Manisnya Usaha Mandiri: Kisah UMKM Gula Jawa Ibu Endah di Dusun Kuncen

SEMARANG [Berlianmedia] – Di tengah arus modernisasi yang kian deras, masih ada sosok-sosok yang setia menjaga warisan kuliner tradisional. Salah satunya adalah Ibu Endahharyati, pengusaha gula jawa asal Dusun Kuncen, Desa Karangduren, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang. Sejak 2015, beliau mengelola usaha ini secara mandiri, meneruskan jejak mertuanya yang lebih dahulu meracik manisnya gula jawa.

Kisahnya terungkap saat Tim KKN MIT-20 Posko 73 UIN Walisongo Semarang berkunjung dalam rangka program pengabdian masyarakat untuk mendukung dan mempromosikan potensi lokal.

“Semua proses saya kerjakan sendiri, dari memasak hingga mencetak. Hanya untuk mengambil legen saya meminta bantuan orang lain,” ujar Bu Endah.

Bahan baku gula jawa berasal dari legen, yaitu nira kelapa yang diperoleh dari manggar pohon kelapa, serta gula pasir. Dalam satu kali produksi, ia memerlukan 1–2 kendi legen dan 3 kilogram gula pasir. Proses memasak membutuhkan waktu sekitar 4 jam dan menghasilkan ±9 kilogram gula jawa. Setelah matang, gula dituangkan ke cetakan, didinginkan, lalu dibungkus plastik agar awet hingga satu bulan.

Baca Juga:  Dari Ruang Kelas ke Panggung Teknologi Hijau, Putri Wagub Jateng Toreh Prestasi Coding Nasional

Kendala utama yang dihadapi adalah waktu produksi yang lama dan ketersediaan bahan baku yang menurun saat musim hujan. “Kalau hujan, legen yang didapat lebih sedikit, otomatis produksi juga berkurang,” jelasnya.

Menariknya, gula jawa buatan Bu Endah tidak dipasarkan di pasar umum, melainkan dijual langsung kepada pembuat jenang di sekitarnya atau pesanan khusus untuk hajatan. Harga jualnya Rp20.000 per kilogram.

Meski pasarnya terbatas, usaha ini tetap menjadi penggerak ekonomi lokal sekaligus menjaga cita rasa tradisi. Bagi Bu Endah, gula jawa bukan sekadar produk, melainkan bagian dari identitas kuliner desa.

Kunjungan ini menjadi pelajaran berharga bagi mahasiswa KKN dan masyarakat, bahwa ketekunan, kesabaran, dan kecintaan pada tradisi mampu menghasilkan sesuatu yang manis bukan hanya di lidah, tetapi juga di kehidupan.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!