Cerpen: Ayam Tanpa Kepala dan Penjaga Rahasia

SEMARANG [Berlianmedia] – Surti awalnya hanya mengeluhkan pesanan ayam goreng dari warung Ki Mbok yang datang tanpa kepala dan masih berbulu. Namun keganjilan itu menyeretnya pada kisah lama yang selama ini terkubur di dusun Pinggir Alas—kisah tentang batas yang tidak boleh dilanggar, penjaga yang tidak boleh disentuh, dan rahasia keluarga yang kembali menagih janji.

Surti tidak pernah memikirkan bahwa urusan sederhana seperti pesanan ayam goreng bisa menjadi awal dari malam paling panjang dalam hidupnya. Sore itu, ia baru saja membuka bungkusan dari warung Ki Mbok ketika seruan keras meluncur dari bibirnya.

“Ya Allah, kok kayak gini iki? Ayam opo iki? Kepalane ora ana, bulune isih meler kabeh!”

Ia mendesah frustrasi, memotret ayam itu, lalu mengirim pesan protes ke Ki Mbok. Biasanya Ki Mbok telaten, bersih, dan rapi dalam memasak; ini benar benar di luar kebiasaan.

Saat Surti menunggu balasan, ia merasakan sesuatu yang menggelitik di benaknya. Aroma ayam itu berbeda. Bukan bau minyak, bukan bau bumbu. Lebih seperti aroma rumput basah yang lama terkubur.

Ia mengerutkan dahi. “Aneh.”

Langkah Mak Tiwi yang tergesa terdengar di luar. Wanita tua itu muncul sambil menenteng keranjang sayur, wajahnya jelas tak tenang.

“Koe nampa ayam saka Ki Mbok, to?” tanya Mak Tiwi.

“Iya. Tapi kok”

Mak Tiwi memotong. “Bentuké persis kaya sepuluh taun kepungkur. Aku ngelingi banget.”

Surti menajamkan pendengaran. “Ngelingi apa?”

Mak Tiwi menggigit bibir. “Neng desa iki, dulu ada kejadian aneh. Ayam tanpa kepala muncul sak wancine. Kabeh wong wedi. Tapi… luwih becik ora tak critani saiki.”

Baca Juga:  Gandeng BPIP, Gubernur Jateng Dukung Pembumian Pancasila di Jateng

“Kenapa?” Surti menatapnya curiga.

Mak Tiwi tak menjawab. Ia hanya memandang hutan kecil di belakang desa Alas Kenthel lalu berkata pelan, “Jaga omongan, Surti. Ora semua sing hilang kepalanya itu mati.”

Kata kata itu menggantung seperti embun dingin.

Malamnya, Surti memutuskan membuang ayam itu. Namun ketika ia mengangkat bungkusnya, tubuh ayam itu terasa aneh hangat, seperti baru digoreng, padahal sudah hampir empat jam.

Surti memegangnya sebentar, dan ia hampir menjatuhkannya. Ada sesuatu seperti denyut, pelan tapi jelas.

“Aduh, jangan bercanda, Mbok…” gumamnya gemetar.

Ayam itu bergeser sedikit, seperti ada sesuatu di dalamnya yang ingin keluar. Surti langsung melemparkannya ke lantai. Ayam itu jatuh dengan bunyi keras, tapi saat Surti hendak lari, ia menoleh kembali dan melihat tubuh ayam itu perlahan berdiri tegak. Tanpa kepala. Tanpa arah. Hanya tubuh, namun seolah memiliki ingatan untuk pulang.

Surti menjerit.

Pak Jatmiko, suaminya, segera muncul membawa senter. “Apa iki?”

“Tuh… tuh, Pak! Ayamnya… gerak!”

Pak Jatmiko menyorotkan senter. Tubuh ayam itu berdiri kaku, bulu bulu di sayapnya bergerak kecil seperti tertiup angin.

Sebelum mereka mendekat, terdengar ketukan di pintu. Tiga kali. Pelan tapi tegas.

Pak Jatmiko membuka pintu dan terperangah. Di depan mereka berdiri Ki Mbok, memeluk sesuatu dengan kain lusuh. Wajahnya pucat, matanya gelap seperti kurang tidur berminggu minggu.

“Mbok… nopo?” tanya Surti dengan suara bergetar.

