Apresiasi Desa Nol AKI-AKB, Ganjar Sumbang Ambulans ke Desa Jragung
DEMAK[Berlianmedia] – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyanggupi permintaan kepala desa dan bidan desa Jragung untuk memperoleh bantuan mobil ambulans. Bantuan itu diberikan karena Desa Jragung dinilai sukses mengawal ibu hamil dan kesehatan anak sehingga angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian balita (AKB) nol, alias tidak ada. Padahal, lokasi Desa Jragung sangat jauh untuk mengakses fasilitas kesehatan.
“Oh ya, tadi ada satu desa yang cukup terpencil, tapi saya surprise sih karena desanya ternyata angka kematian ibu melahirkan nol, angka kematian balita nol. Ini keren, ya kita kasih hadiah lah, ambulans. Biar nanti itu punya fasilitas untuk bisa menolong,” ujar Ganjar seusai menghadiri Musrenbangwil Kedungsepur di Wisma Halim, Kabupaten Demak, Selasa (14/3).
Sebelumnya, saat berdialog dengan masyarakat pada musrenbangwil Kedungsepur, Ganjar mendapatkan permintaan dari Kepala Desa Jragung Eddy Susanto dan bidan Desa Jragung Erni Budiastuti.
Eddy menyampaikan kepada Ganjar desanya jauh dari rumah sakit karena berada di dekat hutan. Mereka kesulitan membawa ibu hamil dengan risiko tinggi apabila membutuhkan penanganan medis.
“Kami mau minta bantuan ambulans pak. Ada mobil siaga tetapi tidak ada peralatan medisnya untuk pertolongan pertama sebelum sampai rumah sakit,” tutur Eddy yang mengikuti Musrenbangwil secara daring.
Hal yang membuat Ganjar akhirnya meluluskan permintaan itu ketika mendengar penjelasan dari bidan desa bahwa angka AKI-AKB di Jragung nol. Stunting di desa tersebut juga berhasil diturunkan sehingga saat ini hanya tinggal 12 anak stunting.
“Ya, nanti saya bantu ambulans untuk Désa Jragung,” ujar Ganjar.
Hal lain yang juga menjadi perhatian Ganjar adalah dengan perwakilan dari kelompok perempuan nelayan Puspita Bahari, Masnuah. Ganjar mendapatkan aduan bahwa di Dukuh Timbulsloko, Demak, akses jalannya terputus karena rob. Masnuah menceritakan dampak dari terputusnya akses itu adalah kesulitan mengakses fasilitas kesehatan.
“Di beberapa tempat tadi ada yang daerahnya terpencil, beberapa di antaranya jauh apalagi kena rob, itu ada ibu hamilnya. Pak kita sulit pak, kita butuh semacam puskesmas terapung, ini kan mahal,” tutur Ganjar sambil menirukan cerita Masnuah.
Hal itu kemudian langsung direspons oleh Ganjar dengan menerjunkan tim medis yang akan memberikan pelayanan kesehatan gratis di Dukuh Timbulsloko. Ganjar meminta kepada Masnuah untuk mendata ada berapa ibu hamil dan tingkat risikonya.
“Sudah, gini aja sekarang, berapa jumlah ibu hamil tolong bantu didata, kami yang kemudian datang. Maka kaya tadi satu kami minta ok, kalau begitu besok kami buat pengobatan gratis di sana kumpulkan. Nggak usah lama-lama, besok,” ujar Ganjar.
Ganjar menambahkan, pendataan ibu hamil melalui program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng) itu dapat betul-betul dilakukan. Khususnya di desa terpencil atau yang kesulitan mendapatkan akses fasilitas kesehatan.
“Umpama itu ibu-ibu hamilnya betul-betul didata problemnya apa, ada di mana, yang risiko tinggi, kemudian kita jemput. Kalau perlu menjelang kelahiran gitu ya, kita ungsikan. Jadi tindakan-tindakan yang konkret, yang nyata, pasti akan menyenangkan masyarakat, dengan keterlibatan mereka yang sebanyak-banyaknya,” tutur Ganjar.


