Tuntaskan Stunting, Ita Gandeng Pengusaha Luncurkan Cempaka

SEMARANG[Berlianmedia]  – Wali kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu terus menunjukkan komitmennya untuk mengentaskan persoalan stunting di wilayahnya.

Pihaknya berkolaborasi bersama para pengusaha dengan melaunching program Cempaka (Cegah Stunting Bersama Pengusaha di Kota Semarang).

Menurutnya, program tersebut akan melengkapi program pengentasan stunting yang sudah ada sebelumnya. Program-program yang dimaksud tersebut antara lain, Rumah Pelita, Melon Mask, Garang Asem, dan program inovasi lainnya.

Program Cempaka merupakan program kolaborasi dengan berbagai stakeholder yang terdiri dari pemerintah maupun pengusaha khususnya pemilik hotel maupun Perkumpulan Penyelenggara Jasa Boga Indonesia (PPJI).

Dia ingin makanan yang berlebih dari hotel bisa diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Terlebih lagi, makanan dari hotel pastinya memiliki standar dan nilai gizi yang baik untuk dikonsumsi.

“Kami melakukan kerja sama dengan pengusaha, di antaranya pemilik hotel dan PPJI. Ini memanfaatkan makanan yang berlebih, jadi bukan makanan sisa. Dari pada dibuang atau tidak bermanfaat, bisa diberikan ke masyarakat yang membutuhkan. Karena makanan hotel pasti standarnya bagus. Sehingga dari itu, nanti akan dibagikan oleh Melon Mask (Milenial Gotong Royong Atasi Stunting di Kota Semarang),” ujar Ita panggilan akrab wali kota.

Baca Juga:  SBI Bersama Warga Bersihkan Pantai Teluk Penyu, 850 Kg Sampah Terangkat

Masalah stunting dan kemiskinan ekstrim menjadi isu yang mendapat perhatian Ita. Dengan adanya program Cempaka yang baru saja di launching, dia berharap kedua masalah tersebut dapat segera terselesaikan.

“Kita bisa efisien tidak menggunakan anggaran APBD, karena yang terbesar dalam penanganan adalah pemenuhan makanan tambahan, sehingga kami berharap, adanya program ini dapat menambah semangat agar stunting ataupun kemiskinan ekstrim bisa turun di kota Semarang,” tutur Ita.

Pemerintah Kota Semarang terus melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan masalah stunting dan kemiskinan ekstrim di Kota Semarang, mengingat, khususnya anak yang mengalami stunting dapat mempengaruhi tumbuh kembangnya yang berakibat pada masa depan mereka.

Melalui berbagai program yang sudah diluncurkan oleh Pemerintah Kota Semarang untuk menyelesaikan masalah stunting maupun kemisikinan ekstrim, diharapkan pada 2024 kota Semarang zero stunting dan zero kemiskinan ekstrim.

Baca Juga:  BPBD Salurkan 67 Tanki Air Bersih Untuk 2.060 Jiwa Terdampak El Nino

Atas inovasi tersebut, Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo pun memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Semarang. Dia menuturkan, bahwa apa yang dilakukan pemerintah kota Semarang dapat dicontoh pemerintah daerah lainnya.

Dia mengatakan mengajak stakeholder dari berbagai macam instansi pemerintah maupun swasta merupakan ide yang sangat inovatif dari Pemerintah Kota Semarang.

“Arahan bapak Presiden adalah pentahelix dengan menggerakkan seluruh stakeholder baik pemerintah ataupun swasta, sehingga tidak hanya pemerintah, TNI, Polri yang bergerak, tetapi juga pengusaha. Di Semarang, Saya kira ide yang sangat inovatif. Inilah yang bisa dicontoh pihak lain. Saya kira kalau kota-kota besar bisa menggerakkan perhotelan, yang memang mampu mengolah makanan dan bisa mengatasi stunting. Ini cocok sekali kerja sama dengan pengusaha,” ujarnya.

Baca Juga:  Eks Warga Kebonharjo Diminta Rawat Rusun Semarang Hebat

Dengan adanya program Cempaka ini, dia berharap dapat menyelesaikan dua masalah sekaligus di kota Semarang. Kedua masalah tersebut adalah masalah stunting dan masalah kemiskinan ekstrim.

“Warga yang stunting atau miskin ekstrim harus disentuh dari yang dekat dengan hotel itu, jadi hotel seperti menjadi orang tua asuh. Karena kalau konsumsi makanan cukup pastinya dia tidak dimasukkan dalam kemiskinan ekstrim nantinya,” tuturnya.

Kasus stunting di Kota Semarang per Agustus 2023 terdapat 1.022 kasus, angka tersebut turun dari sebelumnya pada Februari 2023 sebanyak 1.340 kasus. Dalam kurun waktu 6 bulan, kasus stunting di Kota Semarang juga turun 218 kasus. Sedangkan perihal masalah kemiskinan ekstrim di kota Semarang, saat ini angka tersebut berada pada 500 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.000 orang.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!