Jejak Kiai Sholeh Darat dalam Napas Dakwah Muhammadiyah
SEMARANG[Berlianmedia] – Perjalanan dakwah Islam di Nusantara tidak pernah lahir dari ruang kosong. Setiap gerakan pembaruan berpijak pada tradisi keilmuan para ulama pendahulunya. Dalam konteks itu, hubungan antara Kiai Sholeh Darat dari Semarang dan KH Ahmad Dahlan dari Yogyakarta menjadi mata rantai penting dalam sejarah pencerahan Islam Indonesia. Keduanya tidak hanya tokoh keagamaan, tetapi juga pelopor perubahan sosial yang menegaskan bahwa Islam harus hadir membawa manfaat nyata bagi kehidupan umat.
Kiai Sholeh Darat, ulama kharismatik asal Semarang pada abad ke-19, dikenal luas sebagai cendekiawan yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan kepedulian sosial. Beliau menjadi guru dari banyak tokoh besar, termasuk KH Ahmad Dahlan muda—yang kala itu masih bernama Muhammad Darwis. Dalam masa pengembaraan ilmiahnya, Ahmad Dahlan menimba ilmu kepada Kiai Sholeh Darat sebelum melanjutkan studi ke Tanah Suci Makkah. Dari sang guru inilah, Dahlan memperoleh pelajaran berharga tentang pentingnya memahami Al-Qur’an secara rasional dan kontekstual, bukan sekadar melafalkan tanpa penghayatan.
Langkah revolusioner Kiai Sholeh Darat dalam menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa menjadi tonggak penting dakwah pencerahan. Ia ingin agar Islam dipahami masyarakat secara utuh, membumi, dan mudah diakses. Dakwah baginya bukan milik kalangan elit, melainkan sarana pencerahan bagi semua lapisan umat. Gagasan ini kelak menginspirasi KH Ahmad Dahlan dalam merintis Muhammadiyah (1912), gerakan tajdid yang menekankan rasionalitas, pendidikan, dan amal sosial.
Muhammadiyah tidak lahir dari kevakuman ide, tetapi merupakan kelanjutan dari tradisi keilmuan dan dakwah yang telah diletakkan oleh para ulama sebelumnya, termasuk Kiai Sholeh Darat. Jika Sholeh Darat menanamkan benih rasionalitas dan pembumian ajaran Islam, maka Ahmad Dahlan menumbuhkannya dalam bentuk organisasi modern yang bergerak melalui pendidikan, kesehatan, dan amal sosial.
Dalam konteks Kota Semarang, semangat keilmuan Kiai Sholeh Darat dan semangat tajdid KH Ahmad Dahlan berpadu nyata dalam berbagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Sekolah, rumah sakit, dan lembaga ekonomi Muhammadiyah di kota ini merupakan wujud konkret dakwah pencerahan yang menyejahterakan. Kini, AUM tidak hanya wadah pelayanan umat, tetapi juga bagian dari ekosistem hukum dan regulasi nasional maupun daerah. Tantangannya bukan hanya mengelola amal sosial, tetapi memastikan seluruh aktivitas sesuai prinsip good governance, regulasi usaha, dan nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar dakwah.
Dalam era digital dan pasar terbuka, strategi pemasaran produk AUM baik pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi—harus diiringi kesadaran hukum dan etika dakwah. Semangat Kiai Sholeh Darat dan KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa aktivitas ekonomi umat harus berlandaskan kejujuran, keadilan, dan kebermanfaatan. Dakwah ekonomi bukan sekadar mencari laba, melainkan memperkuat kemandirian dan martabat umat.
Kini, perjuangan Kiai Sholeh Darat mendapat perhatian serius melalui pengusulan gelar Pahlawan Nasional oleh PCNU Kota Semarang bersama para akademisi dari UIN Walisongo, UNNES, UNDIP, dan budayawan. Pemerintah Kota Semarang sejak masa Hendrar Prihadi, Mbak Ita, hingga Wali Kota Agustina Wilujeng terus melanjutkan gagasan ini. Dukungan lintas ormas, termasuk Muhammadiyah, NU, LDII, dan tokoh masyarakat, memperkuat ikhtiar tersebut.
Puncaknya, digelar Seminar Internasional di Hotel Patra Jasa Semarang yang menghadirkan para ahli sejarah dari Indonesia, Belanda, Malaysia, Singapura, dan Tiongkok. Acara gala dinner yang dihadiri tokoh lintas organisasi menjadi simbol persatuan umat dalam menghormati jasa ulama pencerah bangsa.
Semoga cita-cita menjadikan Kiai Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional segera terwujud. Sebab, melalui beliau kita belajar bahwa dakwah bukan hanya ceramah dan mimbar, melainkan perjuangan ilmu, keberanian berpikir, dan pengabdian untuk kemaslahatan umat. Dari Semarang hingga Yogyakarta, dari surau kecil hingga universitas modern, napas dakwah Kiai Sholeh Darat terus berhembus dalam gerakan Muhammadiyah menjadi suluh penerang Islam yang berkemajuan dan mencerahkan semesta.
Artikel ini menelusuri hubungan historis dan intelektual antara Kiai Sholeh Darat dan KH Ahmad Dahlan, menegaskan bahwa semangat dakwah Muhammadiyah di Semarang merupakan kelanjutan dari tradisi pencerahan Islam yang telah ditanamkan oleh para ulama terdahulu. Narasi ini juga mengaitkan perjuangan dakwah dengan penguatan Amal Usaha Muhammadiyah serta upaya lintas ormas mengusulkan Kiai Sholeh Darat sebagai Pahlawan Nasional.
Oleh : Dr. H. AM. Jumai, SE., MM. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS), Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Semarang, dan penggerak dakwah amar ma’ruf nahi munkar di Jawa Tengah.








