Mafindo & Praktisi Media Serukan Literasi AI dan Transformasi Digital Hadapi Disinformasi

KABUPATEN SEMARANG [Berlianmedia]- Presidium Mafindo, Ir. Farid Zamroni Mardizanyah menekankan, bahwa kecerdasan artifisial (AI) harus menjadi alat untuk melawan hoaks, bukan memperburuk situasi informasi publik.

Dalam paparannya sebagai salah satu narasumber di Workshop & Temu Rekan Media dengan Gubernur Jawa Tengah, Ia menyoroti penyebaran informasi palsu kini tidak hanya menggunakan teks, tetapi juga memanfaatkan gambar, suara, hingga video hasil rekayasa.

Farid menjelaskan penggunaan metode SIFT (Stop, Investigate the source, Find better coverage, Trace claims to original context) sebagai pendekatan global yang efektif dalam mendeteksi manipulasi informasi. Jadikan metode SIFT, sebagai filter awal sebelum menerima dan menyebarkan informasi.

“Masyarakat harus dibiasakan untuk menghentikan sejenak konsumsi informasi, memeriksa sumbernya, mencari pembanding, dan melacak konteks aslinya sebelum mempercayai atau membagikan sebuah konten,” jelasnya di Kabupaten Semarang, Senin (8/12).

Baca Juga:  XL Axiata Hadirkan 100 XL AXIS Service Point

Farid juga menyoroti maraknya foto dan video rekayasa, mulai dari gambar banjir Paris pada tahun 2016 lalu, yang dikontekskan ulang hingga penyalahgunaan wajah publik melalui deepfake. Menurutnya, inilah tanda kuat bahwa masyarakat hidup di era post-truth, di mana emosi mengalahkan fakta.

Farid menutup dengan pernyataan bahwa AI ke depan akan sangat membantu upaya pemberantasan hoaks, asalkan dimanfaatkan secara etis, bertanggung jawab dan diajarkan dengan benar kepada publik.

Alami Guncangan Besar

Sementara itu, praktisi media Andriansyah J menggambarkan kondisi industri media yang sedang mengalami guncangan besar. Banyak media tutup, audiens bergeser ke digital dan belanja iklan pindah ke platform berbasis algoritma.

“Media hari ini tidak hanya bersaing soal kecepatan, tetapi soal relevansi. Yang tidak adaptif akan tertinggal,” ungkapnya.

Baca Juga:  Jokowi Resmikan PLTS Terapung Cirata 192 MWp

Andriansyah menambahkan, bahwa disrupsi digital membawa peluang, dengan jangkauan luas, interaksi tinggi dan konten yang bisa dipersonalisasi, tetapi juga ancaman besar seperti hoaks, bias algoritma, hingga fragmentasi audiens.

Andriansyah juga menyoroti fenomena homeless media, yakni media yang sepenuhnya hidup di platform sosial.

“Model ini cepat dan cocok untuk Gen Z, tapi risikonya besar, kredibilitas mudah tergerus jika verifikasi tidak menjadi standar,” ujarnya.

Untuk bertahan, Andriansyah juga menegaskan, bahwa media harus mengembangkan jurnalisme hibrida, memanfaatkan analitik audiens, berkolaborasi dengan kreator dan memperkuat konten lokal/hiperlokal di berbagai platform seperti TikTok, YouTube, website, hingga podcast.

“Media masa depan adalah media yang hidup dalam ekosistem multi-platform. Ia tidak hanya hadir di berbagai kanal, tetapi memahami cara bekerja di masing-masing kanal,” pungkas Andriansyah dalam paparannya.

Baca Juga:  Ganjar Dinobatkan Jadi Dewan Kehormatan Seni Budaya Banten

Kedua narasumber dalam paparannya sepakat, bahwa dalam menghadapi maraknya sistem AI bagi media massa dan dalam dunia jurnalistik, literasi digital dan literasi AI harus menjadi prioritas publik, lembaga pendidikan dan institusi.

 

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!