Cerita Heroik di Balik Pekerja Perbaikan Jalan

TEMANGGUNG[Berlianmedia] – Di tengah gencarnya perbaikan jalan di wilayah Jateng, ada cerita heroik dari pekerja lapangan. Para pekerja harus siaga selama 24 jam, hingga tidak mengenal istilah libur.

Sarmono, petugas pengamat jalan Balai Pengelolaan Jalan (BPJ) Wilayah Wonosobo setiap waktu melakukan pemantauan di ruas jalan Kranggan-Bulu, Pringsurat-Kaloran, dan Parakan-Patean, Kabupaten Temanggung.

Bukan hanya badan jalan, tapi juga memastikan kondisi saluran, drainase, gorong-gorong, jembatan, dan bahu jalan. Sebab, jika terjadi kerusakan harus segera dilaporkan, agar mendapat penanganan secara cepat.

“Istilahnya, saya itu menyetrika jalan setiap waktu, dan, tidak ada libur. Jangan sampai ada kerusakan yang dapat mengganggu pengguna jalan,” ujar pria yang erusia 53 tahun itu, Jumat (17/3).

Dia merasa bersalah jika terjadi kecelakaan akibat jalan rusak di wilayah pantauannya, sehingga, dia tetap menyusuri jalan meski dalam kondisi sakit sekalipun.

Baca Juga:  Pemulihan Ekonomi Jateng Triwulan II/2022 Melejit Lebih Kuat

“Kalau sakit tetap bekerja memantau jalan dengan naik angkutan umum. Seperti saat ini, tangan saya keseleo dan tidak bisa mengendarai motor sendiri,” tuturnya.

Di dalam bus, pandangannya mengamati detil setiap ruas jalan yang dilintasinya. Jika menemukan kerusakan, dia langsung turun untuk memotret dan memberikan tanda pakai cat pilox, untuk kemudian dilaporkan. Setelah itu, dia naik angkutan dan kembali menyusuri jalan.

“Saya sudah sembilan tahun bekerja seperti ini. Bagi saya kenyamanan dan keselamatan warga di jalan, adalah tanggung jawab utama pekerjaan ini,” ujarnya.

Begitu pula dengan cerita Setyo Purwanto (37), seorang kelompok masyarakat miskin sehat bina marga (Pokmas Bima) Provinsi Jawa Tengah. Pekerjaannya sangat lekat dengan aspal.

“Setiap hari mengaspal jalan, apalagi waktu ada banyaknya laporan jalan rusak dan menjelang Ramadan dan mudik,” ujarnya.

Baca Juga:  Gubernur Mengajar, Ganjar Beberkan Tantangan Masa Depan

Menurutnya, pekerjaan memperbaiki jalan bukan soal seberapa gaji yang diterima, melainkan kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan.

“Kebahagiaan saya adalah warga bisa berangkat kerja dengan semangat, dan pulang dengan selamat,” ujar warga Desa Traji, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung ini.

Pekerjaan memperbaiki jalan juga tidak mengenal waktu. Malam sekalipun jika harus dilakukan perbaikan, ia kembali bergelut dengan aspal kembali.

“Tidak ada jam berapa kerjanya. Setiap waktu harus siaga. Kalau ada laporan jalan rusak kami siap perbaiki. Jadi, kalau ada perbaikan jalan di ruas Jalan Bulu, mungkin salah satu pekerjanya adalah saya. Bahkan kami komitmen sesuai arahan Pak Ganjar, Jateng Tanpa Lubang,” tuturnya.

Seperti diketahui, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menginstruksikan dinas terkait untuk mengebut perbaikan jalan. Bahkan dia kerap meninjau langsung lokasi-lokasi perbaikan jalan.

Baca Juga:  Harapan Timnas U23 Indonesia Lolos Olimpiade 2024 Ditentukan Melawan Guinea

Berdasarkan data aduan di Laporgub periode 1 Januari-13 Maret 2023, aduan infrastruktur paling banyak. Aduan mengenai jalan rusak berada pada peringkat teratas. Keluhan mengenai jalan kabupaten/kota sejumlah 1.663 aduan, jalan desa/kelurahan ada 1.021 aduan, dan jalan provinsi sebanyak 651 aduan.

Mari Berbagi:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!