Laode: Dokter Tak Jelaskan Kematian Korban Tragedi Kanjuruhan

JAKARTA[Berlianmedia] – Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan seratusan orang belum juga menemukan titik terang meski saat ini sudah ditetapkan sebanyak 6 orang menjadi tersangka dalam tragedi tersebut.

Bahkan Anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) Laode M Syarif mengungkapkan fakta baru terkait Tragedi Kanjuruhan. Laode yang pernah menjabat sebagai salah satu pimpinan KPK itu mengatakan berbagai penyebab kematian sengaja tak dibeberkan. Para dokter tak berani mengungkapnya.

“Betul, ada keengganan dari dokter-dokter yang memeriksa untuk memberikan keterangan kematian mengapa ini meninggal. Ada rusuk yang patah, tangan yang terkilir, ada mata yang benar-benar merah, itu mereka belum berani memberikan kesaksian itu,”  ujar Laode di DPP Perindo, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/10).

Para dokter ini dibayangi dengan proses penyelidikan dan penyidikan yang ruwet. Salah satunya terkait pemanggilan sebagai saksi selama proses pemeriksaan.

Baca Juga:  Kejurprov Junior dan Popda Provinsi Berakhir, Perpani Kabupaten Semarang Torehkan Prestasi

Menurut Laode, para dokter di Malang disebut-sebut juga mendapat tekanan agar tidak membeberkan penyebab pasti kematian para korban.

“Walaupun banyak yang menduga bahwa nanti dipanggil jadi saksi, disusah-susahin, pokoknya ada semacam pressure ke para dokter itu,” tuturnya.

Demi mendapat kepastian terkait penyebab kematian korban, pihaknya pun meminta keterangan kematian kepada salah satu pensiunan dokter. Pensiunan tersebut dipastikan mampu memberikan keterangan yang valid.

Dalam pernyataannya Laode juga mengungkapkan cukup kesal dengan hal itu. Padahal dokter telah disumpah untuk memberikan keterangan yang sesuai dengan kejadian.

“Terus terang saya agak kesal, dokter itu ada sumpahnya lho. Seharusnya dia berani memberikan keterangan, seperti itu,” ujar Laode.

Laode menuturkan, ada beberapa pihak yang mencoba menghalangi proses autopsi korban Tragedi Kanjuruhan.

Baca Juga:  Pemilik Klub Liga 1 dan Liga 2 Apresiasi PSSI Terkait Sistem Kompetisi

Dia menyebut dalam diskusi Kanjuruhan kemarin, sebenarnya banyak keluarga korban yang meninggal dalam tragedi itu rela dan mau untuk dilakukan autopsi, namun ada pihak yang menghalangi.

“Kami berharap penyidik Polda Jatim mau melakukan autopsi. Banyak keluarga yg rela anaknnya diautopsi, yang penting ada pendampingan dari TGIPF.  Tapi setelah itu banyak yang datang dan diceramahin bahwa anaknya sudah tenang di alam sana dan menjadi tertekan. Sampai akhirnya membuat surat pernyataaan untuk tidak ingin melakukan autopsi lagi. Sebenarnyan mereka merasa tidak nyaman,”  tuturnya.

Meski begitu, tutur Laode, autopsi akan tetap dilakukan pada 5 November 2022 mendatang. Laode pun tidak menyebutkan siapa pihak yang melakukan intervensi itu.

“Untuk autopsinya, tanggal 5 November. Ini dilakukan dalam rangka proses penyidikan tahapan perkara. Penyidik Polda Jatim bersama forensik Jatim akan melakukan autopsi. Siapa pihak tersebut? ada pihak yang datang dan berpakaian biasa,”  ujarnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!