Cerpen: Langit Yang Selalu Membuka Jalan

SEMARANG [Berlianmedia] – Aira tengah melewati masa paling genting dalam hidupnya ketika langit mulai memberinya tanda tanda kecil yang dulu tak pernah ia pedulikan. Di tengah pekerjaan yang hilang, ayah yang sakit, dan situasi yang memojokkannya, ia belajar membaca bisikan alam dengan cara baru. Ia tidak menyangka semua itu justru sedang menuntunnya pada sebuah kejutan yang mengubah segalanya.

Pagi itu udara dingin menempel di kulit ketika Aira keluar ke halaman kontrakannya. Langit masih pucat, seperti baru bangun tidur dan belum memutuskan warna apa yang ingin dikenakan hari itu. Ia berdiri memandangi pohon jambu di sudut halaman. Daun daun yang basah sisa hujan semalam tampak berat, tetapi batangnya tetap tegak. Tidak ada keluhan. Tidak ada permintaan agar angin berhenti. Pohon itu hanya menerima setiap hembusan apa adanya.

Aira menarik napas dalam. Andai ia bisa seteguh itu.

Sudah dua minggu ia kehilangan pekerjaannya. Kantor tutup tiba tiba, menyisakan para karyawan dengan pesangon yang bahkan tidak cukup untuk tiga bulan hidup. Tabungan Aira menipis. Sewa kontrakan jatuh tempo sebentar lagi. Ayah di kampung butuh obat yang harganya semakin mahal. Sementara panggilan kerja yang ia harapkan tidak juga datang.

Ia pulang malam sebelumnya dengan langkah lesu setelah wawancara yang tidak meninggalkan kesan apa pun. Hanya tatapan HRD yang sopan tapi hampa, seperti orang yang sudah tahu akan berkata tidak. Semalaman ia memikirkan apa yang harus ia jual dulu jika keadaan tidak membaik. Ponsel kah. Laptop kah. Atau dirinya sendiri sebagai tenaga apa saja selama halal. Tetapi semakin ia memikirkannya, semakin sesak dadanya.

Baca Juga:  Semarak Greget Tradisional Pasar Bulu, Battra SN Kota Semarang Gelar Baksos Pelayanan Kesehatan

Ketika ia berdiri memandangi langit pagi itu, ia merasakan sesuatu yang aneh. Angin berembus lembut seolah sedang menenangkan. Awan tipis bergerak pelan, tidak terburu buru. Ada keteduhan yang sulit dijelaskan, seperti pesan yang tidak memakai kata kata. Aira tiba tiba berpikir bahwa mungkin tidak semua yang bergerak di atas sana hanya sekadar cuaca.

Ia kembali masuk rumah ketika ponselnya bergetar. Pesan dari adiknya. Kondisi ayah sedikit membaik, tetapi harus kontrol lagi pekan depan. Aira duduk lama, kepala menunduk. Lega bercampur cemas. Ia membalas dengan nada ceria yang dipaksakan agar keluarga tidak khawatir.

Hari hari berikutnya berjalan seperti jalan panjang tanpa ujung. Aira mengerjakan pekerjaan kecil di kampus lamanya sebagai panitia seminar. Ia menerima bayaran seadanya demi membeli obat ayah dan bertahan beberapa hari lagi. Saat acara itu berlangsung, ia terus berlari dari satu sudut ke sudut lain. Menata kursi. Membantu pengecekan proyektor. Mengatur peserta yang datang terlambat. Semua ia lakukan tanpa banyak bicara.

Di tengah keramaian, ia melihat seorang dosen tua yang sedang kebingungan dengan laptopnya. Ia mendekat, membantu tanpa diminta. Dosen itu mengucapkan terima kasih singkat, lalu kembali ke aktivitasnya. Aira tidak memikirkan hal itu lagi.

Selepas acara, kampus terasa lengang. Aira menyandarkan tubuh di kursi plastik, menatap langit sore yang mulai jingga. Ada sesuatu pada warna itu yang membuat jantungnya hangat untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu. Tapi hangat itu hanya sebentar, karena malamnya ia menerima email penolakan lagi. Kali ini dari perusahaan yang sangat ia harapkan.