Ki Mbok membuka kain itu. Di dalamnya, kepala ayam. Masih lembap, masih segar.

Baca Juga:  Polemik Ijazah Presiden: Ketika Opini Publik Beradu dengan Fakta Hukum

“Aku kudu ngulang kesalahan iki,” kata Ki Mbok lirih. “Ayam itu… bukan ayam biasa. Ini penjaga keluargaku. Sejak dulu, penjaga garis kami.”

Surti dan Jatmiko saling pandang.

Ki Mbok melanjutkan, “Nenekku dulu dukun penyembuh. Ia memelihara seekor ayam khusus, ayam yang tugasnya menahan satu roh dari dunia lain agar tidak pulang. Ayam itu tidak boleh dipotong. Tidak boleh disentuh. Tidak boleh dibawa keluar dari halaman rumah kami.”

Suara Ki Mbok serak ketika ia berkata, “Aku pikir penjaga itu sudah hilang, soalnya kandang lama kami dibakar saat banjir besar sepuluh tahun lalu. Tapi tadi malam… aku mendengar suara di halaman. Ada ayam masuk pelan pelan. Aku kira ayamnya Surti. Aku goreng saja. Tapi pas subuh… ada suara memanggilku dari arah kandang lama.”

Surti merinding. “Suara siapa?”

Ki Mbok menutup mata. “…suara anak kecil.”

Ruang itu mendadak terasa lebih dingin.

Tiba tiba, ayam di lantai bergerak. Tubuh tanpa kepala itu melangkah kecil ke arah Ki Mbok, seperti menuntut kepalanya kembali.

Surti memeluk lengan suaminya. “Kita lapor Pak Dukuh aja, Pak!”

Namun Ki Mbok menahan. “Ora usah. Kalian jangan keluar. Yang nyusul bukan manusia.”

Belum sempat Surti bertanya, suara berbisik muncul di dekat jendela.

“Simbok…”

Surti menoleh cepat. Di luar jendela, berdiri sosok anak kecil berambut kusut, kulitnya pucat keabu abuan, dan matanya kosong tanpa kilau. Ia menatap Surti dan Ki Mbok seolah telah mengenal mereka lama sekali.

Baca Juga:  Pangdam IV/Diponegoro Pimpin Upacara Penutupan Dikmata Infanteri TNI AD TA 2025 di Klaten

“Mbok… kepalaku bali, to?”

Ki Mbok tersentak mundur. “Iyo, Nduk… tapi… kamu mestine ora iso bali…”

Anak itu melangkah masuk ke rumah tanpa membuka pintu. Bayangannya tidak muncul di lantai.

“Sepuluh tahun lalu,” katanya lirih, “kalian kira aku hanyut. Kalian kubur baju dan bonekaku, bukan badanku.”

Jantung Surti serasa berhenti berdetak.

Anak itu menunjuk ayam tanpa kepala yang sedang merangkak mendekati kepala yang dibawa Ki Mbok.

“Itu penjagaku. Selama penjaga itu hidup, aku tidak boleh kembali. Tapi… kalian membakarnya.”

Ki Mbok menggigil. “Aku… aku pikir itu hanya kandang kosong…”

“Tidak,” jawab anak itu. “Itu penjara.”

Ayam itu tiba tiba menyatu dengan kepalanya. Ada suara letupan kecil seperti daun kering dibakar. Cahaya redup memancar, membuat anak itu menjerit marah suara yang terdengar bukan satu suara, tetapi seperti dua atau tiga suara tumpang tindih.

Surti menunduk, menutup telinga. Pak Jatmiko merangkul istrinya.

Ketika cahaya itu padam, anak itu lenyap.

Ayam itu juga hilang.

Ruangan menjadi sunyi. Hanya bulu bulu ayam tersisa di lantai.

Ki Mbok terduduk, menangis keras. “Aku sing salah… aku sing nyuwek batas iki…”

Surti hendak menenangkan, tetapi ponselnya bergetar.

Ada satu pesan masuk.

Nomornya tak dikenal.

Pesan itu berisi foto ruang tengah rumahnya diambil dari sudut gelap. Surti membesarkan gambar itu, jari tangannya gemetar.

Di pojok foto, tampak anak kecil tadi berdiri.

Ia menatap kamera sambil tersenyum dingin.

Di bawah foto, ada pesan pendek:

“Penjagamu wis ilang.”

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!