Jadilah Pemilih Cerdas di Pemilu 2024

SEMARANG[Berlianmedia] – Menjelang Pemilu, di saat para kandidat dan partai politik (parpol) aktif berkampanye merebutkan kursi presiden, kepala daerah, atau legislatif, para pemula jangan tinggal diam begitu saja.

Di era demokrasi ini harus dapat dimanfaatkan baik, pemilih justru mulai cari tahu siapa yang akan dipilih pada hari pencoblosan nanti, mengingat suara menentukan nasib bangsa dan negara ini ke depan.

Calon Legislatif (Caleg) DPRD Jateng dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jateng Djoko Nurhadi mengatakan pemilih yang cerdas merupakan aspek yang tidak bisa dikesampingkan dalam mewujudkan Pemilu yang berintegritas.

“Pemilih lama maupun pemilih pemula, semua harus menjadi pemilih yang cerdas. Untuk menjadi pemilih cerdas, mereka harus berperan aktif dalam mencari tahu partai politik atau kandidat mana yang layak menerima suaranya,” ujar Djoko Caleg DPRD Jateng dari Dapil I Kota Semarang.

Menurut Djoko, semua pemilih tidak terkecuali pemilih pemula harus menyadari betul pentingnya menjadi pemilih karena satu suara sangat berarti demi perbaikan bangsa.

Baca Juga:  Dapat Surat Tugas dari PSI, Ade Bhakti Merapat ke Partai Koalisi Indonesia Maju

Dalam melakukan pemilihan, tutur Djoko, para pemilih dapat mempertimbangkan dengan rasional aspek integritas dan kapasitas calon-calon peserta Pemilu. Dengan pertimbangan yang matang akan lahir anggota legislatif dan eksekutif yang dapat membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik dan dapat memperbaiki keterpurukan yang telah terjadi selama ini.

Salah satu bentuk kecerdasan dan partisipatif pemilih adalah dengan menolak praktik politik uang. Menurutnya, seluruh pemilih harus menyadari bahwa praktik ini justru akan merusak demokrasi.

Satu hal yang tidak boleh terlewatkan oleh para calon pemilih nantinya adalah memperbanyak literasi dan persiapan menjadi pemilih yang cerdas. Hal tersebut amatlah penting untuk memberikan tameng diri terhadap berbagai isu yang ada serta tepat dalam menentukan pilihan.

Djoko menuturkan, pemilih yang cerdas merupakan pemilih yang paham akan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Wajib karena Pemilu adalah salah satu bentuk demokrasi yang harus dilalui setiap warga negara, dan tentunya setiap warga berhak dalam menentukan pilihannya masing-masing tanpa intervensi.

Baca Juga:  PLN UP2D Jateng & DIY Dukung KTT G20 di Bali

Dia menilai hampir sebagian pemilih masih tidak memperhatikan integritas partai dari caranya menentukan kader politik yang dipilih, sehingga berpotensi merugikan bangsa dan negara karena ujung-ujungnya adalah korupsi dan dipenjara.

“Para pemilih ‘sebagian masih membabi buta’ memilih tidak memahami visi-misi partai. Meski setiap partai politik pasti memiliki visi dan misi yang menjadi salah satu dasar utama organisasi,” tutur Djoko Caleg DPRD Jateng Nomor urut 3.

Visi, misi, atau program kerja dari partai politik bisa didapatkan dari berbagai sumber informasi, seperti situsweb resmi mereka. Terkait program kerja, juga bisa membandingkan program kerja mereka Pemilu sekarang dengan sebelumnya dan bagaimana implementasi dari parpol.

Tentunya, tutur Djoko, pemilih harus mengutamakan partai politik yang memilih kader berintegritas. Bahkan untuk menjadi pemilih pemula yang cerdas dan tidak sekedar ikut-ikutan, mengingat suara menentukan arah bangsa ini dimasa depan, untuk itu harus cerdas dan tidak golput. Juga tidak sekedar ikut-ikutan.

Baca Juga:  Unisvet Bermitra Dengan BBPM Pendidikan Jateng Tingkatkan Kompetensi Guru PAUD

Karena menentukan bagaimana Indonesia ke depannya termasuk di Jawa Tengah, lanjutnya, para pemilih pemula tersebut diminta supaya bisa berpartisipasi dalam Pemilu mendatang.

“Kalau tidak berpartisipasi dalam politik, maka juga tidak akan memberikan warna untuk pembangunan bangsa ini. Jangan golput,” ujar Djoko.

Pandangan politik para pemilih pemula ini masih dipengaruhi pandangan orang tuanya, lingkungan, dan informasi dari media sosial. Meskipun mereka ikut dalam perbincangan politik, namun secara keseluruhan pandangan politiknya sangat terpengaruh oleh faktor eksternal dan internal.

“Saya harap pemilih dalam menentukan pilihannya nanti bisa dengan mantap dan sudah punya gambaran. Tidak sekedar ikut-ikutan saja. Kalau punya medsos juga harus pandai memilah informasi apakah itu hoaks atau bukan. Pilihanmu nanti yang akan menentukan bagaimana bangsa ini kedepan,” tuturnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!