Baca Juga:  Rektor USM Buka Workshop Pemahaman UU TPKS

Aira tidak menangis. Tidak juga marah. Ia hanya duduk di tepi tempat tidur sambil mengusap wajah, merasakan lelah yang tidak bisa digambarkan. Rasanya seperti berdiri di tengah hujan deras yang tidak kunjung selesai.

Namun hidup memang tidak selalu memberi jeda. Dua hari kemudian, kampus memintanya datang. Bu Sari mengabari bahwa ada seseorang yang ingin bertemu. Ketika Aira melangkah masuk ke ruang dosen, ia melihat pria paruh baya dengan mata yang tajam tetapi bersahabat. Namanya Pak Wahyu. Pimpinan sebuah yayasan pendidikan yang sedang membuka program baru.

Tanpa banyak basa basi, pria itu berkata bahwa ia memperhatikan cara Aira bekerja saat acara seminar. Ia menyukai ketenangannya, cara ia menyelesaikan masalah kecil tanpa menunggu instruksi, dan kesediaannya menolong siapa pun. Ia menawarkan posisi koordinator program. Resmi. Bergaji tetap. Bekerja dengan tim yang sudah disiapkan.

Aira terpaku. Ia tidak pernah membayangkan hal sesederhana menjadi panitia seminar bisa membawa seseorang memperhatikannya secara serius. Matanya memanas. Untuk pertama kalinya dalam berminggu minggu, ia merasa seperti seseorang yang dihargai lagi.

Setelah perbincangan panjang, ia keluar dari kampus dengan langkah yang terasa lebih ringan. Pohon pohon tampak lebih hijau. Udara lebih lembut. Langit biru bersih seperti lembaran baru. Ia hampir tidak percaya hidup bisa berubah hanya dalam hitungan menit.

Namun kejutan hari itu belum selesai.

Dalam perjalanan pulang, ponselnya berbunyi. Nomor tidak dikenal. Aira mengangkat dengan suara setenang mungkin.

Suara dari seberang terdengar hati hati. Perusahaan Arunika Media meminta maaf atas kesalahan sistem dalam seleksi yang lalu. Nama Aira seharusnya masuk daftar terpilih. Mereka ingin menawarkannya posisi itu kembali. Ia boleh mulai minggu depan jika masih berminat.

Baca Juga:  Sidak Candi Borobudur, Ganjar Pastikan Kesiapan Fasilitas dan Pelayanan Libur Lebaran

Aira berhenti berjalan. Jalanan sore itu ramai, tetapi suara kendaraan seperti menghilang. Ia berdiri di trotoar sambil menatap langit yang entah sejak kapan berubah menjadi keemasan. Ada rasa haru. Ada syukur. Ada bingung. Ada takut salah memilih. Ada perasaan seperti sedang berada di persimpangan takdir yang selama ini hanya ia lihat dalam cerita orang lain.

Ia memejamkan mata. Dalam gelap itu, ia teringat pohon jambu di halaman rumah kontrakan. Akar yang tak tampak tetapi kuat. Batang yang tetap berdiri meski angin datang bergantian. Ia teringat suara hujan yang dulu membuatnya merasa kalah, kini justru terasa seperti irama yang menenangkan.

Dan ia baru paham sesuatu.

Langit tidak pernah berjanji bahwa hidup akan mudah. Tapi langit juga tidak pernah menutup jalan bagi siapa pun yang terus berdiri dan melangkah, meski pelan, meski gemetar.

Ketika ia membuka mata, langit tampak luas, jauh lebih luas dari masalah apa pun yang pernah ia takuti.

Dan di saat itulah ia benar benar mengerti bahwa harapan bukan sesuatu yang harus dikejar, melainkan sesuatu yang mendekat ketika seseorang tidak berhenti mencoba.

Aira tersenyum. Keputusan ada di tangannya. Hidup akhirnya kembali menghadap padanya, bukan lagi memunggunginya.

Namun yang paling mengejutkan bukan dua tawaran itu.

Yang paling mengejutkan adalah kesadaran baru yang terbit dalam dirinya.

Bahwa ternyata selama ini, langit tidak pernah diam. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk berbicara.

Dan kini, Aira siap mendengarnya.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!