Ribuan Guru Kepung Monas Tuntut Keadilan
JAKARTA [Berlianmedia] – Kamis pagi, langit Jakarta diselimuti semangat perjuangan para pendidik. Ribuan guru dari berbagai penjuru Indonesia memadati kawasan Masjid Istiqlal sebelum bergerak menuju Monas. Mereka datang dengan mengenakan ikat kepala putih bertuliskan pesan solidaritas dan keadilan.
Ribuan guru dari berbagai organisasi pendidikan turun ke jalan, Kamis (30/10), menuntut kesetaraan dan keadilan dalam kebijakan pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) serta percepatan sertifikasi. Massa yang berkumpul sejak subuh di Masjid Istiqlal itu berjalan kaki menuju kawasan Monas, Jakarta Pusat, dalam aksi damai yang dijaga ketat oleh aparat kepolisian.
Aksi ini diikuti oleh gabungan organisasi guru seperti Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI), Perkumpulan Guru Madrasah Mandiri (PGMM), Persatuan Guru Inpassing Nasional (PGIN), Punggawa Guru Madrasah Nasional Indonesia (PGMNI), serta beberapa elemen pendidik lainnya.
Sekitar pukul 07.11 WIB, rombongan mulai berjalan kaki dari Istiqlal menuju Monas dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Suasana di sepanjang Jalan Medan Merdeka tampak padat, namun tertib. Petugas lalu lintas mengatur kendaraan agar tetap bisa melintas di jalur alternatif, sementara massa membawa spanduk dan poster bertuliskan “Guru Butuh Keadilan”, “Setara untuk Semua”, hingga “Sertifikasi Hak, Bukan Hadiah”.
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, menyampaikan bahwa pihaknya menurunkan sebanyak 1.597 personel untuk mengamankan jalannya aksi. “Pengamanan wilayah Jakpus 1.597 personel,” ujarnya kepada wartawan.
Susatyo menegaskan bahwa aparat akan bersikap persuasif dan mengedepankan pendekatan dialogis. “Kami ingin memastikan penyampaian pendapat ini berjalan aman, damai, dan tertib,” katanya.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Iptu Ruslan Basuki, mengingatkan peserta aksi agar tidak terprovokasi. “Silakan berorasi dengan tertib, jangan memprovokasi, jangan melawan petugas, dan mari kita hindari tindakan seperti membakar ban atau merusak fasilitas umum,” pesannya.
Aksi kali ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan jeritan panjang yang lama terpendam. Para guru menuntut pemerintah agar memberikan perlakuan setara dalam kebijakan pengangkatan dan kesejahteraan.
Ada tiga poin utama yang mereka suarakan:
1. Guru yang belum sertifikasi agar segera disertifikasi.
2. Guru yang sudah sertifikasi agar diberi kesempatan untuk inpassing.
3. Guru yang telah sertifikasi dan inpassing diangkat menjadi ASN.
Menurut perwakilan massa dari PGSI, kebijakan PPPK yang berjalan selama ini dinilai belum berpihak kepada guru madrasah dan guru swasta. “Kami bukan menuntut lebih, kami hanya ingin keadilan. Pendidikan akan kuat bila gurunya dihargai,” ujar salah satu orator di atas mobil komando.
Meski ribuan orang memadati area sekitar Monas dan Istana Negara, situasi tetap terkendali. Aparat kepolisian dan peserta aksi terlihat berinteraksi secara tertib. Tidak ada laporan kericuhan atau tindakan anarkis.
Aksi berlangsung hingga sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah menyampaikan orasi di depan Istana dan Kementerian Agama, massa perlahan membubarkan diri. Sampah aksi pun dikumpulkan bersama oleh para guru dan petugas kebersihan, sebagai simbol bahwa mereka bukan hanya pengajar, tapi juga teladan dalam menjaga ketertiban.
Rifan Isrofi salah peserta dari KabupatenSemarang yang melaporkan langsung dari lokasi, menggambarkan suasana penuh haru saat lagu “Hymne Guru” berkumandang di tengah aksi. Banyak guru menitikkan air mata, mengingat perjuangan panjang yang belum juga mendapat kejelasan dari pemerintah.
Di antara ribuan massa, tampak spanduk besar bertuliskan “Guru Madrasah Bukan Guru Kelas Dua”. Kalimat itu menjadi cermin kegelisahan para pendidik yang selama ini merasa termarjinalkan dalam sistem birokrasi pendidikan nasional.
“Negeri ini berdiri karena guru. Tapi mengapa nasib guru masih terus diuji?” ujar seorang peserta aksi dengan nada getir.
Para peserta aksi berharap pemerintah segera menindaklanjuti tuntutan mereka dengan langkah konkret, bukan sekadar janji. Mereka menegaskan bahwa perjuangan ini bukan semata soal uang, tetapi soal martabat profesi pendidik.
“Kami ingin diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional yang adil,” kata salah satu perwakilan PGMM di tengah kerumunan.
Menjelang siang, arus lalu lintas di sekitar Monas kembali normal. Namun gema orasi para guru masih terngiang di udara Jakarta: seruan untuk keadilan, penghargaan, dan perubahan nyata bagi wajah pendidikan Indonesia.


