Belajar dari Samberembe : Komisi B Dorong Replikasi Mina Padi untuk Kemandirian Pangan dan Kesejahteraan Desa
SLEMAN [Berlianmedia]– Upaya memperkuat ketahanan pangan, tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Seperti di Dusun Samberembe, Desa Candibinangun, Kecamatan Pakem, Sleman, Yogyakarta, sebuah model pertanian terpadu justru tumbuh dari desa dan memberi dampak nyata bagi warga.
Hal itu yang dipelajari Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, saat melakukan kunjungan kerja, ke Desa Wisata Mina Padi Samberembe di Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (4/3).
Di atas lahan seluas sekitar lima hektare, warga mengembangkan sistem mina padi, menggabungkan budi daya padi dan ikan nila dalam satu hamparan sawah. Model ini bukan sekadar inovasi teknis, melainkan pendekatan ekologis dan ekonomis yang menempatkan petani sebagai subjek pembangunan.
Anggota Komisi B, Yusuf Hidayat menegaskan, bahwa kunjungan tersebut bertujuan menggali praktik baik yang bisa direplikasi di Jawa Tengah.
“Kami ingin belajar langsung bagaimana sistem mina padi ini berjalan. Bukan hanya soal hasil panen, tetapi bagaimana tata kelola, pemberdayaan masyarakat dan dampak ekonominya. Ini penting sebagai referensi penguatan ketahanan pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan desa,” ujarnya.
Anggota Komisi B lainnya, M Farchan menilai, model Samberembe merupakan contoh nyata, bagaimana inovasi lokal mampu menjawab tantangan global seperti krisis pangan dan perubahan iklim.

“Desa wisata jangan hanya dimaknai sebagai tempat rekreasi. Ia bisa menjadi pusat edukasi, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan kemandirian pangan. Praktik baik seperti ini perlu kita dorong agar bisa tumbuh di Jawa Tengah,” tegasnya.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari advokasi kebijakan berbasis pengalaman lapangan. Dengan belajar langsung dari masyarakat, Komisi B berharap, dapat mendorong regulasi dan dukungan anggaran yang lebih berpihak pada petani, nelayan dan pelaku usaha desa.
Rombongan turut didampingi Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Pertanian serta Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci, jika model serupa ingin dikembangkan secara berkelanjutan.
Dirintis Sejak Tahun 2011
Pendiri desa wisata tersebut, Gunarto menjelaskan, bahwa konsep mina padi dirintis sejak tahun 2011, sebagai desa wisata edukasi berbasis pertanian terpadu. Sistem ini memungkinkan panen ganda dalam satu siklus tanam, padi dan ikan, yang saling menguntungkan secara alami.
Kotoran ikan menjadi pupuk organik bagi padi, sementara tanaman padi membantu menjaga kualitas air bagi ikan.
Manajer pengelola, Fransiskus Ero, menambahkan, bahwa kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai lahan produksi, tetapi juga ruang belajar.
“Pengunjung bisa melihat langsung proses mina padi, memberi pakan ikan, hingga memahami teknologi pertanian terpadu. Ada kolam pemancingan dan kuliner berbasis hasil panen. Jadi nilai tambahnya tidak hanya di produksi, tetapi juga edukasi dan wisata,” jelasnya.
Pendekatan ini memperlihatkan, bahwa desa wisata dapat bertransformasi menjadi pusat pembelajaran pangan berkelanjutan. Tanah menjadi lebih subur, biaya pupuk kimia dapat ditekan, produktivitas meningkat dan pendapatan warga bertambah melalui sektor wisata serta kuliner.
Keberhasilan Mina Padi Samberembe menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberi ruang berinovasi dan didukung kebijakan yang tepat, desa mampu menjadi lokomotif ketahanan pangan sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.


