Komnas HAM: Aremania terjun ke lapangan untuk support Pemain Arema FC
MALANG[berlianmedia] – Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menemukan fakta yang berbeda dalam tragedi Kanjuruhan. Saat Aremania turun ke lapangan usai laga Arema FC melawan Persebaya itu bukan untuk menyerang para pemain Arema FC tetapi untuk menyemangati para pemain Arema FC.
Setelah investigasi selama 3 hari dalam penelusuran Komnas HAM, lanjutnya, terdapat  keterangan yang sinkron antara Aremania dan para pemain Arema FC.
“Jadi khan selama ini ada beberapa di awal-awal dikembangkan bahwa kericuhan dipicu suporter merangsek ke tengah lapangan. Mereka disebut ingin menyerang pemain (Arema FC). Setelah kami telusuri klaim ini dan kami temui beberapa Aremania, termasuk meng-crosscheck para pemain. Mereka merangsek itu karena ingin memberikan semangat dan berkomunikasi dengan para pemain,” ujarnya spserti dikutip dalam video yang diunggah di YouTube Komnas HAM, Rabu (5/10).
Pengakuan Aremania tetap berbesar hati dan satu jiwa, meski tim kesayangannya kalah. “Mereka mengatakan agar Arema FC jangan menyerah,” tuturnya.
Komnas HAM kemudian melakukan cek silang kepada pemain Arema FC, apakah pengakuan tersebut benar.
“Kami berdialog dengan para pemain Arema, termasuk pemain yang terakhir berada di lapangan. Mereka menyampaikan hal yang sama. Mereka bahkan menunjukkan video yang diambil oleh orang lain. Isinya, pemain dan suporter saling berpelukan dan merangkul satu sama lain,” ujarnya.
Dia juga menyebut tidak ada satu pun pemain Arema FC yang luka karena dikeroyok Aremania yang kecewa tim yang didukungnya kalah. “Jadi para pemainnya mengatakan tidak seperti itu (ada penyerangan dari Aremania),” tuturnya.
Anam menambahkan, meski mendapatkan pengakuan yang sinkron antara pemain dan pendukung Arema FC, tetapi Komnas HAM bakal terus mendalami. Sebab, bila dilihat dari sejumlah video yang beredar di media sosial, ada jeda waktu dari wasit membunyikan peluit panjang, hingga akhirnya terjadi kericuhan di Stadion Kanjuruhan.
“Di lapangan itu kondisinya sebenarnya cukup terkendali. Itu bila kita lihat video, lalu mendengarkan dari pihak suporter, perangkat pertandingan hingga pemain, terungkap bahwa kondisi lapangan sempat terkendali selama beberapa menit,” katanya.
Namun, ia menyayangkan, kondisi yang sempat kondusif itu malah berakhir ricuh. Menurut Anam, sejumlah pihak menyampaikan ke Komnas HAM bahwa kericuhan dipicu adanya penembakan gas air mata.
“Ada sejumlah pihak mengatakan ke kami karena ditembak gas air mata menyebabkan kepanikan dan menyebabkan ada konsentrasi (penonton) di sana. Di beberapa pintu, ada yang pintunya terbuka meski sempit, tetapi ada juga pintu (akses ke luar) yang masih tertutup. Itu yang membuat banyak jatuhnya korban,” tutur dia.
Ia mengatakan aksi Aremania merangsek ke lapangan bukan untuk membahayakan pemain Arema. Tetapi kemudian malah berujung ricuh hingga terjadi penembakan gas air mata.
Temuan awal gas air mata membuat Anam menanyakan perihal tersebut ke Aremania, Sebab kondisi masih terkendali kendati ada beberapa suporter yang turun ke lapangan.
“Pertanyaannya sekarang, kalau dalam 15 sampai 20 menit itu situasinya masih kondusif, apakah diperlukan gas air mata yang membuat semua penonton panik,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan kebanyakan korban yang meninggal dunia karena kehabisan oksigen.
“Pertama adalah kondisi jenazahnya banyak yang mukanya biru. Jadi, muka biru ini banyak,” kata Anam. “Ini yang menunjukkan kemungkinan besar karena kekurangan oksigen karena juga gas air mata, jadi muka biru, terus ada yang matanya merah, keluar juga busa,” ujarnya.


