Pemprov Jateng Gandeng Unicef Wujudkan Pesantren Ramah Anak, Perempuan dan Difabel

PEKALONGAN [Berlianmedia]- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng) melibatkan United Nations Children’s Fund (Unicef) untuk lebih mewujudkan lembaga pendidikan pondok pesantren (ponpes) ramah anak, perempuan, dam difabel. Roadmap atau perencanaan peta jalannya terus dimatangkan.

Hal itu dikatakan Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen dalam Sarasehan Kepesantrenan bertema ‘Pesantrenku Ramah sebab Islam itu Ramah’, di Pondok Pesantren Al Fusha, Kabupaten Pekalongan, Kamis (7/8).

“Kami rangkul Unicef. Lembaga ini dianggap punya kapasitas menurut penilaian kalangan eksternal, termasuk dari kalangan orang tua santri,” katanya.

Sarasehan dihadiri kalangan pengasuh pondok pesantren, diantaranya Gawargis Muda Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Mereka memiliki inisiatif gerakan yang sama dalam mewujudkan ponpes yang ramah anak, perempuan, dan difabel.

Baca Juga:  Wali kota Semarang Optimis Kelurahan Jatirejo Jadi Juara Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Jateng

Lebih lanjut, Taj Yasin mengatakan, pelibatan pihak eksternal seperti Unicef dalam mewujudkan pesantren ramah, karena UNICEF memiliki metode atau sudut pandang lain selain internal.

Hal itu bisa digunakan untuk saling-silang melengkapi metode perwujudan pesantren ramah anak bersama dengan kalangan internal pondok pesantren.

“Jadi kalau penilainnya (metode) dari internal saja kurang kuat,” ucapnya.

Gus Yasin sapaan akrab Wakil Gubernur Jateng, menambahkan, bilamana ada kasus di dunia pendidikan seperti pondok pesantren, maka harus terbuka atau transparan. Jika ditemui ada perundungan, harus berani diangkat dan disuarakan. Kemudian diikuti dengan solusi.

“Jangan dipendam dan nanti malah menjadi gunung es,” katanya.

Setiap menemui permasalahan, kata Taj Yasin, harus dibicarakan dengan komunikasi yang baik. Dengan keterbukaan, masyarakat akan tahu dan mengerti karena pondok pesantren mau kooperatif.

Baca Juga:  Tradisi Yaa Qowiyyu Klaten Digelar Lagi Dan Meriah

Taj Yasin yang juga Pengasuh Ponpes Al Anwar 4, Sarang, Kabupaten Rembang itu, mengatakan, kalangan pesantren harus memiliki komunikasi yang baik dengan orang tua siswa. Khususnya saat orang tua memercayakan putra-putrinya mendaftar di ponpes.

“Harus ada deteksi dini dala mengatasi permasalahan. Screening-nya melalui pembicaraan dengan orang tua. Ponpes harus tahu latar belakang calon anak didik, dan permasalahannya apa,” katanya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!