Jateng Kini Miliki Sebanyak 2.369 Desa Mandiri Energi
SEMARANG[Berlianmedia] – Sebanyak 2.369 desa mandiri energi di Provinsi Jawa Tengah diyakini dapat melepaskan ketergantungan masyarakat pada energi fosil. Desa mandiri energi diharapkan dapat membuat masyarakat beralih menuju energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Program desa mandiri energi digagas oleh Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng sejak 2016. Hingga kini terus mengalami perkembangan. Kehadiran desa mandiri energi di Jateng diharapkan dapat mewujudkan kedaulatan energi yang berbasis pada potensi lokal.
“Tidak hanya ketahanan energi, tapi kita ingin kedaulatan energi yang lebih tinggi. Kalau ketahanan kan cuma tahan, tapi sumbernya bisa dari mana saja yang penting tahan. Kalau kedaulatan lebih mengandalkan dari sumber potensi lokal. Kita sadari betul bahwa potensi lokal harus digali, diidentifikasi, dan dikembangkan,” ujar Plt Kepala Dinas ESDM Jateng, Boedyo Dharmawan, Jumat (7/7).
Sebanyak 2.369 desa mandiri energi di Jateng itu menggunakan jenis energi terbarukan yang berbeda-beda, sesuai potensi yang dimiliki. Misalnya pembangkit listrik tenaga surya, hidro, panas bumi, sampah, serta pemanfaatan energi non-listrik seperti biodiesel, biogas, biomasa, dan gas rawa.
Menurut Boedya, masyarakat yang tinggal di desa mandiri energi sudah mulai beralih dari energi fosil menuju energi terbarukan. Potensi energi terbarukan di suatu daerah dikembangkan dan dimanfaatkan untuk menggantikan energi fosil supaya tidak ketergantungan.
Misalnya Desa Pegundungan, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, yang kini memanfaatkan gas rawa atau biogenic shallow gas (BGS). Masyarakat di wilayah itu tidak lagi bergantung pada LPG. Hingga kini gas rawa di desa Pegundungan mampu mengaliri 100 KK.
“Yang gas rawa di Banjarnegara itu 100 KK bisa memanfaatkannya, walaupun awalnnya kita pancing 25 KK. Kita target segitu, tapi mereka mulai mengembangkan dirinya, entah itu iuran swadaya atau juga melalui APBDes,” tutur Boedya.
Selain itu, Dusun Kalipondok, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan memanfaatkan aliran air dari Telaga Pucung. Masyarakat di sana tidak bergantung pada aliran listrik dari PLN.
“Saat ini ada desa yang gak mau listrik PLN karena sudah nyaman menggunakan itu (PLTMH). Dia dikelola masyarakatnya, kelembagaannya juga dibuat. PLN mau masuk sementara mereka gak mau (menolak),” ujarnya.
Boedya menambahkan, penggunaan energi terbarukan di desa mandiri energi sangat penting sebagai transisi dari energi fosil. Pasalnya bahan bakar fosil yang selama ini digunakan masyarakat memiliki dampak signifikan terhadap lingkungan seperti perubahan iklim.
“Jadi energi fosil kan memberikan dampak gas rumah kaca, sehingga mempengaruhi suhu di litosfer dan mempengaruhi iklim. Maka muncul la nina, el nino, itu akibat perubahan iklim. Ada banyak fenomena yang kita rasakan karena bagian dari dampak efek gas rumah kaca dari sumber energi berbasis fosil,” tuturnya
Dia menuturkan, transisi energi fosil menuju energi terbarukan merupakan salah satu kesepakatan global dalam G-20. Dinas ESDM Jateng pun terus mendorong masyarakat untuk mulai beralih menggunakan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.


