Hendi Minta Petani Tak Ekspor Bibit Apokat Black Mamba
SEMARANG[Berlianmedia] – Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Semarang Hendrar Prihadi yang saat ini menjabat sebagai Kepala LKPP RI berada berada di Kota Semarang beberapa waktu lalu. Dia secara khusus bertemu dengan Sudadi dan Amin petani buah di Patemon, Gunungpati yang mengembangkan apokat varian baru bernama Black Mamba.
Dalam kesempatannya berkunjung ke Gebyok Nursery milik Sudadi, dia pun berkesempatan langsung menyicipi langsung apokat yang dikembangkan.
Menurutnya, Apokat Black Mamba yang sangat disukainya, karena rasanya lebih kuat dibanding varian apokat pada umumnya.
“Saya ini sebenarnya bukan termasuk penggemar apokat, tapi ini beda, dagingnya tebal, gurih, dan ada asinnya,” ujar Hendi panggilan akrab Hendrar Prihadi itu.
Dia menambahkan apokat tersebut menariknya kalau yang biasanya dijual hijau dan hitamnya kalau menuju busuk, sedangkan ini dari awal sudah hitam dan justru tidak mudah busuk, jadi cocok untuk ekspor.
Namun di sisi lain, Hendi mewanti – wanti agar yang diekspor hanya buahnya saja dan bukan bibitnya. Pasalnya, menurutnya, bila sampai bibit tersebut diekspor maka bisa dimungkinkan lebih dikembangkan di luar.
“Buahnya saja yang diekspor, jangan bibitnya, nanti kalau bibitnya malah banyak dikembangkan di luar,” tutur Hendi. “Jadi nanti saya titip beberapa pohon saja untuk dibeli dan diberikan teman-teman untuk ditanam,” tuturnya, Senin (5/12).
Sementara itu, Sudadi mengaku senang atas perhatian yang diberikan Hendi dengan datang langsung. Apalagi menurutnya Hendi sampai menyempatkan diri khusus datang ke Semarang untuk mengunjungi lahan pertaniannya.
“Terima kasih karena bapak Hendi sudah mau datang langsung ke sini. Semoga setelah kedatangan beliau akan lebih banyak perhatian dari yang lain pada apokat Black Mamba ini,” ujar Sudadi.
Sedangkan Amin mengatakan jika saat ini varian apokat Black Mamba sedang diajukan untuk disertifikasi oleh BRIN. Harapannya setelah mendapatkan sertifikat, varian apokat yang ditemukannya bersama Sudadi bisa lebih dikembangkan dan diperbanyak lagi.
“Kita sudah mengirimkan permohonan untuk disertifikasi oleh BRIN melalui Dinas Pertanian, semoga saja prosesnya bisa lebih cepat,” tutur Amin.


