februari yaitu 2 kali menang dan 3 imbang mampu mendulang 9 poin. Sedangkan sejak bergulirnya kompetisi BRI Liga 1 2022/2023 sejak bulan Juli 2022 catatannya sebagai berikut : Bulan Juli : 1 menang & 1 kalah : 1 poin, Agustus : 2 menang & 3 kalah : 6 poin, September : 1 menang & 1 kalah & 1 imbang : 4 poin, Desember : 3 menang & 3 kalah : 9 poin, Januari : 2 menang & 2 kalah : 6 poin, Februari : 2 menang & 3 imbang :  9 poin dan Maret : 6 kalah.

Baca Juga:  BAZNAS Kota Semarang Gelar Santripreneur Gandeng FKPP

Selama Bulan Juli sampe Maret PSIS sendiri mengalami pergantian posisi Pelatih sampai 4 kali. Dari Sergio Alexandre kemudian digantikan asisten pelatih yang naik hingga sekarang Gilbert Aguis. Dari 4 kali pergantian pelatih tersebut rekor belum menang sekali masih dipegang oleh pelatih sekarang.

Data dari transfermarkt skuad PSIS mempunyai nilai 72,31 Milyar. Termasuk 5 besar skuad termahal peserta kompetisi BRI Liga 1 2022/2023. Dengan skuad yang mumpuni seharusnya PSIS bisa berada di track yang cukup bagus dan bahkan kemungkinan berada dalam 5 besar.

Perekrutan beberapa pemain asing terbaik di Liga Sepakbola Nasional dan juga nama-nama lokal ditambah dengan beberapa pemain muda untuk mengisi skuad PSIS selama musim 2022/2023 seharusnya bisa dioptimalkan.

Ada beberapa faktor yang membuat prestasi PSIS di musim ini melorot tajam. Salah satu alasan mendasar mungkin yang sering kali menjadi patokan sebuah tim adalah permasalahan banyak pemain cidera. Tetapi ada beberapa hal mendasar untuk membantah alasan tersebut yaitu cidera beberapa pemain inti harusnya bisa diakomodir atau digantikan oleh beberapa pemain yang lain.

Kemungkinan itu satu lalu jika memang pemain tersebut tidak bisa bermain selayak pemain yang cidera karena mungkin kualitas berada di bawahnya seharusnya jajaran manajemen kepelatihan bisa memberikan opsi yang memungkinkan dengan skema pola yang berbeda.

Harus mengubah cara bermain yang berbeda dengan kolektivitas pemain yang fit untuk bermain atau bisa memainkan seperti cara biasa tetapi ada koreksi atau perbaikan dengan back up pemain lain saat jalannya pertandingan.

Baca Juga:  DPRD Minta Bawaslu Lakukan Pengawasan Tahapan Pemilu Sesuai Administrasi

Faktor berikutnya dalam permasalahan segi bermain. Selama menjalani 31 pertandingan PSIS cenderung sering lebih bermain “aman”. Itu yang menjadi dasar akhirnya sering mengalami kekalahan. Kata “aman” disini bisa diartikan jika laga tandang hasil imbang sudah merasa terpuaskan sedangkan jika bisa memenangkan sebuah pertandingan adalah bonus dan kalaupun menderita kekalahan itu sudah biasa dan wajar dalam sebuah kompetisi sepakbola nasional.

Lalu masih ada faktor cara bermain. Entah bagaimana harus dideskripsikan seperti apa, kenyataan yang terjadi di lapangan, para pemain PSIS cenderung memainkan “jatidiri” yang asli, mereka lebih nyaman bermain sendiri, menunjukkan kualitas individu sendiri terutama jika menjalani laga kandang.

Kolektivitas pemain, jarak pemain yang terlalu lebar, kebiasaan memainkan long ball, menghindari bermain bola pendek, skema tidak tertata rapi, terutama dalam hal komunikasi antar pemain. Sebenarnya cukup banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh jajaran kepelatihan.

Pemain hanya menjalankan instruksi yang diterapkan oleh staff kepelatihan dan setidaknya staff kepelatihan bisa mengoreksi apapun hal yang terjadi di lapangan lalu juga bisa menjadi gambaran evaluasi untuk laga selanjutnya dan juga mencari kelemahan lawan selanjutnya.

Dan hal itu tidak terjadi selama PSIS menjalani kompetisi BRI Liga 1 2022/2023. Mereka semua lebih nyaman bermain seperti bermain seperti sebelumnya dan terus terulang. Tidak bisa melakukan perbaikan dalam hal kesalahan kecil pun acap kali terjadi.

Baca Juga:  Wali Kota Semarang Nyatakan Kota yang Dipimpinya Daulat Pangan, Saat Panen Bawang Merah

Memang musim ini adalah musim tanpa degradasi tapi dengan skuad yang seperti ini dan berada di zona bawah adalah salah satu musim terburuk untuk PSIS dan sangat memalukan. Bermain cemerlang saat Piala Presiden 2022 meski tidak menjadi juara malah justru berbanding terbalik saat kompetisi berjalan.

Evaluasi selalu diucapkan tetapi kenyataan yang terjadi di lapangan tidak ada evaluasi, hanya “evaluasi” menggantikan pemain yang sebenarnya bermain optimal tetapi malah di pertandingan selanjutnya tidak masuk dalam 11 pertama. Itulah evaluasi yang selalu ditunjukkan oleh PSIS bukan evaluasi sebenarnya dari cara bermain, memahami permainan lawan, kolektivitas antar pemain masih kurang dan pemain lebih ingin menonjolkan kemampuan inividunya.

Evaluasi yang sangat memalukan bagi klub yang mempunyai nama besar di persepakbolaan nasional. Mungkin sudah saatnya tidak berharap banyak untuk musim ini entah nanti bakal menang atau justru terperosok lebih dalam.

Hentikan harapan itu untuk klub kebanggaan kota Semarang. Harapan yang selalu menjadi palsu terlebih bukannya liga musim ini tanpa degradasi. Setidaknya sekarang bisa berpikir dan dilatih di dalam pikiran “bahwa musim ini adalah sebagai pijakan untuk menyongsong musim depan agar lebih baik dan berprestasi (semoga)”.

Karena jangan terlalu berharap banyak dengan performa tim yang selalu tidak bisa belajar dari kesalahan pertandingan sebelumnya. Yang ditakutkan harapan itu akan berbuah menjadi rasa kecewa dan jengkel. Itu kenapa rasa kecewa dan jengkel harus dibiasakan mulai sekarang untuk performa tim PSIS Semarang bukan nama besar PSIS Semarang.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!