Perempuan Bangkit, UMKM Sejahtera, Jawa Tengah Tersenyum

SALATIGA [Berlianmedia] – Dengan semangat kebersamaan dan pemberdayaan ekonomi perempuan, Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) se-Jawa Tengah menggelar Rapat Pleno DPW dan DPC bertema “Bangkit Bersama: Perempuan Berdaya, UMKM Sejahtera” di Pendopo Pakuwon, Kantor Pemerintah Kota Salatiga, Kamis (16/10/). Acara ini menjadi momentum penting menguatkan peran perempuan dalam pembangunan ekonomi daerah.

Suasana hangat, penuh semangat, dan sarat makna menyelimuti Pendopo Pakuwon Kantor Pemerintah Kota Salatiga. Di tempat bersejarah itu, puluhan perempuan dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah berkumpul dalam satu tekad: membangun kemandirian dan kesejahteraan lewat pemberdayaan ekonomi perempuan.

Gerakan Wanita Sejahtera (GWS) se-Jawa Tengah menggelar Rapat Pleno Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dengan tema “Bangkit Bersama: Perempuan Berdaya, UMKM Sejahtera.” Acara ini menjadi wadah konsolidasi sekaligus refleksi atas kiprah tiga tahun perjalanan GWS dalam memperkuat peran perempuan di tengah tantangan ekonomi nasional.

Acara dihadiri Pembina DPC GWS Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, Ketua DPW GWS Jawa Tengah, Dr. Hj. Dina Ali Hanafia, serta Ketua DPC GWS Kota Salatiga, Dra. Astutik Sakdiyah, M.Pd. Kehadiran mereka menambah bobot sekaligus memperkuat komitmen organisasi perempuan ini dalam meneguhkan peran sosial dan ekonomi kaum perempuan di tingkat akar rumput.

Momentum tersebut dibuka dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas ulang tahun ke-3 Gerakan Wanita Sejahtera. Lantunan doa dan tepuk tangan hangat mewarnai momen sederhana namun sarat makna itu.

Dalam sambutannya, Ketua DPW GWS Jawa Tengah, Dr. Hj. Dina Ali Hanafia, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Salatiga atas dukungan yang diberikan terhadap pelaksanaan pleno tersebut. Ia menegaskan bahwa GWS bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah gerakan sosial yang tumbuh dari keikhlasan dan semangat mandiri para perempuan di Jawa Tengah.

“Gerakan Wanita Sejahtera ini bukan organisasi yang mengandalkan dana besar, melainkan dibangun atas dasar ketulusan. Para perempuan di GWS berjuang dengan keikhlasan, karena kami percaya bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Apa yang kami lakukan adalah bentuk pengabdian dan tabungan akhirat,” ujar Dina penuh keyakinan.

Lebih lanjut, Dina menjelaskan bahwa perempuan GWS bukan hanya simbol kelembutan, tetapi juga pilar ketangguhan keluarga. Mereka menjadi penggerak utama ekonomi rumah tangga, terutama melalui sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Melalui tema Bangkit Bersama: Perempuan Berdaya, UMKM Sejahtera, kita ingin menegaskan bahwa perempuan bukan hanya pendamping, tetapi pelaku aktif dalam mewujudkan kesejahteraan,” imbuhnya.

Ketua DPC GWS Kota Salatiga, Dra. Astutik Sakdiyah, M.Pd., menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi lintas daerah untuk memperkuat jaringan usaha dan solidaritas antaranggota. Menurutnya, pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya dengan pelatihan keterampilan, tetapi juga harus dibarengi dengan pembentukan mental wirausaha dan kesadaran kolektif.

“Kami ingin para perempuan tidak hanya bisa membuat produk, tapi juga memahami nilai jual, strategi pemasaran, dan pentingnya menjaga kualitas. Di GWS, kami belajar saling menguatkan,” tutur Astutik.

Sementara itu, Pembina DPC GWS Kota Salatiga, Retno Robby Hernawan, menyebut bahwa Pemerintah Kota Salatiga selalu terbuka terhadap inisiatif masyarakat, terutama yang menyentuh langsung aspek pemberdayaan ekonomi. Ia menilai, kiprah GWS sejalan dengan semangat pemerintah dalam membangun kota yang inklusif dan berkeadilan gender.

“Kami melihat GWS telah memberi warna baru dalam pemberdayaan masyarakat. Kemandirian ekonomi perempuan tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat,” ujar Retno.

Pleno kali ini juga menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, membuka akses pelatihan digital marketing, dan memperluas jaringan UMKM binaan berbasis komunitas perempuan.

Suasana kekeluargaan tampak begitu kental di sepanjang kegiatan. Para peserta tidak hanya berdiskusi soal kebijakan dan strategi, tetapi juga berbagi pengalaman inspiratif dalam membangun usaha, menghadapi krisis, hingga menyeimbangkan peran antara keluarga dan karier.

Di penghujung acara, doa bersama dipanjatkan. Di antara tepuk tangan dan senyum penuh harapan, tersirat keyakinan bahwa gerakan perempuan tidak akan berhenti di ruang rapat, melainkan akan terus tumbuh menjadi arus perubahan nyata di tengah masyarakat.

Rapat pleno ini menjadi bukti bahwa semangat perempuan Jawa Tengah tidak pernah padam mereka terus bangkit, berdaya, dan menebar kesejahteraan lewat kerja, solidaritas, dan keikhlasan.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *